KISAH NABI MUHAMMAD #18
KISAH RASULULLAH
ﷺ Bagian 43
Kaum Muslimin Menang Siasat para utusan Quraisy itu sederhana saja. "Paduka" kata mereka kepada Najasyi keesokan harinya, sesungguhnya kaum Muslimin menuduh keji terhadap Isa anak Maryam."
Mendengar itu, Najasyi terkejut. Dia langsung memanggil Ja'far dan teman-temannya. "Benarkah kalian menuduh Isa anak Maryam dengan tuduhan yang jelek?" tanya Najasyi. Ja'far kembali menjawab dengan tenang. "Tentang dia, pendapat adalah seperti yang dikatakan Nabi kami. "Dia adalah hamba Allah dan utusan-Nya. Ruh-Nya dan firman-Nya yang disampaikan perawan Maryam. "
Najasyi turun dari singgasananya dengan mata berbinar gembira. Dia mengambil sebuah
tongkat dan membuat garis lurus diatas tanah.
"Antara agama Tuan-Tuan dan agama kami," katanya penuh gembira bercampur haru,
"sebenarnya tidak lebih dari garis ini."
Nyata bagi Najasyi bahwa kaum Muslimin mengakui Nabi Isa, mengenal adanya Kristen, dan
menyembah Allah.
Kedua utusan Quraisy pun pulang dengan tangan hampa. Tidak ada celah bagi tuduhan atau
siasat yang mereka lancarkan. Kenyataan pahit ini akan segera sampai kepada para pemuka
Quraisy di Mekah.
Setelah itu kaum Muslimin tinggal di Habasyah dengan perasaan aman dan tentram.
Sempat Kembali
Kaum muslimin yang berhijrah ke Habasyah sempat kembali ke mekah karena mendengar
berita bahwa orang Quraisy sudah tidak terlalu keras memusuhi Rasulullah dan
pengikutnya. Namun, ketika mengetahui bahwa orang Quraisy malah bersikap semakin
keras, mereka kembali berhijrah ke Habasyah.
Ajakan Saling Menyembah Tuhan
Di Mekah, para pembesar Quraisy, Abu Jahal bin Hisyam, Abu Sufyan bin Harb, Abu Lahab,
Utbah bin Rabi'ah, Walid bin Mughirah, dan Ummayah bin Khalaf mengundang Rasulullah ke
pertemuan mereka. Sejenak, hati Rasulullah penuh harapan, mungkin lewat pertemuan hari
ini mereka akan tersentuh oleh Islam.
Alangkah kecewanya Rasulullah ketika lagi-lagi yang mereka tawarkan kepadanya adalah
soal harta dan kekuasaan. Beliau diam sejenak, lalu berkata,
"Apa yang kalian katakan sama sekali tidak pernah terlintas dalam lubuk hatiku. Aku datang
memenuhi ajakan kalian untuk mengadakan perundingan. Tidak ada maksud sama sekali
untuk mencari harta kekayaan, tidak pula kemuliaan, dan kekuasaan.
Allah telah mengutus diriku sebagai utusan bagi kalian semua. Jika kalian mau menerima
ajaran-ajaran yang kubawa, hal itu merupakan keberuntungan kalian di dunia dan di akhirat.
Jika kalian semua menolak, aku akan bersabar hingga Allah memutuskan persoalan yang
terjadi di antara aku dan kalian."
Para pembesar Quraisy itu mengerutkan kening. Lagi-lagi Muhammad bicara tentang
Tuhannya. Salah seorang di antara mereka pun akhirnya bicara,
"Marilah antara kami dan engkau mengadakan kerja sama dalam persoalan ketuhanan ini.
Jika yang kami sembah lebih baik daripada yang kamu sembah, kami akan memperoleh
keuntungan darinya. Jika yang engkau sembah lebih baik daripada yang kami sembah,
engkau akan memperoleh keuntungan darinya."
Orang itu menarik napas sejenak, lalu melanjutkan lagi,
"Maka, engkau harus menyembah tuhan-tuhan kami dan menjalankan perintah
perintahnya. Kami akan menyembah Tuhanmu dan menjalankan perintah-Nya."
Rasulullah tidak menunggu sejenak pun untuk menanggapi. Beliau mengutip sebuah ayat Al
Qur'an (surah Al-Kafirun),
َ َ أﻋ ْ ُ ﺪ ُ ﻣ َ ﺎ ﺗ َ ﻌ ْ ُ ﺪ ُ ون
Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.
Surah Al-Kafirun (109:2) َ
Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah.
Surah Al-Kafirun (109:3)
Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah,
Surah Al-Kafirun (109:4)
dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah.
Surah Al-Kafirun (109:5) Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.
Surah Al-Kafirun (109:6)
Perundingan pun buntu. Para pembesar Quraisy itu merasa tidak ada jalan lagi untuk
melakukan perubahan. Mereka merasa harus mengambil tindakan keras! Begitu kerasnya
sampai Muhammad dan pengikutnya akan meminta ampun kepada mereka!
Pemboikotan
"Kalian bayangkan!" seru seorang pemuka Quraisy kepada yang lainnya. "Jumlah pengikut
Muhammad kian bertambah! Budak-budak kita telah berani mengangkat muka di hadapan
tuan-tuannya sebab mereka dilindungi para pengikut Muhammad yang kaya raya! Jika kita
menyiksa budak itu, pasti datang salah seorang pengikut Muhammad yang tanpa berat hati
akan membebaskan mereka!"
"Itu yang membuatku khawatir!" sahut yang lain,
"bayangkan jika jumlah budak yang dibebaskan itu makin banyak dan mereka diberi senjata,
kita pasti akan kewalahan menghadapinya!"
Pembesar yang lain terdiam. Mereka mengakui ancaman besar itu.
"Sejak Hamzah dan Umar mengikuti Muhammad, kita benar-benar kekurangan kekuatan,"
keluh seseorang.
Kata-kata itu menyakitkan dan membuka luka lama. Bagi para pembesar itu, puluhan budak
yang masuk Islam tidak sebanding dengan keislaman seorang Hamzah atau Umar.
"Muhammad tidak akan berdaya kalau keluarganya dari Bani Hasyim tidak melindunginya!"
geram seseorang.
"Ya, Bani Hasyim pun belum semuanya jadi pengikut Muhammad, mereka harus menerima
akibatnya! Kita boikot mereka semua! Jangan beri mereka kesempatan untuk mencari
nafkah! Kita buat mereka semua miskin dan sengsara!"
Seruan itu disambut ramai oleh para pembesar. Akhirnya, mereka mengeluarkan sebuah
pengumuman yang mereka tulis di atas sebuah lembaran. Isinya melarang seluruh manusia
menjalin hubungan pernikahan dan jual beli dengan Bani Hasyim. Lembaran itu mereka
gantungkan di dinding Ka'bah.
Keesokan harinya, penduduk Mekah menjadi gempar. Keputusan ini akan membuat Bani
Hasyim terkucil, kelaparan dan tertekan.
KISAH RASULULLAH ﷺ
Bagian 44
Derita Pemboikotan
Pemboikotan kecil-kecilan terhadap kaum Muslimin sebenarnya telah lama dijalankan.
Kalau ada seseorang saudagar menjadi Muslim, Abu Jahal akan mengatakan, "Akan kami
boikot barang-barangmu dan mengubahmu sampai jadi pengemis."
Rasulullah ﷺ, Bani Hasyim dan kaum Muslimin diasingkan ke dalam Syi'ib, benteng kecil
milik Abu Thalib. Kaum Quraisy menegaskan bahwa jika Bani Hasyim menyerahkan
Rasulullah ﷺ, pemboikotan kepada mereka akan dicabut. Namun, bukannya merasa takut,
Bani Hasyim malah semakin setia kepada Rasulullah ﷺ yang merupakan anggota keluarga
mereka.
Pemboikotan ini berjalan tiga tahun lamanya. Selama itu, hanya musim haji saja Rasulullah dan para pengikutnya bebas berdakwah keluar Syi'ib. Itu pun selalu diikuti Abu Lahab
ﷺ
sambil mengolok-olok Rasulullah ﷺ dengan kata-kata kasar. Pada musim haji itu, Mekah
ramai didatangi para peziarah dari pelosok jazirah.
Akibat adanya pelarangan hubungan dagang, saat itu, Rasulullah ﷺ tidak dapat membeli
makanan yang cukup. Pada waktu-waktu yang sulit, mereka sering terpaksa makan daun
daunan dan kulit-kulit pohon yang tipis. Anak-anak menangis pada malam hari karena
kelaparan. Semetara itu, orang-orang dewasa mengganjal perutnya dengan batu agar tidak
masuk angin.
Perbuatan kejam itu juga menimbulkan rasa kasihan sebagian orang Quraisy. Apalagi yang
memiliki hubungan saudara dengan Bani Hasyim. Orang-orang itu sering dengan berbagai
cara menolong keluarga mereka di dalam Syi'ib.
Suatu ketika Abu Jahal sedang meronda di sekitar Syi'ib, memergoki Hakim bin Hisyam bin
Khuwailid dan budak laki-lakinya berusaha meyelundupkan gamdum dan makanan lain
untuk bibinya yang tidak lain Khadijah istri Rasulullah ﷺ.
Tanpa ampun, Abu Jahal memukuli budak laki-laki itu dan merampas karung gandumnya.
"Aku bersumpah....!" teriak Abu Jahal terengah-engah sambil terus memukul. "Aku
bersumpah tidak seorang pun dapat menyelundupkan makanan kepada Muhammad!"
Pada saat itu, Al Bakhtari datang sambil berseru kepada Abu Jahal. " Hei makanan ini tadinya
milik bibinya. Bibinya lalu mengirimkan kepadanya, mengapa engkau melarangnya
mengantarkan makanan tersebut kepada bibinya lagi?"
Kemudian keduanya berkelahi Abu Jahal terluka karena dipukul dengan tulang unta.
Syi'ib Abu Thalib
Syi'ib Abu Thalib, tempat kaum muslimin digiring, dikurung dan dijaga, dikelilingi dinding
batu tinggi yang tidak dapat dipanjat. Letaknya di Bukit Abu Qubays, sebelah timur Mekah.
Pintu masuknya berupa celah sempit dengan tinggi kurang dari dua meter yang hanya dapat
dimasuki unta dengan susah payah.
Derita di Pengasingan
"Ibuuu aku lapar,"...tangis seorang anak di dalam Syi'ib.
"Besok ya nak! Besok kita dapat kiriman makanan," jawab ibunya.
"Tidak mau, aku mau makan sekaraaaang....." Karena tidak kuat menahan perutnya yang
perih, anak itu menangis dan menjerit-jerit.
Tangis dan jerit anak-anak terdengar hampir setiap malam dari dalam Syi'ib. Sebagian
penduduk Mekah mulai tidak tega melihat penderitaan Bani Hasyim, tetapi mereka takut
untuk membantu.
Ada empat ratus orang keluarga Bani Hasyim yang bertahan di dalam Syi'ib. Kehidupan
mereka begitu keras dan penuh dengan kekurangan, tetapi tidak satupun yang berniat
mengkhianati Rasulullah ﷺ. Padahal, tidak semua anggota keluarga telah memeluk agama
Islam, termasuk Abu Thalib, sang pemimpin Bani Hasyim.
Kehadiran Rasulullah ﷺ di tengah-tengah mereka sudah cukup membuat mereka lupa akan
segala kecemasan dan membuat mereka selalu berbahagia. Mereka mengerti bahwa Allah
telah memilih mereka untuk melindungi utusan-Nya dari semua musuh. Bagi Bani Hasyim,
itu sebuah kehormatan yang membuat mereka tidak mau menukar Rasulullah dengan apa
pun, bahkan dengan sebuah kerajaan sekali pun. Mereka bahkan menjalankan tahun-tahun
pengasingan yang pahit itu dengan rasa bangga.
Tidak satu pun dari empat ratus orang itu berniat untuk menyelamatkan dirinya sendiri.
Padahal, mereka tidak tahu kapan pengasingan itu akan berakhir. Hari demi hari, minggu
demi minggu, bulan demi bulan dijalani dengan penuh harapan. Mereka semua sudah
bertekad mengikuti Rasulullah ﷺ kemana pun. Mereka lebih suka menjadi tawanan dari
pada bebas tanpa Rasulullah. Bagi mereka, hidup tanpa Rasulullah ﷺ adalah hidup yang
tidak layak di jalani.
Selama masa-masa sulit itu, ada sosok penting selain Rasulullah ﷺ yang menjadi sosok
teladan bagi semua penghuni Syi'ib, bagaimana mereka harus menjalani hidup dengan
penuh ketabahan.
KISAH RASULULLAH ﷺ
Bagian 45
Ketabahan Khadijah
Khadijah-lah yang menjadi teladan bagi semua orang pada saat-saat sulit itu. Beliau adalah
keturunan bangsawan dan dibesarkan dalam lingkungan yang mewah. Namun, ketika harus
meninggalkan rumahnya yang luas dan tinggal di lembah yang sempit. Khadijah sama sekali
tidak menunjukkan keengganan. Beliau mengumpulkan segala kekuatan, keberanian,
kemampuan, serta bangkit penuh semangat.
Pada saat-saat itu, air adalah hadiah yang sangat berharga. Khadijah memberikan kepada Ali
bin Abu Thalib keping-keping emas untuk membeli air yang kemudian beliau bagikan secara
merata kepada semua yang membutuhkan.
Khadijah adalah bidadari pelindung bagi kaumnya. Beliau amat memerhatikan nasib anak
anak, keluarga Bani Hasyim. Setiap kali ada bahan makanan yang berhasil di dapatkan,
Khadijah mengatur agar anak-anak mendapatkannya lebih dahulu daripada orang dewasa.
Setelah itu, beliau mendahulukan kepentingan para orang tua dibandingkan kepentingannya
sendiri.
Khadijah selalu menjadikan sabar dan shalat sebagai sumber kekuatannya. Beliau memohon
pertolongan Allah setiap saat. Ketika berdoa, Khadijah tidak hanya mendapatkan
pertolongan, tetapi juga keberanian, kekuatan, kedamaian, ketenangan dan kepuasan.
Selama tiga tahun di pengasingan itu, kekayaan Khadijah yang berlimpah itu habis. Sebagian
besar harta itu digunakan untuk membeli air. Beliau amat berbahagia karena dapat
menggunakan kekayaannya itu untuk menyelamatkan hamba Allah yang paling mulia,
Muhammad ﷺ dan keluarganya.
Beliau menganggap semua itu adalah sebuah kehormatan, sehingga sangat mensyukurinya.
Di tengah-tengah bencana dan kesusahan itu, Khadijah tetap tegar dalam keimanan. Hal
itulah yang menjadi sumber kekuatan yang tidak tergoyahkan bagi orang-orang di sekitar
beliau. Khadijah selalu berhubungan dengan Allah lewat shalat. Shalat adalah rahasia
keberanian beliau. Perilaku beliau yang tenang dan lembut menjadi pendorong (kekuatan)
bagi seluruh anggota Bani Hasyim di tengah-tengah kesulitan itu.
Perhiasan Terindah di Dunia
Islam sangat memuliakan kaum wanita. Rasulullah ﷺ bersabda:
"Seindah-indahnya perhiasan di muka bumi ini adalah wanita sholihah."
Hikmahnya "Wanita adalah tiang sebuah bangsa. Apabila wanitanya baik, baik pulalah suatu
bangsa. Namun, apabila wanitanya jelek, jelek pulalah bangsa itu."
Harta Abu Bakar
Ketika masuk Islam, Abu Bakar memiliki harta sebanyak 50.000 dirham. Beliau
membebaskan tujuh budak dengan 400 dirham per orang. Jadi, uang beliau terpakai
sebanyak 2.800 dirham, sebagian besar sisanya dipergunakan untuk mempertahankan
hidup bersama kaum muslimin di dalam Syi'ib
Thufail Ad Dausi
Di tengah-tengah kesulitan itu, Rasulullah yang tidak pernah menyerah, sedikit demi sedikit
terus mendapatkan kemenangan. Suatu hari, datanglah seorang bangsawan dan penyair
cendekia dari luar Mekah, bernama Thufail Ad Dausi. Seketika itu juga, orang-orang Quraisy
memberinya peringatan,
"Hati-hati terhadap Muhammad, jangan dengar kata-katanya. Dia telah memecah belah
orang dengan keluarganya. Kami takut jika kamu mendengarnya, kaum kamu juga akan
terpecah-belah. Hati-hati dan jangan sekali-kali mendengarkannya!"
Diperingatkan seperti itu, membuat Thufail penasaran.
"Namun, aku adalah cendikiawan dan penyair. Aku dapat mengenal mana yang baik dan
mana yang buruk. Apa salahnya kalau aku mendengarkan sendiri apa yang akan dikatakan
orang itu? Jika ternyata baik akan aku terima, kalau buruk akan kutinggalkan."
Setelah berfikir begitu, Thufail Ad Dausi mengikuti Rasulullah sampai ke rumahnya.
"Tuan benarkah Anda seperti dituduhkan orang?" tanya Thufail,
"Apa yang Anda bawa dan Anda sampaikan kepada mereka?"
Rasulullah menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dan membacakan ayat-ayat Al-Qur'an. Hati
Thufail segera luluh dan dia pun memeluk Islam. Ketika kemudian ia kembali kepada
kaumnya, sebagian mereka langsung memeluk Islam, sebagian yang lain tampak ragu.
Selain Thufail ada dua puluh orang yang diutus masyarakat beragama Nasrani untuk
mencari tahu tentang Rasulullah. Begitu bertemu dan berbincang dengan beliau, mereka
langsung menyambut, menerima, dan beriman kepada beliau.
Orang-orang Quraisy menjadi geram dan memaki-maki mereka.
"Kalian ini utusan yang gagal! Kalian disuruh oleh masyarakat seagamamu mencari berita
tentang orang itu. Sebelum kamu kenal benar-benar siapa dia, agama kamu sudah kamu
tinggalkan dan lalu percaya saja apa yang dikatakannya."
Abu Sufyan, Abu Jahal, dan Akhnas
Melihat orang-orang di luar Mekah seperti Thufail Ad Dausi dan orang-orang Nasrani
memeluk Islam, para Pembesar Quraisy yang paling gigih memusuhi Rasulullah pun jadi
bertanya-tanya,
"Benarkah yang dibawa Muhammad itu benar?"
Diam-diam Abu Sufyan pergi pada suatu malam mendekati kediaman Rasulullah. Dia tahu
Rasulullah selalu bangun malam dan membaca Alquran. Saat Abu Sufyan mendengar ayat
ayat Alquran dibacakan, begitu tenang dan damai hatinya. Suara Rasulullah yang merdu
menggema di kalbunya.
Fajar pun tiba dan Abu Sufyan bergegas pulang. Namun saat itu, dia memergoki Abu Jahal
juga sedang mendengarkan bacaan Rasulullah. Mereka saling pandang tanpa mampu
berkata, lewatlah Akhnas bin Syariq. Rupanya, Akhnas pun diam-diam pergi mendengarkan
Rasulullah membaca Alquran. Mereka bertiga pun saling menyalahkan.
"Kejadian ini tidak boleh terulang lagi," ujar salah satu dari mereka.
"Jika masyarakat kita tahu, kedudukan kita akan lemah dan mereka akan berpihak kepada
Muhammad."
Ketiganya pun berjanji untuk tidak mengulangi perbuatan itu.
Namun, pada malam berikutnya, mereka terbawa perasaannya masing-masing seperti
kemarin. Tanpa dapat menolak bisikan hati, mereka kembali ke tempat semalam dan
mendengarkan ayat Alquran dibacakan. Hampir Fajar, mereka mereka bertemu dan saling
menyalahkan laki.
Perbuatan itu terulang lagi pada malam ketiga. Ketika mereka saling bertemu pada waktu
fajar, kembali mereka saling tuduh.
Rasa takut kemudian timbul di hati masing-masing. Mereka takut kehilangan kedudukan jika
masyarakatnya memeluk Islam. Rasa takut inilah yang membuat mereka berteguh hati
untuk membuang jauh-jauh perasaan tenang dan damai yang mereka rasakan saat
mendengar bacaan Alquran.
Setelah itu, tidak seorang pun dari mereka yang kembali ke rumah Rasulullah pada tengah
malam untuk mendengarkan beliau secara diam-diam.
KISAH RASULULLAH ﷺ
Bagian 46
Mengejek Al Qur'an
(Makanan surga) itukah hidangan yang lebih baik ataukah pohon zaqqum.
Surah As-Saffat (37:62)
Sesungguhnya Kami menjadikan pohon zaqqum itu sebagai siksaan bagi orang-orang yang
zalim.
Surah As-Saffat (37:63)
Sesungguhnya dia adalah sebatang pohon yang ke luar dari dasar neraka yang menyala.
Surah As-Saffat (37:64)
mayangnya seperti kepala syaitan-syaitan.
Surah As-Saffat (37:65)
Surat Ash-shaffat ayat 62-65 menjelaskan tentang makanan orang di neraka berupa buah
zaqqum.
Abu Jahal mengatakan bahwa pohon zaqqum itu tentunya seperti kurma Yatsrib yang dapat
kamu santap.
Kemudian, Allah menghina Abu Jahal dalam Surat Ad-Dukhan ayat 43 - 49 .
ِ
Sesungguhnya pohon zaqqum itu,
Surah Ad-Dukhan (44:43)
ِ
makanan orang yang banyak berdosa.
Surah Ad-Dukhan (44:44)
(Ia) sebagai kotoran minyak yang mendidih di dalam perut,
Surah Ad-Dukhan (44:45)
ِ
seperti mendidihnya air yang amat panas.
Surah Ad-Dukhan (44:46)
Peganglah dia kemudian seretlah dia ke tengah-tengah neraka.
Surah Ad-Dukhan (44:47)
Kemudian tuangkanlah di atas kepalanya siksaan (dari) air yang amat panas.
Surah Ad-Dukhan (44:48)
Rasakanlah, sesungguhnya kamu orang yang perkasa lagi mulia.
Surah Ad-Dukhan (44:49)
Abdullah bin Ummi Maktum
Seorang buta bernama Abdullah bin Ummi Maktum bertanya,
"Ada seseorang bernama Muhammad yang membawa ajaran baru?" Temannya
mengiyakan.
"Ajaran yang mengajak meyembah Tuhan Yang Mahatinggi?" tanya Abdullah bin Ummi
Maktum lagi.
"Benar"
"Tuhan itu tidak bisa diraba seperti berhala?"
"Betul, Abdullah bin Ummi Maktum. Begitulah yang diajarkannya."
Abdullah bin Ummi Maktum termenung sambil menggosok-gosok ujung jemari tangannya.
"Tuhan yang tidak bisa diraba?" Pikir Abdullah bin Ummi Maktum,
"padahal ujung jariku ini sudah mengenal betul berhala-berhala. Aku bahkan bisa
membedakan Latta dan Uzza dengan memegang hidung mereka. Seandainya aku bisa
bertemu sendiri dengan Muhammad!"
Dipenuhi rasa ingin tahu yang besar, Abdullah bin Ummi Maktum menemui Rasulullah.
Sayang sekali, saat itu Rasulullah sedang menyampaikan ayat-ayat Al Qur'an kepada Walid
bin Mughirah. Ia adalah seorang pembesar Quraisy yang sangat diharapkan keislamanannya.
Akan tetapi, Abdullah bin Ummi Maktum tidak mengetahui kehadiran Walid, karena buta,
dia terus mendesak, mendesak dan mendesak Rasulullah agar saat itu juga menerangkan
tentang Islam kepadanya.
Karena tidak tahan didesak terus, sedangkan beliau sedang mendakwahi seorang tokoh
penting, Rasulullah membuang wajah beliau.
Saat itu, firman Allah turun untuk menegur beliau,
(QS 'Abasa, 80 ayat 1-6) َ
ٰ
Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling,
Surah 'Abasa (80:1) ْ َ
ٰ
karena telah datang seorang buta kepadanya.
Surah 'Abasa (80:2)
Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa),
Surah 'Abasa (80:3)
atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya?
Surah 'Abasa (80:4) ْ َ
Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup,
Surah 'Abasa (80:5)
ٰ
maka kamu melayaninya.
Surah 'Abasa (80:6) Demikianlah, Allah sangat menjaga utusan-Nya dari kesalahan, bahkan untuk kesalahan
sekecil itu. Apalagi Rasulullah adalah orang yang sangat halus perasaanya sehingga jika akan
merugikan orang miskin atau orang lemah, beliau merasa takut.
Karena Dengki
Kebanyakan para pembesar Quraisy tidak mau mengikuti Nabi bukan karena lebih yakin
dengan berhala, melainkan lebih karena dengki, mengapa Muhammad diangkat menjadi
Nabi, bukan mereka?
Walid bin Mughirah berkata, "Wahyu didatangkan kepada Muhammad bukan kepadaku,
padahal aku kepala dan pemimpin Quraisy, juga tidak kepada Abu Mas'ud Amr bin Umair
Ats Tsaqafi sebagai pemimpin Tsaqif. Kami adalah pembesar-pembesar dua kota."