KISAH NABI MUHAMMAD #16
Bagian 39
Berita untuk Umar
Umar melanjutkan langkahnya menuju Darul Arqam.
"Sudah jelas, Muhammad-lah yang menyebabkan semua kesengsaraan ini! Aku harus
membunuhnya agar Mekah kembali damai dan tenang. Mengenai Hamzah, aku akan
bertarung dengannya. Aku yang mati atau Hamzah yang mati, itu tidak terlalu membuatku
risau."
Tiba-tiba, lamunannya buyar ketika Nu'aim bin Abdullah menegurnya, "Hendak kemana,
wahai putra Khattab?"
"Aku akan menemui Muhammad! Dia yang menukar agama nenek moyang kita. Dia yang
memecah belah masyarakat Quraisy. Dia memiliki banyak angan-angan bodoh. Dia yang
mencaci tuhan-tuhan kita. Untuk semua kesalahannya itu, aku akan menebas lehernya!"
"Demi Allah, engkau telah tertipu oleh dirimu sendiri, wahai Umar! Apakah tindakanmu
membunuh Muhammad akan dibiarkan saja oleh Bani Abdi Manaf? Tidakkah lebih baik
engkau pulang dan mengurusi keluarga mu sendiri?"
Umar berhenti melangkah dan bertanya tajam, "Keluarga ku yang mana?"
"Saudara sepupumu sendiri, Sa'id bin Zaid bin Ammar dan istrinya yang tak lain adalah adik
perempuanmu, Fathimah binti Khattab. Mereka telah mengikuti ajaran Muhammad, urusi
saja mereka dulu!"
Umar segera membalikkan badan dan melangkah cepat menuju ke rumah adiknya.
"Kalau itu benar, aku akan bertindak pada Sa'id bin Zaid seperti yang pernah dilakukan oleh
ayahku yang garang. Al Khattab, kepada ayah Sa'id, Zaid bin Ammar! Berani-beraninya dia
memeluk Islam, sedangkan dia tahu aku membenci agama itu!"
Dengan keras, Umar bin Khattab menggedor pintu rumah Sa'id bin Zaid dan Fatimah.
Suaranya berdentum-dentum keras mengejutkan siapa saja yang ada di dalam rumah.
Sudah bisa diduga, kali ini akan jatuh lagi korban dalam penganiayaan yang menimpa kaum
Muslimin.
Amuk Umar bin Khattab
Di dalam rumah, Sa'id dan Fathimah binti Khattab sedang mengikuti ayat Al Qur'an yang
dibacakan oleh Khabbab bin Al Arat. Begitu pintu berguncang diketuk Umar, Sa'id dan
Fathimah segera menyembunyikan Khabbab. Fathimah segera menyembunyikan lembaran lembaran
yang tadi mereka baca di bawah pahanya.
Sa'id membuka pintu dan Umar bergegas masuk.
"Suara apa yang baru kudengar itu?" bentak Umar.
" Tidak.... kami tidak mendengar suara apa pun tadi "
Seketika amarah Umar bin Khattab meledak, "Kudengar kalian telah mengikuti ajaran
Muhammad!"
Belum sepatah kata pun keluar dari mulut kedua suami istri itu, pedang Umar sudah terayun
dan gagangnya mengenai Sa'id hingga ia jatuh terjerembab di lantai dan luka. Melihat
suaminya berdarah, Fathimah bangkit berusaha melerai, tetapi tangan Umar cepat sekali
menampar wajahnya.
Fathimah jatuh di samping suaminya dengan darah mengucur dari wajahnya.
Meski garang, Umar terkenal lembut dan penyayang kepada keluarganya sendiri. Melihat
darah Fathimah, Umar tertegun.
"Fathimah berdarah," pikirnya, "Mengapa aku bisa sampai begitu? Aku menyayangi adikku
itu sepenuh hati, bahkan lebih mirip rasa sayang antara ayah kepada putrinya!"
Fathimah yang lembut dan biasanya selalu patuh kepada Umar, kali ini mengangkat wajah,
menentang langsung paras kakaknya itu.
"Baiklah," seru Fathimah
"lakukanlah apa saja yang engkau kehendaki!"
Fathimah sudah siap menghadapi berbagai kemungkinan yang akan terjadi. Ia siap disiksa
oleh kakaknya sendiri yang dari kecil begitu menyayanginya, ia bahkan siap untuk mati.
Kedua tangannya terentang, seolah siap menerima tikaman pedang Umar ke dadanya.
Al Qur'an bukan Mantra Syair
Suatu malam, Umar bin Khattab diam-diam mendengar Rasulullah ﷺ membaca Al Qur'an
pada malam hari, Umar terpesona. Namun, ia berkata dalam hati, "Ah, ini pasti ucapan
seorang penyair". Bisik hati Umar.
Saat itu Rasulullah ﷺ membaca surah Al Haqqah ayat 41,
ﺎﺷ لﻮﻘ ﻮﻫ ﺎﻣو نﻮﻨﻣﺆﺗ ﺎﻣ ﻠﻗ ۚ ﺮﻋ
"Dan Al Quran itu bukanlah perkataan seorang penyair. Sedikit sekali kamu beriman
kepadanya."
Kembali, Umar bin Khattab diam-diam datang ke rumah Rasulullah pada tengah malam dan
mendengar Rasulullah membaca Al Qur'an. Umar berkata dalam hati, "Kalau ini bukan
ucapan tukang tenung, ini pasti ucapan Muhammad, bukan Firman Tuhan."
Namun, sesegera itu juga, Rasulullah membaca Surah Al Haqqah ayat 43:
ﻤﻟﺎﻌﻟا بر ﻦﻣ ﻞ
ﺗ
"Ia (Al Qur'an) adalah wahyu yang diturunkan dari Tuhan seluruh alam."
Bagian 40
Surat Thohaa
Akan tetapi, Umar tidak bisa melawan rasa sayang kepada adiknya. Amarahnya padam
seperti api terguyur hujan. Ia duduk, diam dalam penyesalan. Ditatapnya wajah adiknya
dalam-dalam, disesalinya luka akibat tamparannya tadi.
"Perlihatkan lembaran-lembaran tadi yang kalian baca agar aku tahu apa yang Muhammad
bawa," pinta Umar.
"Kami khawatir engkau merampas lembaran-lembaran itu."
"Tidak perlu takut, perlihatkanlah. Aku bersumpah akan mengembalikannya."
Saat itu, timbul harapan di hati Fatimah agar kakaknya memeluk Islam.
"Kakak engkau adalah penyembah berhala, karena itu engkau kotor. Sesungguhnya,
lembaran ini tidak boleh disentuh kecuali orang yang suci."
Tanpa berkata lagi, Umar berdiri lalu mandi. Setelah itu ia kembali dan membaca lembaranlembaran
yang berisi surat thohaa.
ﻪﻃ
Thaahaa.
ﺸﻟ نآﺮﻘ
ﻟا ﻚﻠﻋ ﺎﻨﻟﺰﻧأ ﺎﻣ
Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah;
ﺨ ﻦﻤﻟ ةﺮﻛﺬﺗ إ
tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah),
ﻌﻟا تاوﺎﻤﺴﻟاو ضرﻷا ﻖﻠﺧ ﻦﻤﻣ
ﺗ
yaitu diturunkan dari Allah yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi.
ىﻮﺘﺳا شﺮﻌﻟا ﻋ ﻦﻤﺣﺮﻟا
(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas ´Arsy.
ى
ﻟا ﺖﺤ
ﺗ ﺎﻣو ﺎﻤﻬﻨﺑ ﺎﻣو ضر
ﻷا
ﺎﻣو تاوﺎﻤﺴﻟا
ﺎﻣ ﻪﻟ
Kepunyaan-Nya-lah semua yang ada di langit, semua yang di bumi, semua yang di antara
keduanya dan semua yang di bawah tanah.
ﺧأو
ﻟا ﻢﻠﻌ ﻪﻧﺈﻓ لﻮﻘﻟﺎ ﺮﻬﺠﺗ نو
Dan jika kamu mengeraskan ucapanmu, maka sesungguhnya Dia mengetahui rahasia dan
yang lebih tersembunyi.
ﺴﺤﻟا ءﺎﻤﺳ
ﻷا ﻪﻟ ۖ ﻮﻫ إ ﻪﻟإ ا
Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Dia mempunyai al
asmaaul husna (nama-nama yang baik),
mar terus membaca sebagian besar lembaran-lembaran tadi, lalu berhenti. Tangannya
terkulai. Matanya sayu.
Dikembalikannya lembaran-lembaran tadi ke tangan Fatimah. Dengan rasa heran dan penuh
harap, Fatimah memerhatikan wajah kakaknya.
Kemudian di dengarnya Umar mendesah. "Alangkah bagus dan agung kata-kata ini."
Seolah mendadak matahari yang terang benderang muncul dari balik awan. Khattab bin Al
Arat segera keluar dari persembunyiannya.
"Wahai Umar!" serunya meluap-luap, "aku sungguh berharap mudah-mudahan Allah
mengistimewakan dirimu. Kemarin kudengar Rasulullah berdoa, "Ya Allah! kuatkanlah Islam
dari dua Umar, Abu Jahal bin 'Amr bin Hisyam atau Umar bin Khattab!"
Mendengar itu, Umar segera bangkit dan bergegas menuju Darul Arqam. Namun, tangannya
masih menghunus pedang dan wajahnya seperti singa padang pasir yang siap bertarung.
Keislaman Umar bin Khattab
Berdentum-dentum pintu Darul Arqam diketuk Umar. Sebelum membuka pintu, seorang
sahabat mengintip keluar dan terkejut, seperti baru mengalami mimpi buruk.
"Pengetuk pintu adalah Umar bin Khattab!" desisnya panik kepada Rasulullah dan orang-
orang di dalam, "Dia datang dengan pedang terhunus!"
Hamzah bin Abdul Muthalib berdiri dan berkata tenang. "Biarkan saja dia masuk. Jika dia
datang dengan maksud baik, kita sambut dengan baik. Namun, jika dia datang dengan
maksud jahat, kita bunuh saja dia dengan pedangnya"
Setelah berkata begitu, tangan Hamzah bergerak meraba gagang pedangnya. Suasana
tambah mencekam ketika pintu dibuka. Namun, Umar tidak juga masuk, ia tetap berdiri
dengan sikap garang di depan pintu.
Melihat itu, Rasulullah pun berdiri dan berjalan cepat menghampiri Umar. Dengan
kecepatan yang bahkan tidak terduga oleh Umar sendiri, tangan Rasulullah yang mulia
bergerak dan mencengkeram leher baju Umar dengan kuat.
Dengan suara tegas yang tidak bisa dibantah, Rasulullah berkata,
"Wahai Umar! Dengan maksud apa engkau datang? Demi Allah, aku tidak akan melihat
engkau berhenti dengan sikap dan tindakanmu terhadap kami hingga Allah menurunkan
bencana untukmu"
Kerongkongan Umar tersekat karena begitu terkejut. Kesombongannya runtuh, bahkan rasa
takut menguasai dirinya. Dengan suara lirih ia berkata "Wahai Rasulullah....... "
Semua orang di Darul Arqam tercengang. Mereka lebih tercengang lagi mendengar Umar
bin Khattab, sang Singa Quraisy, melanjutkan kata-katanya,
"Aku datang kepadamu untuk beriman kepada Allah dan Utusan-Nya"
Rasulullah melepaskan cengkeramannya dan berkata penuh rasa syukur, "Subhanallah ....."
Takbir Hamzah membahana. Pada bulan Dzulhijjah tahun keenam kenabian itu, Umar bin
Khattab, Sahabat berperang dan teman minumnya, menjadi saudara seiman. Hati mereka
terikat dalam tali yang tidak bisa putus lagi sampai ke akhirat. Dengan kegembiraan yang
tiada tara, Rasulullah mengusap dada Umar agar sahabat barunya itu tetap dalam
keimanan.
Bersambung