DKM Hidayatullah Patria Jaya
"Masjid: Tempat Meraih Kemenangan Dunia Akhirat."
image

Bagian 47 


Hisyam bin Amr 

Hisyam bin Amr berjalan bolak-balik di depan rumahnya sambil menggerutu, "Tiga tahun 

sudah Bani Hasyim diasingkan! Padahal, mereka masih bersaudara dengan suku-suku 

Quraisy yang lain. Ada yang sebagai sepupu, ipar, paman, bibi.

Kalau saja tidak ada aku dan beberapa orang lain yang suka menyelundupkan makanan 

dengan diam-diam, Bani Hasyim tentu sudah kelaparan! Sudah saatnya aku harus berbuat 

sesuatu!" 



Dengan tekad demikian, Hisyam bin Amr pergi menemui sahabatnya, Zuhair bin Umayyah. 

Zuhair adalah adalah anggota bani Makhzum, tapi bibinya adalah Atikah binti Abdul 

Muthalib dari Bani Hasyim. 

"Zuhair," tegur Hisyam, 

"Aku heran engkau masih bisa tenang menikmati makanan, pakaian, dan lainnya, padahal 

engkau tahu keluarga ibumu dikurung sedemikian rupa hingga tidak boleh berhubungan 

dengan orang lain, tidak boleh berjual beli, tidak boleh saling menikahkan! Aku bersumpah 

kalau mereka itu keluargaku dari pihak ibuku, keluarga Abdul Hakam bin Hisyam, lalu diajak 

untuk mengasingkan mereka, tentu aku tolak mentah-mentah!" 

Zuhair terperangah, 

"Sebetulnya sudah lama sekali persoalan ini meresahkan hatiku," kata Zuhair kemudian. 

"Jadi apa lagi yang engkau tunggu?" tanya Hisyam. 

Keduanya pun sepakat untuk bersama-sama membatalkan piagam kejam itu. Namun, itu 

tidak cukup. Mereka harus mendapat dukungan juga dari yang lain. 

Kemudian, secara rahasia malam itu juga mereka menemui Mut'im bin Adi dari Bani Naufal, 

Abu Al Bakhtary bin Hisyam, dan Zam'a bin Aswad dari Bani Asad. Kelima orang itu 

membulatkan tekad untuk membatalkan piagam yang telah tiga tahun dipasang di dinding 

Ka'bah. 



Merobek Piagam 

Esok harinya, Zuhair mengelingi Ka'bah tujuh kali seraya berseru, "Hai penduduk Mekah! 

Kamu sekalian enak-enak makan dan berpakaian, padahal Bani Hasyim binasa, tidak bisa 

membeli atau menjual sesuatu pun! Demi Allah, saya tidak akan duduk sebelum piagam 

yang kejam ini dirobek!" 

Ketika itu, Abu Jahal berada tidak jauh dari tempat Zuhair, dengan cepat, datang 

menghampiri sambil berteriak, 

"Engkau pendusta! Demi Allah, piagam itu tidak boleh dirobek!" 

"Jika Zuhair engkau sebut pendusta, engkau jauh lebih pendusta!" balas Zam'a bin Aswad, 

"Sebenarnya dulu pun saat piagam itu ditulis, kami tidak rela!" 

"Zam'a benar!" dukung Abu Al Bakhtary, 

"dulu kami tidak rela terhadap penulisan piagam itu dan kami pun tidak ikut 

menetapkannya!" 

"Zam'a dan Abu Al Bakhtary benar!" sahut Mut'im bin Adi, 

"dan siapa yang berkata selain itu dialah sang pendusta.


"Kami menyatakan kepada Allah untuk membebaskan diri dari piagam itu dan apa yang 

tertulis di dalamnya!" 

Mata Abu Jahal berkilat-kilat dan bahunya gemetar menahan marah. 

"Kalian pasti sudah bersekongkol tadi malam!" tuduhnya. 

"Kalian diam-diam berkumpul ditempat tersembunyi dan memutuskan untuk mengingkari 

piagam bersama ini!" 

Perang mulut hampir memuncak ketika Abu Thalib yang ketika dari tadi diam di pojok, 

berjalan mendatangi mereka. Sikapnya yang tenang membuat orang-orang yang sedang 

bertengkar terdiam. 

Mereka memandang Abu Thalib dan menanti yang akan dikatakan pemimpin Bani Hasyim 

itu. 

"Semalam Muhammad menyampaikan sebuah pesan kepadaku mengenai piagam itu, 

"demikian kata Abu Thalib. 

Rayap yang Diutus Allah 

"Muhammad menyampaikan kepadaku bahwa Allah telah mengutus rayap untuk 

memusnahkan piagam itu", lanjut Abu Thalib dengan tenang. 

Orang-orang itu saling pandang dengan rasa heran bercampur takjub. Benarkah kabar ini? 

Abu Thalib cepat berkata lagi, 

"Jika kemenakan ku itu berbohong, kita biarkan apa yang ada di antara kalian dan dia. 

Biarlah kami menanggung pengasingan selamanya. Namun jika Muhammad benar, kalian 

harus berhenti memboikot dan berbuat semena-mena terhadap kami." 

Tampak sekali Abu Thalib sangat yakin dengan perkataannya sehingga bersedia 

menanggung boikot sampai mati jika perkataan Rasulullah tidak benar. 

Semua orang terdiam. Mereka terharu sekaligus mengagumi rasa saling percaya dan 

kesetiaan yang demikian tinggi antara Abu Thalib dan Rasulullah. 

"Baiklah, engkau adil," kata mereka, 

"kami terima perkataanmu tadi, Abu Thalib." 

Berbondong-bondong, mereka pergi ke Ka'bah dan menemui bahwa yang dikatakan 

Rasulullah memang benar. Rayap telah memakan isi piagam itu, kecuali sebagian kecil yang 

bertuliskan "Bismika allahumma (Dengan nama-Mu ya Allah)." 

Demikianlah, akhirnya piagam itu dibatalkan. Rasulullah dan keluarganya kini bisa kembali 

berada di tengah-tengah masyarakat seperti semula.


Apakah kini Rasulullah dan para pengikutnya bisa bernafas lebih lega? Apalagi adanya 

kekuasaan Allah melalui rayap, mungkinkah hati orang-orang musyrik berubah? Ternyata 

sama sekali tidak! Justru kekufuran mereka semakin menjadi-jadi. Mereka itu seperti yang 

tercantum dalam firman Allah: 



Dan jika mereka (orang-orang musyrikin) melihat suatu tanda (mukjizat), mereka berpaling 

dan berkata: (Ini adalah) sihir yang terus menerus. 

Surah Al-Qamar (54:2) 

Bulan-Bulan Suci 

Ada empat bulan suci dalam setahun ketika Rasulullah dan kaum Muslimin dibebaskan dari 

pemboikotan. Bulan-bulan suci itu adalah bulan pertama, Muharram (saat diharamkannya 

kekerasan), lalu bulan ketujuh, Rajab (yang dihormati), kemudian bulan kesebelas, 

Dzulqa'dah (bulan damai), terakhir bulan kedua belas Dzuhijjah (bulan haji). 

Tetap Berdakwah 

Bulan-bulan suci (Muharram, Rajab Dzulqa'dah, Dzulhijjah) itulah dimanfaatkan Rasulullah 

untuk semakin giat berdakwah selama pemboikotan.



Bagian 48 


Ketegaran Tiada Banding 

Suatu ketika, di tengah jalan, Rasulullah berpapasan dengan Umayyah bin Khalaf. Umayyah 

bin Khalaf adalah seorang pemuda berperangai buruk. Ia suka bermusuhan dan tidak punya 

rasa takut kepada siapa pun. Sekali pun Umar bin Khatthab dan Hamzah bin Abdul Muthalib 

telah bergabung dengan pasukan kaum Muslimin. Umayyah menganggap enteng-enteng 

saja. Dia bahkan telah sesumbar akan membunuh Rasulullah dengan tangannya sendiri. 

Oleh karena itu, ketika berpapasan dengan Rasulullah, Umayyah langsung menggertak 

sambil menunjuk kuda yang dituntunnya, "Aku beri makan kuda ini, tidak lain adalah untuk 

membunuhmu!" 

Rasulullah menatap Umayyah dengan tajam sambil membalas cepat, "Tidak, justru akulah 

yang akan membunuhmu dengan izin Allah."


Kini Rasulullah tidak segan lagi menjawab setiap ejekan dan ancaman orang-orang Quraisy. 

Beliau semakin gencar dan tekun berdakwah tanpa memperdulikan resikonya lagi. 

Keberanian Rasulullah ini meruntuhkan wibawa musuh-musuh beliau yang selama ini selalu 

membangga-banggakan diri. 

Masyarakat kecil perlahan mulai terpengaruh dengan keberanian Rasulullah ini. Mereka 

merasa, jika bergabung dengan kaum Muslimin, mereka tidak akan diejek dan disakiti 

semena-mena lagi. Kekukuhan hati Rasulullah dalam menghadapi bahaya merambah ke hati 

orang-orang yang tertindas. 

Suatu hari, seorang pria asing menjerit, "Wahai orang-orang Quraisy! Adakah orang yang 

bersedia menolong diriku? Hakku dirampas oleh Amr bin Hisyam (Abu Jahal)! Aku adalah 

pendatang dan telah dilakukan sewenang-wenang!" 

Siapa orang Quraisy yang berani menantang keganasan Abu Jahal untuk menolong laki-laki 

malang ini? 

Keberanian Rasulullah 

Memang tidak ada yang berani! Tidak seorang pun! Namun, mereka menyarankan kepada 

laki-laki asing itu, 

"Carilah Muhammad dan minta tolong kepadanya." 

Walau menyarankan begitu, hampir semua orang yakin, Rasulullah akan mampu 

melakukannya. Semua tahu bahwa Abu Jahal adalah musuh Rasulullah yang paling jahat dan 

beringas. 

"Ada apa, Saudara? Apa yang bisa kubantu?" Demikian sapa Rasulullah ketika orang asing 

itu datang. 

"Tuan, aku adalah orang asing di sini. Amr bin Hisyam tidak mau membayar unta yang dibeli 

dariku!" 

Rasulullah mengajak lelaki itu ke rumah Abu Jahal. Melihat mereka, orang-orang tertawa 

gaduh. Mereka yakin Muhammad tidak akan punya cukup keberanian untuk menghadapi 

Abu Jahal. Muhammad pasti akan mengecewakan laki-laki asing itu. Mereka bersiap-siap 

melontarkan ejekan paling menyakitkan untuk meruntuhkan wibawa Rasulullah di hadapan 

para pengikutnya. 

Ketika Rasulullah dan orang asing itu tiba di rumah Abu Jahal, ia sedang berada ditengah

tengah budak dan para penunggang kudanya. Tiba-tiba pintu diketuk dengan keras. Wajah 

Abu Jahal memerah menahan marah, 

"Siapa yang berani mengetuk pintuku sekeras itu? Tidak tahu dia kalau aku sedang bersama 

bawahanku! Dengan mudah, mereka bisa kusuruh melumatkan orang itu!" 



Abu Jahal membuka pintu dan terkejut melihat Rasulullah di depannya. Saat itu wajah 

Rasulullah tampak sangat penuh percaya diri. Hati beliau sudah bulat untuk membela orang 

yang teraniaya ini. 

Abu Jahal tidak berkata sepatah kata pun. Ia masuk ke rumah dan keluar lagi untuk 

membayar pembelian unta laki-laki asing itu. 

Orang asing itu sangat berterimakasih kepada Rasulullah. Ia segera pergi dan bercerita 

kepada orang-orang di sekitar Ka'bah. Mau tidak mau, keberanian Rasulullah ini 

menimbulkan rasa kagum di hati mereka. Mereka yang tadi sudah siap mengejek pun 

membubarkan diri dengan perasaan bercampur aduk, kesal, geram, tetapi sekaligus hormat 

dan kagum. 

Laki-laki dari Suku Ghifar 

Kabar tentang ajaran Islam sudah mulai menyebar ke seluruh pelosok Jazirah Arabia. Suatu 

hari, datanglah seorang laki-laki berwajah ramah dan bijaksana. Abu Thalib melihatnya, lalu 

menegur, "Sepertinya Anda laki-laki asing?" 

"Betul, namaku Abu Dzar dari suku Ghifar." 

Sebelum datang sendiri, Abu Dzar mengutus seorang saudaranya untuk mencari tahu 

tentang Rasulullah. Sesudah melihat apa yang dilakukan Rasulullah, saudara Abu Dzar 

melaporkan, 

"Demi Allah, aku telah melihat orang menyuruh kepada kebaikan dan mencegah dari 

keburukan." 

Karena belum puas dengan berita itu, Abu Dzar pun datang ke Mekah. Ali bin Abu Thalib 

mengajak Abu Dzar bermalam di rumahnya. Esok harinya, Ali bertanya kepada Abu Dzar, 

"Jika Anda tidak berkeberatan bercerita, apa yang mendorong Anda datang ke negeri ini?" 

"Kalau Anda berjanji untuk merahasiakannya, aku akan menceritakannya." 

Ali mengangguk. 

Kemudian, Abu Dzar berkata, 

"Di kampungku, kami mendengar tentang seseorang yang bernama Muhammad. Orang 

mengatakan bahwa ia membawa ajaran baru. Aku ingin menemuinya. Namun, aku tahu 

pemerintah Quraisy akan menindak setiap orang asing yang sengaja menemuinya." 

"Ikuti saya," bisik Ali bin Abu Thalib, masuklah ke tempat saya masuk. Jika saya melihat 

orang yang saya khawatirkan akan mengganggu keselamatan Tuan, saya akan merapat ke 

tembok dan Tuan silahkan berjalan terus."


Malam itu juga, Abu Dzar bertemu Rasulullah. 

"Hatiku sangat pedih melihat orang-orang kaya yang congkak, budak-budak yang sengsara, 

kaum perempuan yang tertindas, kaum miskin yang tidak mampu berbuat apa-apa. Apa 

yang Islam tawarkan untuk mengatasi semua ini?" tanya Abu Dzar. 

Rasulullah menjawab semua pertanyaan itu sampai Abu Dzar merasa sangat puas. Saat itu 

juga, Abu Dzar menyatakan keimanannya dengan semangat menggelora. 

Ketika Abu Dzar berpamitan, Rasulullah berpesan. 

"Wahai Abu Dzar, kembalilah ke masyarakatmu. Kabarkanlah kepada mereka ajaran Islam, 

dan rahasiakanlah pertemuan kita ini dari penduduk Mekah karena aku khawatir mereka 

akan mengganggu keselamatanmu." 

Abu Dzar malah pergi ke Ka'bah dan berseru-seru mengajak orang masuk Islam. 

Anjuran bersabar kepada Abu Dzar 

Suatu hari, Rasulullah bertanya kepada Abu Dzar, 

"Wahai Abu Dzar, bagaimana pendapatmu jika menjumpai para pembesar yang mengambil 

barang upeti untuk mereka pribadi?" 

Jawab Abu Dzar, 

"Demi yang telah mengutus Anda dengan kebenaran, akan saya tebas mereka dengan 

pedang saya!" 

Sabda Rasulullah, 

"Maukah kamu aku beri jalan yang lebih baik dari itu? Yaitu bersabarlah sampai kamu 

menemuiku." 


Bagian 49 


Abu Thalib Sakit Keras 

Beberapa bulan setelah piagam dihapus, Rasulullah kembali mengalami ujian besar. Kali ini 

bukan penyiksaan dari pihak lawan, melainkan berupa kehilangan orang yang beliau cintai. 


Karena sudah lanjut usia dan menderita kehidupan berat di pengasingan selama tiga tahun, Abu Thalib jatuh sakit. Saat itu usianya sudah delapan puluh tahun. Mengetahui Abu Thalib sakit keras, orang-orang Quraisy khawatir akan terjadi perang antara kaum Quraisy dan Rasulullah beserta para pengikutnya. Apalagi dipihak Rasulullah ada Hamzah dan Umar yang terkenal garang dan keras. Selama ini, Abu Thalib selalu bisa menjadi penengah kedua belah pihak. Para pemuka Quraisy menemui Abu Thalib dipembaringan dan berkata, "Abu Thalib, engkau adalah keluarga kami juga. Sekarang ini, keadaan antara kami dan kemenakanmu sudah sangat mencemaskan kami. Panggilah dia. Kami dan dia akan saling memberi dan menerima. Biarlah dia dengan agamanya dan kami dengan agama kami pula". Rasulullah Kemudian datang. Mengetahui maksud kedatangan mereka, Rasulullah bersabda, "Sepatah kata saja saya minta yang akan membuat mereka merajai semua orang Arab dan bukan Arab." "Katakanlah, demi ayahmu," kata Abu Jahal, "sepuluh kata sekali pun silahkan!" Rasulullah bersabda, "Katakan, tidak ada ada Tuhan selain Allah dan tinggalkan segala penyembahan selain Allah." "Muhammad," seru mereka, "maksudmu tuhan-tuhan itu dijadikan satu saja?" Para Pembesar Quraisy Saling pandang dengan kecewa menghadapi keteguhan Rasulullah. "Pulanglah," kata mereka satu sama lain, "orang Ini tidak akan memberikan apa-apa seperti yang kamu kehendaki. Pergilah Kalian!"


Abu Thalib Wafat


Rasulullah duduk di sisi pembaringan pamannya. Dengan sedih, ditatapnya wajah bijaksana orang tua itu. Hati Rasulullah dipenuhi rasa duka, tidak hanya karena melihat sakit sebelum maut yang diderita Abu Thalib, tetapi juga karena sampai saat itu, pamannya belum juga membuka hatinya kepada Islam. Rasulullah menggenggam tangan pamannya dengan lembut. Inilah Abu Thalib yang dulu mengajaknya berdagang ke Syam karena tidak tega berpisah dengannya. Inilah pamannya yang dulu merawatnya penuh kasih sayang, bahkan mencintainya melebihi kecintaan kepada anak-anaknya sendiri. Inilah Abu Thalib yang membuka jalan pertemuannya dengan


Khadijah dan mendorongnya menjadi pemimpin kafilah dagang Khadijah. Inilah Abu Thalib 

yang selalu menjadi pelindungnya sejak dirinya menjadi yatim sampai menjadi utusan Allah. 

Abu Thalib membuka matanya yang sayu dan memandang Rasulullah, "Demi Allah, wahai 

anak saudaraku, aku tidak melihatmu menawarkan sesuatu yang berat kepada para pemuka 

kaummu." 

Sejenak timbul harapan Rasulullah akan keislaman pamannya itu, 

"Wahai pamanku, ucapkanlah satu kalimat maka dengan kalimat tersebut engkau berhak 

mendapat syafaatku pada Hari Kiamat." 

Akan tetapi, Abu Thalib tetap enggan menerima ajakan tersebut. Kemudian wafatlah ia. 

Kini, hilang sudah seorang pelindung Rasulullah. Mulai saat ini, Rasulullah harus menghadapi 

semuanya sendiri. 


Kata-Kata Terakhir Abu Thalib


Ketika Rasulullah mengajak Abu Thalib mengucapkan syahadat pada saat-saat terakhirnya, Abu Thalib berkata, "Kalau saja aku tidak khawatir nasib keluargaku akan dianiaya setelah kepergianku dan kaum Quraisy bakal mengatakan, bahwa aku berucap karena gentar menghadapi sakaratul maut, aku tentu mengucapkannya. Kalau pun kuucapkan, itu sekadar menyenangkan hatimu."


Khadijah Wafat 

Seusai penguburan Abu Thalib, Rasulullah kembali ke rumah dan menemukan Khadijah 

jatuh sakit. Rasulullah menggenggam tangan Khadijah yang kini terasa panas. Dari hari ke 

hari, wajah Khadijah semakin pucat dan gemetar, Rasulullah amat terharu. Pada saat-saat 

seperti ini, istrinya itu tetap berusaha menguatkan hatinya. Seolah-olah Khadijah tahu 

bahwa perjuangan suaminya masih sangat panjang dan berliku, sedangkan perjuangannya 

sendiri sudah mencapai titik akhir. 

Akhirnya saat perpisahan sepasang suami istri yang mulia itu pun tiba. Hanya beberapa hari 

setelah Abu Thalib meninggal, Khadijah pun wafat dengan tenang. 

Dalam beberapa hari saja, Rasulullah kehilangan dua orang yang sangat berarti dalam 

hidupnya, paman yang mengasuh dan melindunginya serta istri yang setia mendampingi 

dalam menempuh semua suka dan duka, terutama setelah beliau diangkat menjadi Rasul 

selama sepuluh tahun terakhir kehidupan mereka. Masa-masa duka ini dikenal dengan 

nama 'Amul Huzni (tahun kesedihan). 


Saat itu, seolah-olah semua kegembiraan di hati Rasulullah pudar. Indahnya kehidupan 

seolah-olah ikut terkubur bersama jasad dua orang kesayangan itu. Rasulullah tertunduk di 

samping pusara Khadijah. Air mata beliau mengalir tanpa tertahan. 

Beliau ingat, betapa besar penderitaan pamannya dan kesengsaraan yang dipikul istrinya 

saat mereka bertindak melindungi beliau. Rasanya, hidup Khadijah lebih banyak dilalui 

dengan menanggung begitu berat beban perjuangan dibanding menikmati manisnya 

kehidupan. 

Keluarga dan sahabat merasakan betul kesedihan Rasulullah. Sekuat tenaga, mereka 

berusaha menghibur Rasulullah. Inilah saat-saat ketika para pengikut, yang biasanya dihibur 

dan dikuatkan hatinya oleh Rasulullah, berganti menghibur dan menguatkan hati Rasulullah. 

Sungguh pada saat yang mengharukan, tetap ada keindahan yang tampak dalam 

persaudaraan mereka.



Bagian 50 


Kenangan akan Khadijah 

Kenangan akan Khadijah tetap hidup di hati Rasulullah sampai beliau wafat. Rasulullah ingat 

pernikahan mereka yang penuh berkah. Itulah satu-satunya pernikahan di dunia ini yang 

dipenuhi berkah surga dan dunia sekaligus. 

Saat pernikahan itu, Khadijah mengadakan jamuan buat semua orang, mulai dari yang paling 

kaya sampai yang paling miskin. Bangsa Arab yang saat itu hanya mengenal air putih, dalam 

walimah pernikahan Rasulullah dan Khadijah, disuguhi minuman segar sari buah dan sirup 

mawar. 

Selama beberapa hari, semua orang, baik tua maupun muda, makan di rumah Khadijah. 

Kepada orang-orang miskin, Khadijah memberikan beberapa keping uang emas dan perak 

serta pakaian. Kepada para janda, Khadijah menyumbangkan kebutuhan hidup yang belum 

pernah mereka rasakan sebelumnya. 

Rasulullah juga terkenang saat setelah menikah, Khadijah tidak lagi tertarik pada 

perdagangan serta kesuksesan yang diraihnya. Pernikahan telah mengganti perhatian 

Khadijah. Beliau telah mendapatkan Muhammad Al Musthafa sebagai hartanya yang paling 

berharga di dunia ini. Begitu Khadijah menjadi istri Rasulullah semua perak, emas, dan 

berlian kehilangan harga di matanya. Rasullullah menjadi satu-satunya yang Khadijah 

sayangi, perhatikan, dan cintai. Beliau mengabdikan diri sepenuhnya pada kehidupan 

Rasulullah. 


Saat-saat didampingi Khadijah boleh dikatakan merupakan sat-saat yang sangat membahagiakan Rasulullah. Dari rahim Khadijah-lah lahir dua orang putra dan empat orang putri Rasulullah, termasuk puteri terkecil mereka Fatimah Az Zahra, yang menjadi cahaya mata ayahnya. Tidak ada laki-laki lain yang cocok mendampingi Khadijah selain Rasulullah. Begitu serasinya mereka sampai ada ahli sejarah yang menduga bahwa seandainya Khadijah tidak bertemu Rasulullah dalam hidupnya, kemungkinan besar Khadijah tidak akan menikah sampai akhir hidupnya, karena bukanlah kekayaan, ketampanan, dan keturunan yang menarik hati Khadijah, melainkan keluhuran budi yang mampu meluluhkan hatinya. Itulah yang ada dalam diri Rasulullah.


Rumah di Surga


Dalam Shahih Al Bukhari, Abu Hurairah berkata, Jibril mendatangi rumah Rasulullah seraya berkata, "Wahai Rasulullah, inilah yang datang Khadijah sambil membawa bejana yang di dalamnya ada lauk atau makanan atau minuman. Jika ia datang, sampaikan salam padanya dari Rabb-nya dan sampaikan kabar kepadanya tentang sebuah rumah di Surga yang di dalamnya tidak ada hiruk-pikuk dan keletihan."


Khadijah Wanita Sempurna


Sebelum kedatangan Islam, Khadijah dijuluki Ratu Mekah. Namun, ketika cahaya Islam terbit, Allah memberi beliau kedudukan sebagai ibu kaum beriman *(ummulmukminin)*. Saat itu, sebagian kaum Muslimin adalah orang-orang miskin. Mereka tidak bisa mencari nafkah, karena orang-orang kafirlah yang menguasai perdagangan. Orang-orang itu tidak memberikan kesempatan bagi kaum Muslimin untuk bekerja. Pada saat itu, kaum Muslimin bisa terhindar dari kelaparan berkat bantuan Khadijah. Khadijah juga memberi mereka tempat tinggal. Khadijah menggunakan begitu banyak uangnya untuk orang-orang Muslim di Mekah yang miskin akibat boikot orang-orang musyrik. Pertolongan Khadijah telah mematahkan tujuan orang-orang musyrik untuk menarik para pengikut Rasulullah yang miskin pada kekafiran lagi. Khadijah tidak pernah menyisakan sampai uang terakhir yang dimilikinya demi kesejahteraan para pemeluk Islam. Cinta Khadijah kepada mereka tidak berbeda dengan cinta ibu kepada anaknya. Kalian tahu, seorang ibu rela mengorbankan nyawanya sendiri demi keselamatan anak-anaknya. Seorang ibu bisa merasakan lapar, namun jika anak anaknya kelaparan, ia akan mengutamakan anak-anaknya lebih dulu. Ia akan memberikan jatah makannya untuk anak-anaknya dan rela menahan lapar. Bahkan jika anak-anaknya merasa kenyang dan senang, itu sudah cukup membuat seorang ibu juga merasa senang dan kenyang sehingga ia lupa rasa lapar yang dideritanya sendiri. Cinta seorang ibu tidak mengenal syarat. Cinta seorang ibu penuh perlindungan dan penuh kasih. 


Dengan keluhuran budi istrinya yang begitu agung sangat wajar jika Rasulullah merasa amat berduka ketika Khadijah wafat.


Rasulullah Amat Mencintai Khadijah


Begitu besarnya cinta Rasulullah kepada Khadijah sampai beliau bersabda, "Demi Allah! Allah tidak menggantikan Khadijah dengan seorang yang lebih baik. Ia telah beriman kepadaku pada saat orang-orang mengingkari risalahku. Ia percaya kepadaku pada saat orang-orang nendustaiku. Ia telah mengorbankan hartanya padahal orang lain tidak mau melakukannya, dan Allah telah melimpahkan karunia bagiku anak-anak melalui Khadijah.


Setelah Abu Thalib Tiada


Ketika ibunya wafat, Fatimah Az Zahra baru berusia tiga tahun. Anak perempuan yang matanya masih basah karena baru kehilangan ibunya itu kini melihat ayahnya dihina orang sejadi-jadinya. Para tetangga mereka seperti Hakam bin Ash, Uqbah bin Abu Muith, Adi bin Hamra, dan Abu Lahab sangat sering melempar batu ketika ayahnya sedang shalat. Bahkan tidak cuma batu, tetapi juga jeroan kambing. Jeroan kambing itu pernah mereka melemparkan ke dalam panci masakan Rasulullah yang siap disajikan. Kejadian paling ringan yang pernah menimpa Rasulullah adalah ketika seorang Quraisy pandir mencegatnya di jalan dan secara tiba-tiba menyiramkan tanah ke atas kepala beliau. Rasulullah tidak membalas hinaan itu. Beliau pulang ke rumah dengan kepala yang penuh tanah. Di rumah, Fatimah membersihkan kepala ayahnya sambil menangis. Tidak ada yang lebih pilu rasanya hati seorang ayah dibanding mendengar tangis anaknya. Apalagi yang menangis ini adalah anak perempuan yang baru saja ditinggal mati ibunya. Hampir kaku rasanya Rasulullah karena begitu pilu, bahkan beliau hampir saja ikut menangis. Muhammad adalah ayah yang bijaksana dan penuh kasih sayang pada putri-putrinya. Tak ada lagi yang beliau lakukan menghadapi tangis pilu putrinya selain memohon pertolongan kepada Allah dengan keimanan sepenuh hati. "Jangan menangis, putriku," begitu yang Rasulullah bisikkan kepada Fatimah sambil menghapus air matanya, "sesungguhnya Allah akan melindungi ayahmu." Rasulullah kemudian berkata, "Sebelum wafat Abu Thalib, orang-orang Quraisy itu tidak seberapa menggangguku." Apa yang kemudian beliau lakukan untuk melepaskan diri dari tekanan Quraisy yang semakin menjadi-jadi?


Bagian 51 


Tindakan Bengis Abu Lahab 

Sepeninggal Abu Thalib, Abu Lahab terpilih sebagai ketua Bani Hasyim. Segera setelah ia 

terpilih, Abu Lahab menyatakan melepas perlindungan terhadap diri Rasulullah dengan 

memberikan pengumuman secara terbuka di Pasar Ukazh dan di Ka'bah. Ini adalah tindakan 

yang amat kejam, sampai Rasulullah sempat minta perlindungan dari keluarga selain Bani 

Hasyim. 

Bani Hasyim adalah satu di antara sekian banyak kabilah. Pemimpin sebuah kabilah dipilih 

karena bijak, berani, dan tegas. Pemimpin kabilah menduduki kedudukan terhormat. 

Pemimpin kabilah biasanya dipilih setelah berusia 40 tahun. 

Dalam pertempuran, kaum muda berjuang di garis depan melindungi pemimpin kabilah dan 

sesepuh di garis belakang. 


Cara Rasulullah Berdakwah 

Ada 6 cara yang dilakukan Rasulullah untuk berdakwah: 

1. Mengumpulkan orang. 

2. Mendatangi tempat-tempat pertemuan dan keramaian. 

3. Mendatangi kota-kota lain. 

4. Menugasi setiap muslim untuk berdakwah. 

5. Menugasi muslim pilihan untuk mengajar. 

6. Mengirimkan surat dan utusan kepada para raja dan pemimpin. 



Tha'if 

Rasulullah berdakwah ke Tha'if pada tahun 10 kenabian (akhir Mei 619). Tha'if terletak 100 

kilometer sebelah Tenggara Mekah. Tha'if adalah kota pegunungan dengan ketinggian 

hampir 2.000 meter diatas permukaan laut. Tha'if adalah kota dagang dengan hasil bumi 

dan perkebunan buah seperti anggur. 


Rasulullah mencoba mengalihkan dakwah langsung keluar Kota Mekah. Bersama Zaid bin Haritsah, Rasulullah pergi ke kota Tha'if. Tiba di kota itu, Rasulullah menemui tiga orang pembesar kota dan menawarkan Islam kepada mereka. Apa tanggapan mereka? "Bahkan akan kusobek-sobek selubung Ka'bah untuk membuktikan bahwa demikian tidak percayanya aku padamu!" ujar seseorang. Mendengar temannya bicara seperti itu, yang lain tersenyum mengejek sambil berkata, "Apakah Tuhan tidak mendapatkan orang yang lebih baik daripada kamu? Kalau engkau seorang nabi, pastilah engkau terlalu mulia untuk menjadi teman bicaraku. Kalau bukan, maka engkau terlalu rendah kulayani." Rasulullah meminta tiga pembesar Tha'if yaitu Mas'ud, Abdu Yalail, dan Habib, tidak mengumumkan kepada masyarakat penolakan mereka terhadap beliau. Akan tetapi, ketiga pembesar itu tidak mengabulkan permintaan Rasulullah. Mereka malah menghasut agar para pemuda mengolok-olok Rasulullah. Mereka keluar dan berteriak kepada orang banyak, "Wahai penduduk Tha'if! Lihat orang ini! Ia mencoba mengganti para berhala kita dengan satu Tuhan baru yang tidak terlihat!" Para pemuda mulai datang bergerombol dengan wajah memerah karena murka. "Orang ini rupanya berniat menipu dan membodohi kalian! Apa yang akan kalian perbuat?" "Usir dia!" "Jangan cuma diusir, lempar dia dengan batu agar jera dan tidak berani membawa kegilaannya kemari!" Kemudian, mulailah para pemuda melempari Rasulullah dengan batu. Melihat hal itu, orang orang kaya tidak mau ketinggalan. Mereka menyuruh budak-budaknya, "Hei, tunggu apalagi? Ambil batu dan lempari dia! Sekaranglah saatnya kalian bersenang senang!" Rasulullah dan Zaid berlari di sepanjang jalan ke luar Kota Tha'if. Mereka diikuti hujan batu disertai gemuruh caci maki dan cemooh gerombolan pemuda dan budak. Batu-batu terbang berbunyi debag-debug menghantam seluruh tubuh Rasulullah meski sudah dilindungi Zaid. Darah suci Rasulullah berceceran di sepanjang jalan.


Doa Rasululllah


Setelah jauh keluar dari kota, gerombolan orang yang mengejar Rasulullah pun membubarkan diri dengan senyum puas dan mengejek. Saat itu Rasulullah bertemu dengan seorang istri pembesar Tha'if dari Bani Jumah yang sedang lewat. Perempuan itu memandang Rasulullah dengan rasa kasihan bercampur heran.

"Lihatlah, apa yang ditimpakan kepada kami oleh rakyat suamimu," sabda Rasulullah. 

Mendengar orang Tha'iflah yang menganiaya beliau, perempuan itu berlalu dengan 

perasaan takut jika diketahui orang bahwa ia menunjukkan belas kasihan kepada Rasulullah. 

Untuk melepas lelah dan membasuh luka, Rasulullah dan Zaid berlindung di sebuah kebun 

anggur milik Utbah dan Syaibah. Keduanya anak Rabi'ah, seorang pembesar Quraisy. Saat 

itu, keluarga Rabi'ah memerhatikan Rasulullah dari jauh, tetapi mereka tidak berbuat apa 

pun. 

Setelah napasnya kembali normal, Rasulullah mengangkat kepala dan menengadah ke 

langit. Beliau memanjatkan doa yang amat mengharukan. 

"Allahuma ya Allah, kepada-Mu juga aku mengadukan kelemahanku, kurangnya 

kemampuanku, serta kehinaanku di hadapan manusia." 

"Oh Tuhan Maha Pengasih, Maha Penyayang, Engkaulah Pelindungku." 

"Kepada siapa hendak Engkau serahkan aku? Kepada orang jauh yang berwajah muram, 

kepadaku, atau kepada musuh yang akan menguasai diriku?" 

"Asalkan Engkau tidak murka kepadaku, aku tidak peduli, karena sungguh luas kenikmatan 

yang Engkau limpahkan kepadaku." 

"Aku berlindung kepada nur wajah-Mu yang menyinari kegelapan, dunia, dan akhirat." 

"Janganlah kemurkaan-Mu menimpa aku." 

"Kepada-Mu lah aku menghamba sampai Engkau puas sesuai kehendak-Mu. Tiada yang 

lebih kuat dan kuasa dari pada-Mu."


Bagian 52

Kebun Anggur


Melihat penderitaan yang begitu buruk dialami Rasulullah, Utbah dan Syaibah merasa iba. Mereka menyuruh seorang budak mereka untuk memberikan buah anggur kepada Rasulullah.

Rasulullah menjulurkan tangan untuk memgambil anggur seraya mengucap, "Bismillah." 

Budak itu terkejut keheranan mendengar ucapan itu. 

"Kata-kata itu tidak pernah diucapkan oleh penduduk negeri ini." ujarnya. 

Kemudian, Rasulullah bertanya kepada sang budak siapa namanya dan dari negeri mana dia 

berasal, serta apa agamanya. 

"Namaku Addas, aku berasal dari Niniveh di Mesopotamia. Aku beragama Nasrani." 

Rasulullah kemudian berkata lagi, "Dari negeri baik-baik, Yunus bin Matta." 

Dengan rasa heran yang lebih besar daripada sebelumnya, Addas bertanya, "Darimana Tuan 

tahu nama Yunus bin Matta?" 

"Dia saudaraku," jawab Rasulullah, "dia seorang nabi dan aku juga seorang nabi." 

Mendengar itu, hati Addas dipenuhi rasa haru yang menyengat. Tanpa berkata apa-apa lagi, 

dia mencium kepala, tangan, dan kaki Rasulullah. 

Utbah dan Syaibah memerhatikan hal itu dengan heran. 

"Lihat, ia merusak budakmu," kata Syaibah. 

Ketika Addas kembali, mereka bertanya dengan marah, 

"Mengapa pula engkau cium kepala, tangan, dan kaki orang itu?" 

"Itulah laki-laki yang paling baik di negeri ini," jawab Addas. 

"Ia mengatakan sesuatu yang hanya diketahui oleh para nabi." 

Utbah dan Syaibah saling pandang sebelum berkata dengan keras, 

"Addas, jangan sampai orang itu memalingkan engkau dari agamamu. Agamamu itu lebih 

baik daripada agamanya."


Saat Paling Getir


Jibril dan Malaikat Penjaga Gunung, menawarkan diri untuk menghancurkan Tha'if. Namun, Rasulullah menolak, beliau bahkan mendoakan kebaikan bagi penduduk Tha'if.


Kembali ke Mekah 

Setelah Abu Thalib meninggal, Abu Lahab lah yang terpilih sebagai pemimpin kabilah Bani 

Hasyim. Abu Lahab langsung mengumumkan kepada khalayak bahwa Bani Hasyim kini tidak


lagi melindungi Rasulullah. Hal itu berarti Rasulullah boleh dianiaya, bahkan sampai dibunuh oleh siapa pun tidak akan ada yang menuntut balas kematiannya. Dalam perjalanan kembali ke Mekah, keadaan Nabi yang tanpa perlindungan ini merisaukan Zaid. Zaid pun bertanya, "Wahai Rasulullah, apa yang akan kita lakukan jika kita kembali ke Mekah tanpa perlindungan? Aku khawatir jika orang akan berbuat sewenang-wenang kepada Anda." Rasulullah menatap Zaid dengan pandangan menghibur sambil berkata dengan keyakinan penuh, "Allah akan melindungi agama dan Rasul-NYA." Tiba-tiba di luar Mekah, melalui seorang penduduk, Rasulullah menghubungi Al Akhnas bin Syariq untuk menanyakan apakah ia mau memberi perlindungan. Namun, Al Akhnas menolak. Rasulullah kemudian menghubungi Suhail bin Amr dari Bani Amr bin Lu'ay, tetapi ia juga menolak. Akhirnya *Al Muth'im bin Adi* bersedia memberi perlindungan. Esok paginya, Al Muth'im menuju Ka'bah dan memgumumkan perlindungannya. Abu Lahab datang dan memprotes dengan ejekan, "Kamu memberi perlindungan atau menjadi pengikutnya?" "Kami memberi perlindungan kepada orang yang seharusnya engkau lindungi", jawab Al Muth'im. Suatu hari, Rasulullah pergi ke Ka'bah, Abu Jahal melihatnya dan berseru kepada sekumpulan orang Quraisy dengan nada menghina, "Wahai keturunan Abdu Manaf, inilah Nabi kalian." Menanggapi olokan itu, Utbah bin Rabi'ah berkata, "Peduli apa pula engkau, apakah kita ini mempunyai seorang nabi atau raja?" Rasulullah mendekati keduanya dan berkata, "Wahai Utbah, demi Allah ucapanmu adalah tanggunganmu sendiri. Sementara untukmu, Abu Jahal, nasib jelek akan menimpamu sehingga kelak engkau akan sedikit tertawa dan banyak menangis."


Saat Penuh Perjuangan


Setelah Abu Thalib meninggal ruang gerak dakwah Rasulullah di Mekah semakin sempit. Beliau pun mencoba mengalihkan dakwah Islam ke suku-suku Arab lain yang sering berdatangan ke Mekah pada bulan-bulan haji. Setiap hari Rasulullah mengunjungi perkemahan Badui, setiap kali itu pula Abu Lahab mengikuti beliau. Setelah beliau beranjak pergi, Abu Lahab mendekat dan berkata, "Orang yang tadi hanya ingin menukar kepercayaan Anda kepada Latta dan Uzza, serta jin jin sekutu Anda, dengan agama sesat yang dibawanya." Seorang pemuka kabilah Badui pernah bertanya kepada Rasulullah, "Kalau kami jadi pengikutmu dan Tuhan memberimu kemenangan menghadapi lawanmu, apakah kami akan berkuasa setelah Anda?" Rasulullah menjawab, "Kekuasaan adalah pemberian Allah ketika Ia menghendaki." Dengan muka masam, pemimpin kabilah itu berkata ketus, "Dugaan saya, Anda ini mengharap kami melindungi Anda dari orang Badui dengan dada kami, lalu kalau Anda menang orang lain akan memetik untung! Tidak, terima kasih." 



Bagian 53 

ﺪ

Aisyah dan Saudah 

Walau keadaan semakin berat, Rasulullah tetap berjuang dengan gigih. Namun demikian, 

semakin gigih pula suku-suku pengembara Arab menolak beliau. 

Pada saat penuh perjuangan itulah, Rasulullah menikah dengan Aisyah, putri Abu Bakar. 

Pernikahan itu bertujuan mempererat tali persaudaraan dengan para pendukung Islam yang 

setia. Tali persaudaraan yang erat itu sangat penting pada saat-saat sulit seperti itu. 

Pernikahan Rasulullah dengan Aisyah merupakan penghargaan setingi-tingginya bagi Abu 

Bakar, ayah Aisyah sekaligus sahabat Rasulullah. Pernikahan ini merupakan suatu bentuk 

kemenangan dalam persaudaraan yang penuh cinta kasih antara Abu Bakar dan Rasulullah 

sejak masa sebelum diangkat menjadi Rasul. 


Sebelumnya Rasulullah menikahi Saudah. Saat itu Saudah telah menjadi janda setelah 

suaminya meninggal di Habasyah. Tujuan pernikahan itu adalah untuk menolong Saudah 

yang hampir hidup terlunta-lunta setelah suaminya wafat. Saudah adalah wanita yang 

pertama dinikahi Rasulullah sepeninggal Khadijah. 

Setelah berduka ditinggal Abu Thalib dan Khadijah, kesukaran yang dihadapi Rasulullah 

bertambah dengan semakin kerasnya orang Quraisy memusuhi beliau. Pada saat itulah, 

Allah menghibur Rasulullah dengan sebuah perjalanan luar biasa yang tidak pernah kita 

temui lagi kedasyatannya dalam sejarah.


Isra' 

Pada suatu malam yang hening, Malaikat Jibril mendatangi Rasulullah. Wajahnya putih 

berseri dan berkilau seperti salju. Demikian heningnya saat itu sampai tidak terdengar suara 

burung malam, gemericik air, dan siulan angin. 

"Hai orang yang sedang tidur, bangunlah!" sapa Malaikat Jibril. 

Rasulullah bangun. Saat itu, beliau sedang tidur di rumah sepupunya, Ummu Hani binti Abu 

Thalib. 

Jibril membawa Buraq kehadapan Rasulullah. Buraq adalah hewan yang bentuknya lebih 

kecil dari kuda tapi lebih besar dari keledai dengan sayap dikedua sisi tubuhnya. Warnanya 

putih. Setiap kali ia melangkah, jauhnya sama dengan jarak pandang. 

Setelah Rasulullah naik ke punggungnya. Buraq pun meluncur seperti anak panah, 

sedangkan Jibril terbang mengiringi dalam jarak yang dekat sekali. Mereka terbang melintasi 

padang-padang pasir menuju ke utara.



Ifrit


Dalam perjalanan Isra', satu Ifrit mengejar Rasulullah sambil membawa obor. Ifrit adalah bangsa jin yang amat jahat. Jibril mengajarkan sebuah doa kepada Rasulullah yang membuat obor Ifrit padam dan Ifrit tersungkur jatuh. Akhirnya Rasulullah tiba di Baitul Maqdis, Yerusalem, Palestina. Di atas Baitul Maqdis Rasulullah bertemu Nabi Ibrahim, Nabi Musa, dan Nabi Isa. Ketiga nabi mulia itu ditemani nabi-nabi lain. Rasulullah kemudian memimpin shalat semua nabi dan rasul itu. Selesai shalat, dibawakan kehadapan Rasulullah tiga buah bejana. Satu berisi khamr, satu berisi air, dan satu lagi berisi susu. 


Mi'raj 


Rasulullah mendengar sebuah suara berkata, "Kalau ia memgambil air, ia akan tenggelam 

dan begitu juga umatnya. Kalau ia mengambil khamr, ia akan tersesat dan begitu pula 

umatnya. Kalau dia mengambil susu, ia akan dibimbing dan begitu juga umatnya." 

Oleh karena itu, Rasulullah mengambil bejana berisi susu dan meminumnya dengan 

menyebut nama Allah. Jibril pun berkata kepada Rasulullah, "Anda telah diberkati dan 

begitu pula umat Anda, Muhammad." 

Setelah itu, beliau dibawa naik sampai ke langit. Tangga dipancangkan di atas batu Yaqub. 

Mi'raj berarti tangga. Saat naik ke langit, Rasulullah meniti Mi'raj, bukan lagi menaiki Buraq. 

Buraq menunggu di bawah ditambatkan di pintu Baitul Maqdis. Oleh Jibril, tangga ini 

diletakkan di atas batu besar dan ujungnya terus menjulang sampai ke langit. 

Dengan tangga itu, Rasulullah naik ke atas langit berlapis tujuh. Setiap tingkatan langit di 

jaga oleh malaikat agar tidak ada setan yang bisa mencuri-dengar rahasia-rahasia langit. 

Di langit pertama, Rasulullah melihat semua malaikat tersenyum, kecuali satu saja. 

Rasulullah bertanya kepada Jibril, lalu Jibril menjawab bahwa itu adalah Malik, malaikat 

penjaga neraka, Rasulullah bertanya lagi kepada Jibril, 

"Bisakah engkau memerintahkannya untuk memperlihatkan neraka?" 

"Malik, perlihatkan neraka kepada Muhammad." 

Lalu Malik mengangkat penutup neraka dan api berkobar tinggi sampai Rasulullah mengira 

bahwa ia akan membakar segalanya.



Illiyyin dan Sijjin 

Illiyyin adalah nama suatu tempat di surga tertinggi. Sementara itu, Sijjin adalah tempat 

yang terletak di bawah Neraka Jahanam. 

Rasulullah meminta agar Jibril memerintahkan Malik mengendalikan kobaran api yang 

sangat dasyat itu. Malaikat Malik pun melakukannya dan menutup kembali pintu neraka. 

Setelah itu, Rasulullah melihat seorang laki-laki sedang duduk melihat roh-roh manusia yang 

lewat dihadapannya. Jika roh itu baik, ia akan mengucapkan selamat seraya berkata, 

"Roh yang baik dari tubuh yang baik." 

Jika yang lewat itu roh yang buruk, wajah laki-laki itu jadi keruh sambil berkata, 

"Huh! Roh yang jelek dari tubuh yang jelek!" 

"Siapa laki-laki itu, wahai Jibril?" tanya Rasulullah.


Jibril menjelaskan bahwa itu adalah Nabi Adam yang sedang menilai roh keturunannya. Roh 

orang yang beriman membuat Nabi Adam gembira, sedangkan roh orang kafir dan murtad 

membuat beliau kesal dan murung.



Bagian 54


Ke Langit Berikutnya 

Rasulullah melanjutkan perjalanannya bersama Jibril. Beliau melihat orang-orang berbibir 

seperti bibir unta. Di mulut mereka ada potongan api berbentuk batu yang mereka telan lalu 

keluar lagi lewat duburnya, kemudian ditelan lagi begitu seterusnya. 

"Siapakah mereka ini?" Rasulullah bertanya-tanya. 

"Mereka adalah para pendosa yang memakan harta anak yatim." 

Setelah itu, beliau melihat orang-orang seperti keluarga Fir'aun. Perut mereka membesar, 

sedangkan serombongan unta-unta gila menginjak-injak perut mereka di neraka. Orang

orang itu tidak mampu lagi menghindar. 

"Siapakah orang-orang ini?" tanya Rasulullah. 

"Orang-orang itu adalah para pemakan riba. Mereka biasa meminjamkan uang kepada 

orang lain, tetapi meminta uang pinjaman itu dikembalikan dalam jumlah yang lebih besar 

dibandingkan uang yang dipinjam." 

Setelah itu, Rasulullah melihat orang-orang yang di hadapan mereka ada dua jenis daging, 

satu empuk dan lezat, sedang yang satu lagi kesat dan busuk. Akan tetapi, orang-orang itu 

memakan daging yang busuk. 

"Siapakah mereka ini?" kembali Rasulullah bertanya. 

Dijelaskan kepada beliau bahwa orang-orang itu menelantarkan istrinya dan mendekati 

perempuan lain yang tidak halal. 

Dalam perjalanan berikutnya, Rasulullah dibawa ke langit kedua. Beliau berjumpa dengan 

Nabi Isa dan Nabi Yahya (Putra Nabi Zakaria). Keduanya adalah saudara sepupu dari garis 

ibu.


Di langit ketiga, beliau berjumpa dengan seorang nabi yang wajahnya begitu tampan seperti 

bulan purnama. 

Itu adalah Nabi Yusuf. 

Di langit keempat, Rasulullah bertemu dengan Nabi Idris yang telah dimuliakan Allah dengan 

diangkat dari dunia ke tempat yang tinggi. 

Di langit kelima, Rasulullah bertemu Nabi Harun (putra Imran). Nabi Harun adalah nabi yang 

dikasihi kaumnya. 

"Belum pernah saya bertemu orang segagah dia," demikian sabda Rasulullah tentang Nabi 

Harun. 


Menerima Perintah Shalat 

Di langit keenam, Rasulullah bertemu dengan Nabi Musa. 

Lalu, di langit ketujuh, beliau bertemu dengan seorang laki-laki yang sedang duduk di atas 

singgasana gerbang surga (Baitul Makmur). Setiap hari, 70 ribu malaikat masuk lewat 

gerbang itu dan tidak keluar lagi sampai Hari Kebangkitan. 

"Belum pernah saya melihat orang yang lebih menyerupai saya," 

Laki-laki itu ayah saya, Nabi Ibrahim. 

Kemudian, ia membawa saya ke surga dan disitu saya melihat seorang gadis berbibir merah 

gelap, dan saya tanyakan dia, milik siapa ia sebab ia begitu gembira ketika berjumpa dengan 

saya, dan jawabnya, 

"Saya milik Zaid bin Haritsah." 

Kemudian Rasulullah dibawa ke hadapan Arasy sehingga bertemu Allah. Segalanya tidak 

dapat dilukiskan dengan lidah dan di luar jangkauan daya otak manusia. Bertemu dengan 

Allah Yang Maha Agung membuat Rasulullah merasakan kesejukan sampai ke tulang 

punggungnya. Kemudian, rasa tenang dan damai membanjiri perasaan beliau, begitu terasa 

nikmat. Pada saat itulah, Rasulullah, Allah memerintahkan agar setiap Muslim melakukan 

shalat lima puluh kali sehari semalam. 

Begitu Rasulullah turun dari Arasy, beliau bertemu Nabi Musa yang berkata, 

"Bagaimana engkau mengharap pengikut-pengikutmu akan melakukan shalat lima puluh kali 

setiap hari? Sebelum engkau, aku sudah punya pengalaman, sudah kucoba terhadap Bani 

Israil sekuat daya. Percayalah dan kembalilah kepada Allah, minta supaya dikurangi jumlah 

shalat itu." 

Kemudian Rasulullah kembali menemui Allah. Kemudian jumlah shalat dikurangi jadi empat 

puluh kali setiap hari.


Namun, Nabi Musa menganggap masih di luar kemampuan orang. Dia sarankannya lagi 

Rasulullah kembali meminta keringanan. Demikianlah, beberapa kali Rasulullah bolak-balik 

menemui Allah sampai akhirnya jumlah shalat ditetapkan menjadi lima kali sehari semalam. 

Kemudian, Rasulullah kembali ke Bumi dengan menuruni tangga. Buraq pun membawa 

Rasulullah kembali ke Mekah. 



Mengabarkan Isra Mi'raj 

Menjelang fajar Rasulullah membangunkan Ummu Hani dan keluarganya. 

"Oh Ummu Hani," sabda Rasulullah, 

"seperti engkau maklum, semalam aku shalat malam terakhir bersama kamu. Kemudian aku 

ke Baitul Maqdis dan shalat di sana. Baru saja, saat ini, kita shalat subuh bersama." 

Rasulullah kemudian bangkit, meninggalkan Ummu Hani yang masih terperangah. Ummu 

Hani tahu beliau akan keluar dan mengabarkan Isra' dan Mi'raj kepada orang banyak. 

Rasulullah berdiri dan berjalan ke pintu begitu cepat seolah-olah tidak sabar lagi untuk 

mengabarkan perjalanan ini. Padahal, beliau tahu apa akan dikatakan orang Quraisy yang 

selama ini memusuhinya. Namun, semangat Rasulullah tidak terhalangi oleh hal-hal 

semacam itu. 

Rasa khawatir Ummu Hani menggunung seketika. Begitu cepatnya langkah Rasul sehingga 

Ummu Hani terpaksa menarik jubah Rasul dengan tergesa-gesa. 

"Ya Rasulullah, jangan mengatakannya pada khalayak ramai. Nanti mereka menuduh engkau 

berdusta dan mereka akan menghinamu." 

Rasulullah tersenyum menentramkan, "Demi Allah, saya akan tetap mengatakannya." 

Ummu Hani tidak bisa berkata apa-apa lagi melihat tekad Rasulullah yang sudah demikian 

kuat. Ketika Rasulullah pergi, dilihatnya beliau dengan pandangan khawatir. Ummu Hani 

segera memanggil seorang hamba sahayanya, seorang perempuan dari Habasyah. 

"Pergilah, ikuti Rasulullah dan dengar yang dikatakan kaumnya terhadap beliau." 

Hamba sahaya itu pun bergegas pergi.