Logo
DKM Hidayatullah Patria Jaya
"Masjid: Tempat Meraih Kemenangan Dunia Akhirat."
image

Bagian 24 


Membangun Ka'bah

Dalam pengerjaan Ka'bah orang-orang Quraisy dibagi menjadi empat bagian. Setiap kabilah

masing-masing mendapat pekerjaan satu sudut yang harus dirombak dan dibangun kembali.

Pemugaran Ka'bah dimulai dengan memindahkan patung Hubal dan patung kecil lainnya.

Setelah itu, pekerjaan dilanjutkan dengan membersihkan pelataran dan membongkar

dinding serta fondasi. Muhammad ikut terlibat dalam pekerjaan yang berlangsung berharihari

itu.


Ada sebuah batu fondasi berwarna hijau yang tidak bisa dibongkar dengan cara apa pun.

Karena itu, batu itu mereka biarkan. Selanjutnya, didatangkanlah batu-batu granit biru dari

bukit sekitarnya. Sebuah bahan pencampur semen bernama bitumen yang didatangkan dari

Syria pun mulai digunakan.


Pemugaran Ka'bah ini sebenarnya lebih menyerupai perbaikan hasil karya Nabi Ibrahim dan

Nabi Ismail.

Pondasi Ka'bah ditinggikan sampai empat hasta ditambah satu jengkal atau sekitar dua

meter. Dalamnya diuruk tanah menjadi lantai yang sulit dicapai air apabila banjir datang

kembali. Bersamaan dengan itu, pintu di sisi timur laut pun diangkat setinggi pondasi.

Dinding dinaikkan sampai 18 hasta. Saat itulah Ka'bah mulai diberi atap bekas kapal yang

kandas itu. Sebuah tangga untuk naik turun juga disiapkan. Kini Ka'bah bebas dari banjir.

Isinya terlindungi dari hujan, panas dan tangan jahil pencuri.


Pembangunan berjalan lancar sesuai dengan rencana sampai dinding tembok mencapai

tinggi satu setengah meter dan tiba saatnya batu hitam, Hajar Aswad, ditempatkan kembali

ke tempatnya semula di sudut timur.


Karena ini merupakan upacara suci penuh kehormatan, berebut lah setiap kabilah untuk

melaksanakannya. Kabilah Abdu Dar merasa lebih berhak daripada Kabilah lain sehingga

kedua kelompok saling beradu mulut sampai suasana menjadi semakin panas.


Di tengah keadaan itu, muncul Abu Umayyah bin Al Mughirah. Ia adalah orangtua yang 

dihormati dan dipatuhi. Ia pun mengajukan sebuah usul yang disetujui oleh semua pihak,

"Serahkanlah putusan ini di tangan orang yang pertama kali memasuki pintu Shafa."



HAJAR ASWAD

Ternyata yang datang pertama kali dari pintu Shafa adalah Muhammad. Orang-orang pun

bersorak lega.

 "Ini dia Al Amin" seru mereka. 

"Dia adalah orang yang bisa dipercaya. Kami yakin dia bisa memecahkan persoalan ini. Kami

akan menerima putusannya."


Orang-orang Quraisy pun menceritakan persoalan yang mereka alami. Muhammad yang

saat itu belum berumur 30 tahun, memandang mereka dengan matanya yang teduh dan

bijaksana. Muhammad melihat berkobarnya api permusuhan pada mata setiap orang dari

masing-masing kabilah Quraisy. Keadaan ini benar-benar genting. Kalau salah mengambil

keputusan, akan terjadi pertumpahan darah di antara kabilah-kabilah itu.


Muhammad berpikir sejenak, lalu dia berkata,

"tolong bawakan sehelai kain."


Kain pun segera diberikan. Muhammad mengambil dan menghamparkan kain itu. Dia lalu

mendekati Hajar Aswad. Diangkatnya batu hitam itu dan diletakkan di tengah-tengah.


"Hendaknya, setiap ketua kabilah memegang ujung kain ini," kata beliau lagi.


Kemudian, para ketua kabilah memegang ujung kain dan bersama-sama mengangkat Hajar

Aswad. Di tempat Hajar Aswad semula berada. Muhammad mengangkat dan

meletakkannya kembali.


Semua pihak merasa amat puas dengan keputusan Muhammad yang adil itu. Demikianlah,

pada waktu muda. Rasulullah telah menjadi orang yang cerdas dan bijaksana.


 Putra Putri Muhammad


Khadijah adalah wanita teladan yang terbaik. Beliau wanita yang penuh kasih, setia, dan

menyerahkan seluruh hidupnya untuk suami tercinta. Khadijah juga wanita yang subur.

Setelah lima belas tahun berumah tangga, Khadijah melahirkan enam orang anak. Mereka

adalah:

Ruqayyah, Zainab, Ummi Kultsum, Fatimah, Qasim dan Abdullah.


Namun, Qasim dan Abdullah wafat ketika masih bayi, sedangkan keempat anak perempuan

yang lain tetap hidup hingga dewasa. Kita dapat membayangkan betapa sedihnya

Muhammad dan Khadijah kehilangan kedua putra mereka.


Ketika pulang ke rumah dan duduk di samping Khadijah, Muhammad sering melihat

kesedihan di wajah istrinya itu. Saat itu, mempunyai anak laki-laki bagi masyarakat jahiliah 

adalah hal yang amat penting dan dianggap sebagai sebuah kebanggaan. Sebaliknya,

mempunyai anak perempuan adalah hal yang amat memalukan, bahkan banyak orang yang

memilih mengubur bayi perempuannya hidup-hidup dari pada membesarkannya.


Tentu saja Muhammad dan Khadijah tidak merasa malu memiliki anak-anak perempuan.

Mereka menyayangi semua anak mereka tanpa pilih kasih. Apalagi putri bungsu mereka,

Fatimah, yang saat itu masih berusia lima tahun, anak cantik yang sedang lucu-lucunya.

Hanya saja kehilangan dua anak laki-laki yang masih bayi merupakan derita yang berat bagi 

orangtua mana pun. 


Kekayaan Terbesar

Rasulullah pernah berkata bahwa kekayaan terbesar adalah istri yang salehah. Khadijah

adalah kekayaan terbesar Rasulullah pada saat-saat paling sulit dalam hidup beliau.



Bagian 25


Rumah Tangga Muhammad


Muhammad selalu membuat suasana rumahnya menjadi hidup dengan canda dan

keramahan. Beliau suka berkelakar kepada siapa pun. Bukan hanya kepada istri dan putriputrinya,

beliau juga amat ramah kepada pembantunya.

Sejak muda, Rasulullah amat gemar memakai parfum. Bau wewangian itu akan membuat

orang-orang di sekitar beliau merasa senang. Rasulullah tidak menyukai baju berwarna

merah. Beliau lebih suka baju berwarna lurik atau putih. Rasulullah juga gemar memakai

surban dengan salah satu ujungnya menggelantung antara pundak.

Beliau tidak pernah menggunakan baju yang seluruhnya terbuat dari sutera.


Kemudian datanglah satu orang yang amat Rasulullah sayangi. Begitu sayangnya sampai

beliau mengangkatnya sebagai anak.


Zaid bin Haritsah


Suatu hari, keponakan Khadijah yang bernama Hakim bin Hizam membawa seorang budak

laki-laki bernama Zaid bin Haritsah. Zaid dibawa ke rumah Khadijah dalam keadaan

mengenaskan. Lehernya dibelenggu sehingga ia terpaksa merangkak seperti seekor kuda.

Bunda Khadijah membeli Zaid dan memperlakukannya dengan baik.


Muhammad amat menyukai Zaid. Apalagi ketika Zaid bercerita bahwa ia dijadikan budak

dengan cara diculik. 


Lima belas tahun yang lalu, Zaid kecil sedang berjalan pulang bersama ibunya ketika datang

para perampok gurun. Zaid disergap dan dibawa lari. Sejak itulah ia hidup sebagai seorang

budak yang diperjualbelikan ke sana kemari. Nasiblah yang membawanya bertemu dengan

Rasulullah, orang yang amat Zaid cintai.

Melihat Muhammad amat menyayangi Zaid, Khadijah memberikan Zaid kepada suaminya

itu. Khadijah yang bijaksana mengerti bahwa suaminya menganggap Zaid seolah sebagai 

pengganti Qasim dan Abdullah yang telah tiada. Muhammad segera memerdekakan Zaid. 

Namun, secara tidak terduga, datanglah Haritsah, ayah Zaid.


Haritsah telah bertahun-tahun mencari Zaid sejak anaknya itu menghilang. Haritsah amat

menyayangi dan merindukan Zaid sehingga ia membuat puisi kesedihan tentang anaknya

itu. Zaid pun amat menyayangi ayahnya.


"Silakan membawa Zaid pulang," kata Muhammad kepada Haritsah. "Tetapi, seandainya

Zaid memilih tetap bersama saya, saya tidak akan menolaknya."


Ternyata, Zaid lebih memilih tinggal bersama Muhammad. Muhammad amat bahagia

sehingga mengangkat Zaid sebagai putra beliau. Sejak saat itu, Zaid sering dipanggil Zaid bin

Muhammad.


Di kemudian hari, Allah melarang anak angkat mewarisi harta ayah angkatnya yang telah

wafat. Harta seorang ayah tetaplah menjadi hak anak kandung, bukan anak angkat. Maha

adil Allah Yang Agung.


Gua Hira

"Berhala berhala yang bernama Hubal, Lata dan Uzza itu tidak pernah menciptakan seekor

lalat sekali pun, bagaimana mungkin mereka akan mendatangkan kebaikan bagi manusia?"

demikian pikir Muhammad.


"Siapakah yang berada di balik semua ini? Siapa yang berada di balik luasnya langit dan

tebaran bintang? Siapa yang berada di balik padang pasir yang panas terbakar kilauan

matahari? Siapa pencipta langit yang jernih dan indah, langit yang bermandi cahaya bulan

dan bintang yang begitu lembut, begitu sejuk? Siapa pembuat ombak yang berdebur dan

penggali laut yang begitu dalam? Siapa yang berada di balik semua keindahan ini?"


Demikianlah Muhammad tidak mencari kebenaran dalam kisah-kisah lama atau tulisan para

pendeta. Ia mencari kebenaran lewat alam. Ia mengasingkan dirinya dari keramaian dan

pergi ke Gua Hira.

"Betapa sia-sianya hidup manusia, waktu terus berlalu, sementara jiwa-jiwa rusak karena

dikuasai khayal tentang berhala-berhala yang mampu melakukan ini dan itu. Betapa siasianya

sianya hidup manusia karena tertipu dengan segala macam kemewahan yang tiada

berguna.'" 


Beliau mengasingkan diri seperti itu beberapa hari setiap bulan dan sepanjang bulan

Ramadhan. Semakin lama, jiwanya semakin matang dan semakin terisi penuh. Sampai suatu

ketika, saat usia Muhammad menginjak 40 tahun, datanglah seseorang yang bukan dari

dunia ini menemui beliau di Gua Hira. Muhammad yang pemberani dan tenang itu amat

terkejut melihatnya.


Bagian 26


Diangkat Menjadi Utusan Allah


Makhluk yang datang itu adalah Malaikat Jibril. Ia datang membangunkan Muhammad yang

sedang tidur karena kelelahan. Jibril berkata kepada Muhammad, "Iqra (Bacalah)!"


Dengan hati yang masih rasa terkejut, Muhammad menjawab, "Apa yang harus saya baca."


Kemudian Malaikat Jibril mendekap sehingga Muhammad merasa lemas. Jibril melepaskan

dekapannya, lalu berkata lagi, "Bacalah!"


Kejadian itu berulang sampai tiga kali. Kemudian, setelah Muhammad berkata, "Apa yang

harus saya baca?" barulah Jibril membacakan Surat Al 'Alaq ayat pertama hingga ayat

kelima:

 

 ﻖﻠﺧ يﺬﻟا ﻚر ﻢﺳﺎ أﺮﻗا


Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan,

Surah Al-'Alaq (96:1)


 ﻖﻠﻋ ﻦﻣ نﺎﺴ

ﻹا ﻖﻠﺧ


Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.

Surah Al-'Alaq (96:2)

 

 مﺮ

ﻷا ﻚرو أﺮﻗا


Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah,

Surah Al-'Alaq (96:3)

 

 ﻢﻠﻘﻟﺎ ﻢﻠﻋ يﺬﻟا

Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, 

Surah Al-'Alaq (96:4)

 

 ﻢﻠﻌ ﻢﻟ ﺎﻣ نﺎﺴ

ﻹا ﻢﻠﻋ

Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

Surah Al-'Alaq (96:5)


Setelah mengucapkan ayat-ayat itu, Malaikat Jibril pun pergi meninggalkan Muhammad 

yang hatinya terhujam oleh firman Allah tadi. 


Muhammad mendadak tersentak sadar. Beliau terbangun dari ketakutan sambil bertanya tanya ya dalam hati, "Siapa gerangan yang kulihat tadi? Apakah aku telah diganggu jin?" 


Beliau menoleh ke kiri dan ke kanan, tetapi tidak ada siapa pun. Muhammad diam sebentar

dengan tubuh gemetar. Beliau lalu lari ke luar gua, menyusuri celah-celah gunung sambil

mengulang pertanyaan dalam hati, "Siapa gerangan yang menyuruhku membaca tadi?"


Mendadak, Muhammad mendengar namanya dipanggil. Panggilan tersebut terasa dahsyat

sekali. Beliau memandang ke cakrawala dan melihat malaikat dalam bentuk manusia.

Muhammad tertegun ketakutan dan terpaku di tempatnya. Ia memalingkan wajah, tetapi di

seluruh cakrawala, ke mana pun beliau memandang rupa malaikat yang indah itu tidak juga

berlalu.

Ketulusan Khadijah


Di rumah, Khadijah tiba-tiba merasa khawatir dengan nasib suaminya. Beliau

mengutus orang untuk mencari suaminya itu, tetapi tidak berhasil menemukannya.


Sementara itu, setelah rupa malaikat menghilang, Muhammad berjalan pulang dengan hati

yang sudah di penuhi wahyu Allah. Dengan jantung yang terus berdenyut keras dan hati

berdebar ketakutan, beliau pulang ke rumah.


"Selimuti aku," pinta Muhammad kepada Khadijah.


Khadijah segera menyelimuti suaminya yang menggigil kedinginan seperti terkena demam.

Setelah rasa takutnya mereda, beliau memandang Khadijah dengan tatapan mata meminta

kekuatan dan perlindungan.

"Khadijah, kenapa aku?" kata Muhammad.


Kemudian, Muhammad menceritakan semua yang telah terjadi. Beliau juga berkata bahwa

ia takut semua itu bukan datang dari Allah, melainkan gangguan jin.


"Wahai putra pamanku," jawab Khadijah penuh sayang, "bergembiralah dan tabahkan

hatimu. Demi Dia yang memegang hidup Khadijah, aku berharap kiranya engkau akan

menjadi nabi atas umat ini. Sama sekali Allah takkan mencemoohkanmu sebab engkaulah

yang mempererat tali kekeluargaan dan jujur dalam berkata-kata. Engkau selalu mau 

memikul beban orang lain dan menghormati tamu serta menolong mereka yang dalam

kesulitan atas jalan yang benar."


Kata-kata Khadijah itu menuangkan rasa damai dan tenteram ke dalam hati suaminya yang

sedang gelisah. Khadijah benar-benar yakin bahwa suaminya itu bukan diganggu jin. Beliau

malah memandang suaminya itu dengan penuh rasa hormat.


Muhammad pun segera tenang kembali. Beliau memandang Khadijah dengan penuh kasih 

dan rasa terimakasih. 

Tiba tiba, sekujur tubuhnya terasa amat letih dan beliau pun tertidur lelap.


Sejak saat itu, berakhirlah kehidupan tentang seorang Muhammad. Mulai saat itu,

kehidupan penuh perjuangan keras dan pahit akan dilaluinya sebagai seorang *Rasulullah,

utusan Allah*.


Kabar dari Waraqah bin Naufal


Khadijah menatap suaminya yang tertidur pulas itu. Dilihatnya kembali suaminya yang

tertidur dengan nyenyak dan tenang sekali. Khadijah membayangkan apa yang baru saja

dituturkan suaminya. Firman Allah dan Malaikat yang indah. Luar biasa!


"Semoga kekasihku ini memang akan menjadi seorang nabi untuk menuntun umat ini keluar

dari kegelapan," demikian pikir Khadijah.


Saat berpikir demikian, senyumnya mengembang. Namun, senyum itu segera menghilang,

berganti rasa takut memenuhi hati tatkala dibayangkan nasib yang bakal menimpa

suaminya itu apabila orang-orang ramai menentangnya.


Demikianlah, pikiran bahagia dan sedih terus berganti-ganti dalam benak Khadijah.

Akhirnya, beliau memutuskan untuk menceritakan hal ini kepada seseorang bijak yang

dipercayanya.


Khadijah pun pergi menemui pamannya, Waraqah bin Naufal, seorang pendeta Nasrani

yang jujur, dan menceritakan semua yang didengarnya dari Muhammad.


Waraqah bertafakur sejenak, lalu berkata, "Mahasuci Ia, Mahasuci. Demi Dia yang

memegang hidup Waraqah. Khadijah, percayalah, suamimu telah menerima 'namus besar'

1) seperti yang pernah diterima Musa. Sungguh, dia adalah nabi umat ini. Katakan

kepadanya supaya tetap tabah."

Khadijah pulang. Dilihatnya suaminya masih tertidur. Dipandanginya suaminya itu dengan

rasa kasih dan penuh ikhlas, bercampur harap dan cemas. Tiba-tiba, tubuh suaminya

menggigil, napasnya terlihat sesak dengan keringat memenuhi wajah.


___________________

1) Namus Besar 


Namus besar yang dimaksud Waraqah bin Naufal berasal dari bahasa Yunani, noms, artinya

kitab undang-undang atau kitab suci yang diwahyukan. Namus bukan istilah dalam Al

Qur'an.

Bersambung