KISAH NABI MUHAMMAD #15
Bagian 37
Tawaran Utbah bin Rabi'ah
"Sesak dadaku melihat Muhammad dan para pengikutnya!" teriak seorang pembesar
Quraisy. "Setiap hari mereka semakin kuat!" geram yang lain. "Semua gangguan dan siksaan
kita seolah tidak berpengaruh apa-apa. Sangat mengherankan!" gerutu yang lain
menggelengkan kepala.
Ketika suasana bertambah panas, Utbah bin Rabi'ah berdiri. Semua orang memandangnya
dan menunggu.
"Kalau jalan kekerasan tidak membuahkan hasil, sudah saatnya kita mencoba cara lain, "
kata Utbah bin Rabi'ah.
Suaranya pelan dan tenang.
"Kalau kalian setuju, aku akan bicara dengan Muhammad dan menawarkan beberapa hal
menarik kepadanya. Apakah kalian setuju?"
Setelah terdiam sejenak, akhirnya orang orang Quraisy itu pun setuju.
"Coba laksanakan usulmu! Kami bersedia memberi apa saja asal Muhammad mau
bungkam!" kata mereka.
Utbah bin Rabi'ah pun menemui Rasulullah.
"Anakku," katanya lembut,
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
(1)
Haa Miim. (Haa Miim) hanya Allah saja yang mengetahui arti dan maksudnya.
(2). Diturunkan dari Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
(3) Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang
mengetahui,
(4). yang membawa berita gembira dan yang membawa peringatan, tetapi kebanyakan mereka
berpaling (daripadanya); maka mereka tidak (mau) mendengarkan.
(5). Mereka berkata: "Hati kami berada dalam tutupan (yang menutupi) apa yang kamu seru
kami kepadanya dan di telinga kami ada sumbatan dan antara kami dan kamu ada dinding,
maka lakukanlah (sesuai kehendak kamu); sesungguhnya kami akan melakukan (sesuai
kehendak kami)".
Rasulullah terus membacakan ayat-ayat lanjutannya yang menuturkan tentang Rasulullah
hanyalah seorang pemberi peringatan, tentang gunung-gunung yang kokoh, tentang
penciptaan langit dan tujuh lapisannya, tentang azab petir yang menimpa kaum Tsamud,
tentang ngerinya nasib kaum kafir yang menolak wahyu dari Allah.
Ayat-ayat itu begitu memesona Utbah sampai ia lupa pada apa yang ia tawarkan kepada
Rasulullah. Hatinya semakin hanyut, larut, dan...
"Cukuplah Muhammad. Cukuplah sekian saja!" seru Utbah. Ia diam sejenak, lalu kemudian
bertanya lagi,
"Apakah engkau dapat menjawab selain yang tadi engkau baca?"
"Tidak".
Utbah terpana.
"Jadi, inilah Muhammad," pikirnya.
"Laki laki ini bukanlah orang yang ingin memiliki gunungan harta, kedudukan, kerajaan, dan
sama sekali bukan orang sakit. Ia hanyalah orang yang ingin mempertahankan tugasnya
dengan baik sekali dan ia tadi mengucapkan kata kata penuh mukjizat..."
Begitulah, akhirnya Utbah bin Rabi'ah kembali dengan tangan hampa. Para pembesar
Quraisy pun kecewa karena Rasulullah menolak tawaran mereka. Kemudian, penganiayaan
dan siksaan terhadap kaum Muslimin pun berlanjut dan semakin ganas.
Bagian 38
Ke Habasyah
Gangguan terhadap kaum Muslimin semakin berat dari hari ke hari. Bahkan, beberapa orang
gugur karena disiksa terlalu keras. Berdasarkan wahyu dari Allah, Rasulullah pun
memerintahkan agar mereka berhijrah.
"Wahai Rasulullah, ke mana kami akan pergi?"
Rasulullah menasehati agar mereka pergi ke Habasyah yang rakyatnya menganut agama
Kristen.
"Tempat itu diperintah oleh seorang raja dan tidak ada orang yang dianiaya di situ. Itu bumi
yang jujur, sampai nanti Allah membukakan jalan buat kita semua," demikian sabda
Rasulullah.
Mematuhi perintah Rasulullah, berangkatlah rombongan pertama kaum Muslimin ke
Habasyah pada bulan Rajab, tahun ke lima kenabian. Rombongan itu terdiri atas 12 orang
pria dan 4 perempuan. Dengan sembunyi-sembunyi, mereka meninggalkan Mekah,
menyeberangi laut ke benua Afrika, dan tiba di pantai Habasyah. Seperti yang dikatakan
Rasulullah, Najasyi, Raja Habasyah itu, memberi mereka perlindungan dan tempat yang
baik.
Kelak, ketika mendengar bahwa orang Quraisy tidak lagi menyiksa kaum Muslimin, mereka
kembali pulang. Namun, ternyata berita itu tidak benar.
Di Mekah, keadaan justru semakin buruk bagi kaum Muslimin. Mereka pun berangkat
kembali ke Habasyah, kali ini dengan jumlah rombongan yang lebih besar, terdiri atas 83
orang pria dan 18 wanita dipimpin oleh Ja'far bin Abu Thalib.
Habasyah
Saat itu Habasyah adalah negara yang meliputi bagian selatan Mesir, Erytrea, Ethiopia, dan
Sudan. Habasyah artinya 'persekutuan'. Dahulu Habasyah bersekutu dengan kerajaan Saba
atau Himyar. Kaum Muslimin berangkat dari Teluk Syu'aibah, sebelah selatan Jeddah.
Amarah Umar
Umar bin Khattab duduk termenung di rumahnya. Di seluruh Mekah, tidak ada seorang pun
yang mampu melunakkan hati Umar. Ia begitu cepat naik pitam dan garang. Ia tidak pernah
luluh oleh rayuan gadis-gadis penghibur setiap kali ia mendatangi para penjual khamr.
Ia tidak pula pernah terbujuk ikut bergabung dengan para pejalan malam yang suka
bergerombol di pelataran rumah sambil mendengarkan para penabuh rebana.
Segalanya tidak mampu melembutkan kekerasan hatinya yang suka bertindak garang dan
menakutkan.
Namun kini, ia tengah duduk termenung sendiri.
"Hamzah, apa yang terjadi padamu? Engkau menaklukkan dan mempermalukan Abu Jahal,
temanmu sendiri! Apa yang membuatmu jadi seperti ini? Bahkan, engkau berani
meninggalkan agama nenek moyang kita dan bergabung dengan Muhammad! Ini jelas akan
membuat pengikut agama baru ini jadi sombong dan besar kepala!
Hamzah, bukankah engkau, Abu Jahal, Khalid bin Walid dan aku telah bersama membuat
Quraisy jadi suku paling disegani? Semua itu berkat kerja keras dan keuletan kita berempat.
Suku-suku yang lain iri kepada Quraisy karena Quraisy memiliki kita. Ini semua gara-gara
Muhammad! Hamzah tidak lagi mau minum-minum bersamaku. Betapa sepinya malam malam
tanpa Hamzah!"
"Muhammad, engkau membuat pusing kepala orang-orang miskin, para budak, buruh kasar,
dan para perempuan lemah! Engkau membuat mereka berani menentang para majikan!
Apa yang engkau sampaikan pasti sebuah sihir.
Muhammad, tegakah engkau melihat para pengikut mu pergi meninggalkan tanah air nya ke
Habasyah yang begitu jauh?
Ini benar-benar keterlaluan! Aku harus membunuh Muhammad sekarang juga! Meski aku
harus berhadapan dengan Hamzah, aku akan membunuhmu dan membuat Mekah kembali
seperti dulu!"
Setelah berpikir begitu, Umar bin Khattab mencabut pedangnya. Amarahnya dengan cepat
naik ke ubun-ubun. Dengan langkah-langkah yang tidak bisa dirintangi, Umar berjalan cepat
menuju Darul Arqam. Matanya mengandung api dan pedangnya membara! Tidak seorang
pun bisa menghalangi Umar jika ia sudah bertekat dengan sunguh-sunguh!
Duka Umar
Ummu Abdillah adalah seorang perempuan tua. Ia juga tetangga Umar bin Khattab. Setelah
ia sekeluarga memeluk Islam, Umar suka mengganggunya. Padahal sebelum itu, Umar cukup
hormat dan bahkan menyayanginya.
Saat itu, Ummu Abdillah tengah membereskan barang-barang untuk dibawa hijrah ke
Habasyah. Tiba-tiba, hatinya berdebar. Ia melihat Umar bin Khattab melangkah dengan
pedang terhunus! Karena tidak ada waktu lagi untuk lari ke dalam rumah, Ummu Abdillah
bersembunyi di balik barang-barangnya. Hatinya berdebar tidak karuan. Tanpa sadar, ia
menahan napas ketika Umar semakin mendekat.
Akan tetapi, Umar melihatnya dan berhenti.
"Jadi engkau benar benar akan berangkat, wahai Ummu Abdillah?"
Ummu Abdillah keluar dari tempat persembunyiannya. Ia heran karena suara Umar tidak
terdengar marah seperti biasanya.
"Ya, demi Allah. Engkau telah menyakitiku dan menindasku. Aku akan benar-benar pergi ke
bumi Allah hingga Allah memberikan jalan keluar bagiku," sahut Ummu Abdillah.
Sesaat, Umar tampak merenung, "Ini dia tetanggaku, mereka akan pergi juga meninggalkan
Mekah."
Umar berpaling, menatap wajah tua Ummu Abdillah dan berkata dalam hati, "Begitu jauh
jalan yang akan ditempuh orang tua ini, begitu sedikit barang yang bisa dibawanya."
Akhirnya Umar melangkah pergi sambil berkata parau, "Semoga Allah senantiasa
menyertaimu."
Ummu Abdillah terpana. Belum pernah Umar berlaku selembut ini sejak mereka memeluk
Islam.
"Tidakkah engkau melihat kelemahlembutan dan kedukaan Umar terhadap kita?" tanya
Ummu Abdillah kepada putranya.
"Apakah Ibu berharap ia akan memeluk Islam?" tanya sang putra. "Dia tidak akan pernah
memeluk Islam sebelum keledai bapaknya juga masuk Islam!"
Bersambung