KISAH NABI MUHAMMAD #13
Bagian 32
لآ ﻋ و ﺪﻤﺤﻣ ﻋ ﻞﺻ ﻢﻬﻠﻟا ﺪﻤﺤﻣ
Dahsyatnya Iman
Abu Thalib memanggil Rasulullah dan berkata,
"Muhammad, orang-orang Quraisy kembali datang padaku dan mengatakan, 'Wahai Abu
Thalib, engkau adalah orang terhormat dan terpandang di kalangan kami. Oleh karena itu,
kami meminta baik-baik kepadamu untuk menghentikan keponakanmu itu, tetapi tidak juga
engkau lakukan. Ingatlah, kami tidak akan tinggal diam terhadap orang yang memaki nenek
moyang kita, tidak menghargai harapan-harapan kita, dan mencela berhala-berhala kita.
Suruh diam dia atau kami lawan dia hingga salah satu pihak nanti binasa! ' "
Abu Thalib memandang wajah keponakannya lekat-lekat, hampir seperti memohon, lalu
katanya,
"Jagalah Aku, Nak. Jaga juga dirimu. Jangan Aku dibebani dengan hal-hal yang tidak dapat
kupikul. "
Rasullullah tertegun. Beliau tahu, pamannya seolah sudah tidak berdaya lagi membelanya.
Pamannya hendak meninggalkan dan melepasnya. Sementara itu, kaum muslimin masih
lemah dan belum mampu membela diri. Namun, semua diserahkan pada kehendak Allah.
Rasullullah bertekad untuk terus berdakwah. Lebih baik mati membawa iman daripada
menyerah atau ragu-ragu.
Oleh karena itu, dengan seluruh kekuatan jiwa, Rasulullah berkata,
"Paman, demi Allah, kalau pun mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di
tangan kiriku agar aku meninggalkan tugas ini, sungguh tidak akan kutinggalkan. Biar nanti
Allah yang akan membuktikan apakah kemenangan itu ada di tanganku atau aku binasa
karenanya."
Begitulah kedahsyatan iman Rasulullah. Abu Thalib sampai tertegun dan gemetar
mendengar tekad keponakannya itu. Rasulullah pergi sambil menitikkan airmata, tetapi Abu
Thalib memanggilnya kembali sambil berkata,
"Anakku katakanlah sekehendakmu. Aku tidak akan menyerahkan engkau apa pun yang
terjadi."
Utsman dan Ruqayyah
Sore itu, Rasulullah pulang ke rumah dengan hati yang sangat sedih. Seharian, beliau
melihat para pengikutnya disiksa.
Betapa berat penderitaan orang-orang Muslim saat itu. Khadijah menghampiri suaminya
tercinta. Dihibur dan dikuatkannya kembali diri Rasulullah .
Tiba-tiba, pintu terbuka. Ruqayyah, putri kedua Rasulullah, tiba-tiba masuk sambil
menangis. Ruqayyah mendekap pangkuan ibunya sambil menangis tersedu-sedu.
"Ada apa, sayang?" tanya Khadijah begitu lembut, menutupi kekhawatirannya sendiri akan
berita buruk yang dibawa putrinya itu.
"Suamiku menceraikan aku, Bunda," isak Ruqayyah. "Ayah mertuaku, Abu Lahab, menyuruh
suamiku menceraikan aku dan suamiku menurut. Ia dijanjikan akan dinikahkan kembali
dengan putri bangsawan."
Rasulullah dan Khadijah saling bertatapan sedih. Sudah sekejam itu Abu Lahab bertindak
untuk menyakiti Rasulullah dan keluarganya.
"Ummu Jamil, ibu mertuaku, merobek-robek bajuku," lanjut Ruqayyah pilu. "Abu Lahab
memukuliku. Abu Lahab, Ummu Jamil, dan suamiku, Utbah, bersumpah tidak akan
menerima lagi kehadiranku selama ayah masih tetap mendakwahkan Islam."
Seberapa pun tabahnya Khadijah, akhirnya air matanya menitik juga melihat putrinya yang
kini menjadi orang terusir. Dengan lembut, Rasulullah memeluk putrinya itu dan menghapus
air mata di pipinya.
"Aku lebih sayang Ayah dan Bunda daripada siapa pun di dunia ini," bisik Ruqayyah kepada
Rasulullah.
Dengan hati pilu, Rasulullah pergi menemui Abu Bakar. Rasulullah menceritakan kejadian
yang menimpa Ruqayyah.
"Ya Rasulullah," kata Abu Bakar dengan lembut.
"Sebenarnya, dari dulu, Utsman bin Affan sudah menaruh hati pada Ruqayyah, tetapi Utbah
mendahuluinya. Utsman sangat menyesal tidak dapat menyunting putri Anda."
Mendengar penuturan Abu Bakar, Rasulullah pun kemudian menikahkan Utsman dengan
Ruqayyah. Untuk sementara, berakhir satu kesedihan.
Masih banyak lagi cobaan dan ujian lain yang akan mendera Rasulullah, keluarga, dan para
sahabatnya.
Duri-duri di Jalan
Gangguan Ummu Jamil dan Abu Lahab semakin menjadi jadi. Setiap kali Rasulullah ﷺ
berjalan untuk menemui para pengikutnya, setiap itu pula beliau menemukan duri-duri
bertebaran di jalan. Perlahan dan berhati-hati, Rasulullah ﷺ melangkah agar duri tidak
menembus kakinya. Namun, hampir setiap kali pula dalam keadaan itu, kotoran dan batu
melayang ke arah beliau.
Suara tawa melengking terdengar jika Rasulullah ﷺ tengah sibuk menghindari lemparan
batu dan kotoran. Sambil menghapus kotoran yang melekat di pakaian, Rasulullah menoleh
ke arah suara tawa. Ummu Jamil dan Abu Lahab kelihatan begitu menikmati penderitaan
Rasulullah ﷺ. Ummu Jamil berpakaian mencolok dan selalu menatap Rasulullah ﷺ dengan
tatapan menghina.
"Lihat!" lengking Ummu Jamil,
"Inilah Muhammad, anak gembel yang berani membawa agama baru! Agama yang dikiranya
dapat menyamakan kedudukan para bangsawan dan budak!"
Rasulullah ﷺ tidak berkata apa-apa untuk membalas. Beliau hanya balik menatap dengan
tatapan yang tajam.
"Percuma kamu banyak berkata, istriku! Telinganya sudah tuli!" Sembur Abu Lahab. "Hai,
para budak! Lanjutkan kesenangan kalian!”
Seketika itu juga, budak-budak kuat bertubuh besar milik Abu Lahab dan Ummu Jamil
kembali melempari Rasullulah ﷺ dengan batu, kotoran, dan pasir. Diperlakukan seperti itu,
Rasulullah ﷺ tidak membalas sedikit pun. Beliau hanya menghindar, menahan sakit, seraya
bersabar dan terus bersabar.
Bagian 33
ﺪﻤﺤﻣ لآ ﻋ و ﺪﻤﺤﻣ ﻋ ﻞﺻ ﻢﻬ
ﻠﻟا
Bilal bin Rabbah
Beberapa pengikut Rasulullah yang pertama berasal dari kalangan miskin dan lemah. Ajaran
Islam yang melarang penindasan membuat banyak budak dengan segera menjadi seorang
Muslim. Namun, jika tuan mereka tahu akan hal ini, para budak itu dipaksa harus memilih:
kembali menyembah berhala atau disiksa habis-habisan.
"Lemparkan dia dan baringkan tubuhnya di atas pasir!" raung Umayyah bin Khalaf Al Juhmi.
Rupanya, ia sangat murka mengetahui seorang budaknya, Bilal bin Rabbah, menjadi
pengikut Rasulullah. Lebih murka lagi ia ketika tahu bahwa Bilal, si pemuda hitam itu, lebih
memilih menghadapi siksa dan membangkang kehendaknya daripada harus keluar dari
agama barunya itu.
Orang-orang suruhan Umayyah membuka seluruh baju Bilal. Kemudian, budak malang itu
ditelentangkan di atas padang pasir yang panasnya begitu menyengat saat matahari berada
di atas kepala.
"Budak jelek, engkau akan diperlakukan seperti ini hingga engkau mati atau engkau
mengingkari Muhammad dan kembali menyembah Lata dan Uzza!".
Menghadapi ancaman itu, Bilal hanya berkata,
"Ahad! Ahad!" ("Maha Esa Allah! Maha Esa Allah! ")
Suara cambuk memerihkan telinga ketika Bilal disiksa, "Ahad! Ahad!"
"Letakkan batu besar di atas dadanya!" raung Umayyah.
Bilal merasa dadanya hampir remuk dan terasa sesak sekali, sehingga nyaris ia tidak dapat
lagi bernapas atau pun bersuara, tetapi ia tetap melantunkan kalimat juangngya. "Ahad!
Ahad! Ahad!"
Ibu Bilal, Hamamah, juga disiksa tuannya. Menurut suatu riwayat, ia gugur dalam
penyiksaan itu dan wafat sebagai syuhada.
(Dalam riwayat yang lain, Hamamah, dimerdekakan Rasulullah).
Khalid bin Sa'id
Seperti Bilal, Khalid bin Sa'id termasuk orang-orang pertama yang beriman. Khalid adalah
orang ke kelima yang masuk Islam. Ia bermimpi akan jatuh ke jurang api, tapi diselamatkan
oleh seseorang yang ternyata ia adalah Rasulullah SAW.
Siksaan Demi Siksaan
Setelah melihat Umayyah menyiksa Bilal sedemikian kejam, para pemilik budak dan
pembesar Quraisy yang lain ikut menyiksa para budak mereka yang ketahuan memeluk
agama Islam. Beragam siksaan sangat kejam ditimpakan kepada para pemeluk Islam
pertama itu.
"Hukuman apa yang harus kutimpakan kepada budak pembangkang ini, Tuan?" Tanya
algojo.
Sang Tuan tersenyum sinis, "Cambuk dia sampai tanganmu tidak mampu lagi!"
Algojo melaksanakan tugasnya dengan patuh. Suara lecutan cambuk disertai erangan orang
terdengar dari detik ke detik. Setiap lecutan membuat rasa sakit lebih perih dari lecutan
sebelumnya. Sebagian orang yang kuat bertahan hingga pingsan. Sebagian yang lain gugur
karena tidak kuat menahan derita.
Lebih dari itu, ternyata bukan hanya cambuk yang bicara.
"Buka pakaiannya!" perintah seorang bangsawan kepada tukang pukulnya.
Beberapa budak Muslim yang malang itu segera saja menjadi tidak berbaju.
"Pakaikan mereka pakaian besi yang ketat menempel di kulit!" seringai sang bangsawan.
Para tukang pukul segera menurut.
"Sekarang, bakar baju besi yang telah dikenakan itu!" seru bangsawan dengan buas.
Jerit kesakitan budak-budak Muslim itu amat memilukan karena baju besi yang dibakar itu
menghanguskan seluruh kulit tubuh mereka.
Ummu Ubais dan Zinnirah
Ummu Ubais dan Zinnirah adalah dua perempuan Muslim yang disiksa sampai jadi buta.
Orang-orang Quraisy mengejek dengan mengatakan bahwa kebutaan itu disebabkan
mereka dikutuk berhala.
Akan tetapi, dengan izin Allah, keduanya kemudian dapat melihat lagi sehingga orang-orang
Muslim dapat membalas ejekan orang-orang kafir.
Bagian 34
ﺪﻤﺤﻣ لآ ﻋ و ﺪﻤﺤﻣ ﻋ ﻞﺻ ﻢﻬﻠﻟا
Syahidah Pertama
Sabar, demikian sabda Rasulullah ﷺ, setiap kali para pengikutnya mengadukan penderitaan
mereka. Saat itu memang tidak ada lagi yang dapat diperbuat selain sabar sampai mati.
Sabar yang demikian membuat para pemeluk Muslim pertama sanggup menanggung derita
siksa di luar batas kemampuan fisik manusia.
khabbab bin Al Arat pernah meminta agar Rasulullah ﷺ berdo'a kepada Allah dalam
menghadapi penindasan ini. Mendengar ini, Rasulullah duduk dengan wajah merah padam
seraya bersabda,
"Sungguh telah terjadi sebelum kamu, ada orang yang disisir badannya dengan sisir besi
hingga dagingnya mengelupas dan terlihat tulang-tulangnya. Akan tetapi, ia tetap teguh
memegang keyakinannya. Allah ﺎﻌﺗ و ﻪﻧﺎﺤﺳ akan menyempurnakan urusan ini sampai
seorang penunggang kuda berjalan dari Shan'a ke Hadramaut dan ia tidak takut kecuali
kepada Allah. Ingatlah, serigala akan tetap ada di tengah-tengah gembalaan, hanya saja
kalian lengah."
Sumayyah adalah ibu Ammar bin Yasir. Beserta suami dan anaknya, Sumayyah disiksa
karena mengikuti ajaran Rasulullah. Ia diseret di jalan-jalan Kota Mekah, lalu dilempar ke
padang pasir.
"Pukuli dia! Pukuli dia sekuat-kuatnya!" Perintah Abu Jahal.
Sumayyah pun dipukuli sampai pingsan. Kejadian ini dilakukan berulang-ulang selama
berhari-hari. Namun, semakin sakit tubuhnya, iman Sumayyah malah semakin tinggi.
"Engkau mengikuti Muhammad karena tertarik pada ketampanannya!" ejek Abu Jahal.
"Tidak," geleng Sumayyah,
"Aku mengikuti Rasulullah karena percaya pada apa yang beliau sampaikan. Aku mengikuti
Rasulullah karena beliau mengajarkan ada Tuhan yang lebih patut disembah daripada
berhala-berhala kalian!"
Akhirnya, kesabaran Abu Jahal pun habis. Dia mengambil tombak dan menusuk Sumayyah.
Sumayyah tercatat dalam sejarah sebagai perempuan muslim pertama yang syahid
(syahidah) karena membela Islam.
Surga Untuk Keluarga Yasir
Ketika Rasulullah ﷺ menyaksikan Yasir, Sumayyah dan putra Yasir yang bernama Ammar
disiksa habis-habisan, beliau bersabda, "Sabar wahai keluarga Yasir, tempat yang telah
dijanjikan bagi kalian adalah surga."
PENEBUSAN
Melihat saudara-saudara baru mereka disiksa demikian kejam, Abu Bakar, Utsman bin Affan,
dan semua orang kaya yang beriman segera bertindak. Abu Bakar mendatangi Umayyah bin
Khalaf yang sedang menyiksa Bilal.
"Bebaskan dia," pinta Abu Bakar.
"Tidak!" Cibir Umayyah.
"Engkau dan temanmu telah meracuni pikirannya! Justru aku yang minta kamu
menghentikan pengaruh jahatmu terhadap budakku ini!"
Abu Bakar merasa bahwa hati Umayyah tidak mungkin dibujuk lagi, maka dia segera
mengajukan penawaran.
"Kubeli Bilal darimu! Lihat, ini lima uqiyah emas! Ambil uang itu, dan berikan Bilal
kepadaku!"
Dengan seringai penuh kemenangan, Umayyah menyambar uang-uang emas itu.
"Wahai Abu Bakar! Andaikata engkau menawar satu uqiyah saja, sudah tentu aku
menjualnya! Dia sudah tidak berharga lagi bagiku!"
Wajah Abu Bakar memerah, bukan karena marah, melainkan karena dipenuhi rasa bahagia
bisa menolong saudaranya yang tertindas.
"Jangan hanya lima uqiyah" ujar Abu Bakar sepenuh hatinya, "Andaikan engkau menjual
seratus uqiyah pun, aku akan tetap membelinya!"
Kini giliran wajah Umayyah yang memerah. Terbayang keuntungan yang akan didapatnya
seandainya ia menawar lebih tinggi lagi.
Abu Bakar yang baik hati kemudian membebaskan Bilal. Tidak berhenti sampai di situ, beliau
pun terus menggunakan hartanya untuk membebaskan lima kaum muslimin lain yang
tengah disiksa. Budak terakhir yang dibebaskan adalah budak milik Umar bin Khattab.
Orang-orang Quraisy mengejek Abu Bakar, "Alangkah sia-sianya Abu Bakar itu! Dia
membuang-buang uang untuk membebaskan orang!"
Namun, semangat Abu Bakar justru membakar kaum muslimin lain untuk turut berusaha
keras membebaskan saudara-saudara mereka.
Bersambung