Logo
DKM Hidayatullah Patria Jaya
"Masjid: Tempat Meraih Kemenangan Dunia Akhirat."
image

Bagian 27 

ﺪﻤﺤﻣ لآ ﻋ و ﺪﻤﺤﻣ ﻋ ﻞﺻ ﻢﻬﻠﻟا


Orang yang Berselimut


Muhammad yang kini telah menjadi Rasulullah terbangun karena mendengar Malaikat Jibril

membawakan wahyu kepadanya,

 

 ﺮﺛﺪﻤﻟا ﺎﻬﻳأ ﺎ


Hai orang yang berkemul (berselimut), (QS: Al-Muddassir 74:1)

 

 رﺬﻧﺄﻓ ﻢﻗ


bangunlah, lalu berilah peringatan! (74:2)

ﻓ ﻚرو



dan Tuhanmu agungkanlah! (74:3)

 ﺮﻬ

ﻄﻓ ﻚﺎﺛو



dan pakaianmu bersihkanlah, (74:4)

 ﺠﻫﺎ

ﻓ ﺰﺟﺮﻟاو

 ﺮ 


dan perbuatan dosa tinggalkanlah, (74:5)


ﺘﺴ

ﻤﺗ و



dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih

banyak. (74:6)


ﺻﺎﻓ ﻚﻟو


 

Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah. (74:7)


Khadijah memandang Rasulullah dengan kasih yang bertambah besar. Beliau perlahan

mendekati suaminya. Khadijah dengan lembut memintanya agar kembali tidur.


"Waktu tidur dan istirahat sudah tidak ada lagi, Khadijah," demikian jawab Rasulullah.


"Jibril membawa perintah supaya aku memberi peringatan kepada umat manusia, mengajak 

mereka, dan supaya mereka beribadah hanya kepada Allah. Namun, siapa yang akan 

kuajak? Siapa pula yang akan mendengarkan?"

 Khadijah cepat cepat menentramkan hati suaminya. Diceritakannya apa yang tadi dikatakan

Waraqah. Dengan penuh semangat, Khadijah menyatakan diri sebagai orang yang

mengimani Rasulullah.


Dengan demikian, tercatat dalam sejarah bahwa orang pertama yang memeluk Islam adalah

Khadijah.


Untuk lebih menentramkan Rasulullah, Khadijah meminta suaminya memberitahu dirinya

apabila malaikat datang.


Kemudian Jibril memang datang, namun hanya Rasulullah yang dapat melihatnya. Khadijah

mendudukkan Rasulullah di pangkuan sebelah kiri, lalu ke pangkuan sebelah kanan.

Malaikat Jibril masih terlihat oleh Rasulullah. Namun, ketika Khadijah melepas penutup

wajahnya, Rasulullah melihat Sang Malaikat menghilang.


Dari kejadian itu, Bunda Khadijah merasa yakin bahwa yang datang itu benar-benar

malaikat, bukan jin.


Bertemu Waraqah


Tidak lama kemudian, Rasulullah bertemu dengan Waraqah bin Naufal. Saat itu, Rasulullah

sedang melaksanakan thawaf. Sesudah Rasulullah menceritakan keadaannya, Waraqah

berkata, "Demi Dia yang memegang hidup Waraqah, engkau adalah nabi atas umat ini.

Engkau telah menerima Namus Besar seperti yang pernah disampaikan kepada Musa.

Pastilah kau akan didustakan, disiksa, diusir, dan diperangi orang. Kalau sampai pada waktu

itu aku masih hidup, pasti aku akan membela yang di pihak Allah dengan pembelaan yang

sudah diketahui-Nya pula."


Kemudian, Waraqah mendekat dan mencium ubun-ubun Rasulullah.


Kini Rasulullah memalingkan wajah ke sekitarnya, melihat orang-orang yang menyembah

patung-patung batu. Orang-orang ini juga menjalankan riba dan memakan harta anak yatim.

Mereka jelas-jelas berada dalam kesesatan. Kepada orang orang inilah Rasulullah

diperintahkan untuk menyeru agar mereka menghentikan perbuatan perbuatan itu.

 

Namun, apakah mereka mau berhenti begitu saja? Orang orang Quraisy itu benar-benar

amat kuat dalam memegang keyakinan mereka.


Orang orang itu bahkan siap berperang dan mati untuk mempertahankan keyakinan

mereka. Untuk itu, Rasulullah memerlukan datangnya wahyu penuntun lagi.


Namun, wahyu yang dinanti Rasulullah ternyata tidak juga turun. Jibril tidak pernah datang

lagi untuk waktu yang lama. Rasulullah merasa amat terasing. Rasa takutnya kembali 

muncul. Beliau takut jika Allah melupakan bahkan tidak menyukainya. Rasulullah kembali 

pergi ke bukit dan menyendiri lagi di Gua Hira. Ingin rasanya beliau membumbung tinggi

dengan sepenuh jiwa, menghadap Allah, dan bertanya mengapa dirinya seolah ditinggalkan.


Apa gunanya hidup ini kalau harapan besar Rasulullah untuk menuntun umat ternyata

menjadi kering. Rasulullah saat itu, benar benar hampir merasa putus asa.


Surat Adh Dhuha


Tiba-tiba, wahyu itu turun:

 ﻀﻟاو


Demi waktu matahari sepenggalahan naik,urah Ad-Duha (93:1)

 

 ﺳ اذإ ﻞﻠﻟاو


dan demi malam apabila telah sunyi (gelap),  (93:2)

 ﻗ ﺎﻣو ﻚر ﻚﻋدو ﺎﻣ


Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu. (93:3)و

ﻷا ﻦﻣ ﻚ

ﺧ ةﺮﺧﻶﻟو



Dan sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang

(permulaan).  (93:4)


ﻓ ﻚر ﻚﻄﻌ فﻮﺴﻟو



Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu , lalu (hati) kamu menjadi

puas.  (93:5)

 ىوﻓ ﺎﻤﻳ كﺪﺠ ﻢﻟأ


Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu? (93:6)

 


Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk.  (93:7)

 


ﻏﺄﻓ ﺋﺎﻋ كﺪﺟوو

Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan

kecukupan.  (93:8)

 

Sebab itu, terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang.

(93:9) 


 

 ﺮﻬﻨﺗ ﻓ ﻞﺋﺎﺴﻟا ﺎﻣأو 


Dan terhadap orang yang minta-minta, janganlah kamu menghardiknya.

(93:10)

 

 ثﺪﺤﻓ ﻚر ﺔﻤﻌﻨﺑ ﺎﻣأو


Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan.  (93:11)


Rasa cemas dan takut di hati Rasulullah kini hilang sudah. Betapa damainya firman Allah itu

terasa di hati beliau. Rasulullah harus menjauhi setiap perbuatan mungkar dan

membersihkan pakaian. Beliau harus mengajak orang mengingat Allah. Beliau harus tabah

menghadapi gangguan, tidak boleh menolak orang yang meminta bantuan, dan berlaku

lembut kepada anak yatim.


Allah juga mengingatkan bahwa Rasulullah yatim, lalu Allah melindunginya lewat asuhan

kakeknya, Abdul Muthalib, dan pamannya, Abu Thalib.


Dulu, Rasulullah hidup miskin, lalu Allah memberinya kekayaan. Allah pula yang telah

menyandingkan beliau dengan Khadijah, yang menjadi kawan semasa muda, kawan semasa

beliau ber-tahannuts, kawan yang penuh cinta kasih, yang memberi nasihat dengan rasa

kasih sayang.


Allah telah mendapati Rasulullah tidak tahu jalan, lalu diberi-Nya beliau petunjuk kenabian.

Cukuplah semua itu. Hendaklah mulai sekarang, Rasulullah mengajak orang kepada

kebenaran, sedapat mungkin, sekuat mungkin.



Bagian 28


Shalat


Shalat adalah satu di antara ibadah pertama yang diajarkan Allah kepada Rasulullah ﷺ.

Suatu saat, ketika Rasulullah ﷺ dan Khadijah sedang melaksanakan shalat, datanglah Ali bin

Abu Thalib. Ali yang saat itu masih anak-anak, tertegun melihat Rasulullah ﷺ dan Khadijah 

rukuk, sujud, serta membaca ayat-ayat Al Qur'an. 


"Kepada siapa kalian sujud?" tanya Ali ketika Rasulullah ﷺ dan Khadijah selesai shalat.


"Kami sujud kepada Allah," jawab Rasulullah, "Allah telah mengutusku dan memerintahkan

aku mengajak manusia menyembah Allah."


Kemudian, Rasulullah ﷺ mengajak sepupunya itu untuk beribadah kepada Allah semata

serta meninggalkan berhala-berhala semacam Lata dan Uzza. Rasulullah pun membacakan

beberapa ayat Al Qur'an yang membuat Ali bin Abu Thalib terpesona karena ayat-ayat itu

demikian indah.


Ali meminta waktu untuk berunding dengan ayahnya terlebih dahulu. Semalaman itu, Ali

merasa gelisah.

Esoknya, ia memberitahukan kepada Rasulullah ﷺ dan Khadijah bahwa ia akan mengikuti

mereka berdua, tidak perlu meminta pendapat ayahnya, Abu Thalib.


"Allah menjadikan saya tanpa saya perlu berunding dulu dengan Abu Thalib," demikian kata

Ali, "apa gunanya saya harus berunding dengan dia untuk menyembah Allah?"


Jadi, *Ali* adalah anak pertama yang memeluk Islam. Kemudian, *Zaid bin Haritsah*, bekas

budak yang ikut Rasulullah ﷺ, ikut masuk Islam juga.

Sampai di situ, Islam masih terbatas pada keluarga Rasulullah: istri beliau, sepupu beliau,

serta bekas budak yang ikut beliau. Apa yang harus beliau lakukan untuk menyebarkan Islam

lebih luas lagi? Beliau tahu betul betapa kerasnya dan betapa kuatnya orang-orang Quraisy

menyembah berhala yang diwarisi dari nenek moyang mereka.


Walau demikian, Islam ini harus disebarkan, betapa pun kerasnya perlawanan orang.


Keislaman Abu Bakar


Abu Bakar bin Abu Quhafa dari kabilah bani Taim adalah teman akrab Rasulullah ﷺ sejak

zaman sebelum Rasulullah diangkat menjadi utusan Allah. Rasulullah amat menyukai

sahabatnya itu karena Abu Bakar adalah orang yang bersih, jujur, dan dapat dipercaya.


Suatu hari, Abu Bakar mendengar desas-desus tentang Rasulullah ﷺ. Beliau segera keluar

mencari sahabatnya itu. Ketika mereka bertemu, Abu Bakar bertanya kepada Rasulullah,


"Wahai Abu Qasim (salah satu panggilan Rasulullah), ada apa denganmu? Kini engkau tidak 

lagi terlihat di majelis kaummu dan kudengar orang-orang menuduh, bahwa engkau telah

berkata buruk tentang nenek moyangmu dan masih banyak lagi yang mereka katakan."


"Sesungguhnya, aku adalah utusan Allah," sabda Rasulullah ﷺ,


"Allah mengutusku untuk menyampaikan risalah-Nya. Sekarang, aku mengajak kamu kepada

agama Allah dengan keyakinan yang benar. Demi Allah, sesungguhnya, apa yang

kusampaikan adalah kebenaran. Wahai Abu Bakar, aku mengajak kamu untuk menyembah 

Allah yang Maha Esa, yang tidak ada sekutu bagi-Nya, dan janganlah menyembah kepada 

selain-Nya, dan untuk selamanya kamu taat kepada-Nya."

 

Rasulullah ﷺ memperdengarkan beberapa ayat Al Qur'an. Selesai Rasulullah berbicara, Abu

Bakar langsung memeluk Islam. Melihat keislaman sahabatnya itu, Rasulullah amat gembira.

Tidak seorang pun yang ada di antara dua gunung di Mekah yang kegembiraannya melebihi

kegembiraan Rasulullah saat itu.


Abu Bakar segera mengumumkan keislamannya itu kepada teman-temannya. Beliau juga

mengajak mereka mengikuti Rasulullah.

Dalam waktu singkat, Utsman bin Affan, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, dan

Sa'ad bin Abu Waqash pun menemui Rasulullah dan masuk Islam.


Keislaman Utsman bin Affan


Utsman bin Affan menuturkan sendiri tentang keislamannya:


"Aku datang kepada bibiku Urwah binti Abdul Muthalib untuk menjenguknya karena ia sakit.

Tidak lama kemudian, Rasulullah ﷺ datang ke tempat itu juga dan aku perhatikan beliau.

Waktu itu, tampak jelas kebesarannya. Beliau pun menghampiri aku dan berkata,

"Wahai Utsman, mengapa kau memerhatikan aku begitu rupa?"


"Aku menjawab, 'Aku merasa kagum terhadap engkau dan terhadap kedudukan engkau di

antara kami. Aku juga kagum dengan apa yang dibicarakan orang-orang mengenai dirimu."


Utsman melanjutkan, "Kemudian, Rasulullah mengucapkan kalimat 'Laa illaha illallah'. Demi

Allah, mendengar kalimat itu, aku langsung bergetar. Kemudian, Rasulullah membacakan

ayat,

 

 نوﺪﻋﻮﺗ ﺎﻣو ﻢﻗزر ءﺎﻤﺴﻟا

و

 ٢٢ 

 

 نﻮﻘﻄﻨﺗ ﻢﻧأ ﺎﻣ ﻞﺜﻣ ﻖﺤﻟ ﻪﻧإ ضرﻷاو ءﺎﻤﺴﻟا برﻮﻓ ٢٣ 


"Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezekimu dan apa yang dijanjikan kepadamu. Maka,

demi Tuhan langit dan bumi, sungguh, apa yang dijanjikan itu pasti terjadi seperti apa yang

kamu ucapkan."

(Adz Dzariyat, 51: 22-23).

 

Kemudian, Rasulullah ﷺ berdiri dan pergi keluar. Aku pun mengikuti beliau dari belakang.

Kemudian, aku menghadap beliau dan aku masuk Islam."


Pengorbanan Seorang Istri


Khadijah yang berasal dari kalangan bangsawan Mekah, sadar betul bahwa suaminya kelak

akan dibenci oleh orang-orang kafir. Beliau berjuang di sisi suaminya, memilih Islam, dan

menjadi pengikut pertama. 

Khadijah menukar segala harta miliknya dengan kejayaan Islam yang tidak pernah beliau 

nikmati.


Bagian 29


ﺪﻤﺤﻣ لآ ﻋ و ﺪﻤﺤﻣ ﻋ ﻞﺻ ﻢﻬﻠﻟا


Kaum Muslimin Awal


Mengetahui betapa kerasnya kebencian orang-orang Quraisy, kaum Muslimin permulaan

(Assaabiquunal Awaluun), melaksanakan ibadah mereka secara sembunyi-sembunyi. Jika

hendak shalat mereka pergi ke celah-celah gunung di Mekah. Keadaan ini berlangsung

selama tiga tahun berturut-turut. Sementara itu, sedikit demi sedikit Islam semakin meluas.

Firman Allah yang turun satu demi satu semakin memperkuat keyakinan kaum Muslimin.


Ada satu hal yang membuat dakwah Islam berkembang, yaitu keteladan Rasulullah ﷺ, yang

beliau contohkan dengan sangat baik. Beliau adalah orang yang penuh bakti dan penuh

kasih sayang. Beliau juga sangat rendah hati sekaligus gagah berani. Tutur kata beliau

lembut dan selalu berlaku adil. Hak setiap orang pasti ditunaikan sebagaimana mestinya.

Perlakuan Rasulullah ﷺ terhadap orang-orang yang lemah, yatim piatu, orang sengsara, dan

orang miskin adalah perlakuan yang penuh kasih, lembut dan sayang.


Pada malam hari beliau tidak cepat tidur, Beliau bertahajud dan membaca wahyu yang

disampaikan Allah padanya. Beliau selalu merenung tentang nasib umatnya. Beliau juga

merenungkan betapa luar biasanya penciptaan langit, bumi dan segala isinya. Seluruh

permohonannya dihadapkan kepada Allah. Hal-hal seperti itu membuat orang-orang yang

sudah beriman semakin bertambah cintanya kepada Islam dan semakin

kukuh keimanannya. Mereka sudah berketetapan hati meninggalkan sesembahan nenek

moyang mereka dan tidak takut siksaan orang-orang kafir yang membencinya.


Kalau orang lain telah Rasulullah ﷺ dakwahi bagaimana dengan keluarga beliau? Apakah

beliau juga berdakwah kepada paman-paman beliau yang sebagiannya merupakan para

pembesar Quraisy yang disegani? Apa yang mereka lakukan ketika mereka tahu bahwa 

Rasulullah ﷺ mengajak meninggalkan sesembahan berhala yang telah begitu lama

diwariskan oleh nenek moyang mereka.


Jamuan Makan Untuk Kerabat


Tidak ada yang lebih dicintai Rasulullah ﷺ daripada kaum kerabatnya sendiri. Setelah tiga

tahun, turunlah firman Allah yang memerintahkan agar beliau berdakwah kepada

kerabatnya. 

 

 ﻗﻷا ﻚﺗﺸﻋ رﺬﻧأو


Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat, 

Surah Asy-Syu'ara' (26:214)

 

 ﺗا ﻦﻤﻟ ﻚﺣﺎﻨﺟ ﺾﻔﺧاو ﻨﻣﺆﻤﻟا ﻦﻣ ﻚﻌ 


dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang

beriman.

Surah Asy-Syu'ara' (26:215)

 

 نﻮﻠﻤﻌﺗ ﺎﻤﻣ ءيﺮﺑ إ ﻞﻘﻓ كﻮﺼﻋ نﺈﻓ


Jika mereka mendurhakaimu maka katakanlah: Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab

terhadap apa yang kamu kerjakan;

Surah Asy-Syu'ara' (26:216)

 

 ﻢﺣﺮﻟا ﺰﻌﻟا ﻋ ﻞﻮﺗو


Dan bertawakkallah kepada (Allah) Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang,

Surah Asy-Syu'ara' (26:217)


Rasulullah ﷺ mengundang makan keluarga besar beliau. Mereka pun datang,


"Muhammad beri aku arak!" seru seorang paman beliau yang bernama Zubair.


Namun Rasulullah SAW hanya menyuguhkan susu. Setelah mereka makan, Rasulullah ﷺ

berdiri dan berkata,


"Saya tidak melihat ada seorang manusia di kalangan Arab yang dapat membawa sesuatu ke

tengah-tengah masyarakat lebih baik dari yang saya bawakan kepada kamu sekalian ini.

Kubawakan kepada kamu dunia dan akhirat yang terbaik. Allah telah menyuruhku mengajak

kamu sekalian. Siapa di antara kamu yang mau mendukungku?"


Setelah sesaat terpesona, semua orang menggerutu dan bangkit hendak pulang. Namun

mereka kembali terperangah ketika Ali bin Abu Thalib yang masih remaja bangkit seraya

berseru lantang,

 

"Rasulullah saya akan membantumu! Saya adalah lawan siapa saja yang engkau tentang!"


Rasulullah ﷺ menepuk bahu Ali sambil berkata kepada yang lain,


"Inilah saudara saya, pembantu, dan pengganti saya. Ikuti dan patuhilah dia!"


Mendadak tawa hadirin meledak. Seseorang berkata kepada Abu Thalib,

 

"Ia memerintahkan engkau supaya mendengar dan mematuhi anakmu sendiri" 


Kemudian, semua orang bubar begitu saja. Tidak seorang pun di antara para undangan yang

tertawa terbahak-bahak itu menyadari bahwa di antara mereka akan ditebas Ali memang

bersungguh-sungguh dengan kata-katanya itu.


Walid bin Mughirah


Pada awal kenabian, ada seorang bernama Walid bin Mughirah. Ia mempunyai dua sahabat

yang merupakan penyair hebat. Dengan syair-syairnya, mereka berusaha menjelek-jelekkan

Rasulullah SAW. Dengan syair, Walid mempengaruhi orang banyak dengan dua sahabat

penyairnya.


Penduduk Mekah Tidak Hirau


Meski ajaran Rasulullah ﷺ meluas dengan cepat, penduduk Mekah masih berhati-hati dan

tidak terlalu hirau. Mereka menduga ajakan Rasulullah ﷺ akan hilang dengan sendirinya

dan orang akan kembali menyembah kepercayaan nenek moyang mereka. Yang akhirnya,

yang menang pasti Hubal, Latta dan Uza pikir mereka, tidak sadar bahwa keimanan murni

yang diajarkan Rasulullah ﷺ tidak dapat dikalahkan.


Bersambung