KISAH NABI MUHAMMAD #17
KISAH RASULULLAH ﷺ
Bagian 41
ﺪﻤ
ﺤﻣ لآ ﻋ و ﺪﻤﺤﻣ ﻋ ﻞﺻ ﻢﻬﻠﻟا
Berdakwah Terang-Terangan
Keesokan harinya, Umar mengingat-ingat siapa yang paling keras memusuhi Rasulullah.
Jawabannya pun langsung ditemukan, "Abu Jahal!" Tanpa membuang waktu, Umar pergi
mengetuk pintu rumah Abu Jahal. Abu Jahal keluar dan menyambut Umar,
"Selamat datang, wahai kemenakanku! Kabar apakah gerangan yang engkau bawa?"
"Aku datang untuk memberitahukan kepadamu bahwa aku telah memercayai ajaran-ajaran
Muhammad!"
Wajah Abu Jahal pucat. Sambil membanting pintu, ia berseru lantang,
"Mudah-mudahan tuhan mengutukmu. Alangkah buruknya kabar yang engkau bawa!"
Tidak berhenti sampai disitu, di sepanjang jalan, Umar memberi tahu setiap orang bahwa ia
telah memeluk Islam.
Setelah itu, Umar pergi ke Ka'bah dan mengumumkan keislamannya. Rasa takut bercampur
benci semakin membengkak di hati orang-orang Quraisy yang masih kafir.
Setelah masuk Islam, Umar bertanya,
"Wahai Rasulullah, bukankah kita berada di atas kebenaran mati maupun hidup?"
Ketika Rasulullah membenarkannya dengan tegas, Umar meminta agar Rasulullah dan kaum
Muslimin keluar secara terang-terangan. Rasulullah menyetujui hal itu. Beliau dan umatnya
pun keluar ke jalan-jalan Kota Mekah dalam dua barisan menuju Masjidil Haram. Barisan
sebelah kanan Rasulullah dipimpin oleh Hamzah dan barisan di sebelah kiri dipimpin oleh
Umar bin Khattab.
Sejak itulah Umar digelari Al Faruq (sang pembeda kebenaran dan kebathilan).
Islam Mengajarkan Kebaikan
Islam kemudian menjadi bahan diskusi hangat di Kota Mekah. Mereka yang penasaran terus
bertanya kepada temannya yang Muslim. Sementara itu, mereka yang benci tidak hentihentinya
menjelekkan gama ni.
"Apa yang diajarkan agama baru ini? Katakan kepadaku, Sobat. Biar aku paham mengapa
kamu begitu mudah meninggalkan agama nenek moyang kita," kata seseorang kepada
sahabatnya.
"Engkau tahu bahwa hidupku sangat sulit," jawab teman Muslimnya,
"setiap kali kulihat orang-orang kaya mengendarai kuda-kuda istimewa, mengenakan
pakaian mewah, dan memasuki rumah megah, aku jadi bertanya, untuk apa sebenarnya
Tuhan menciptakan aku ini? Aku tidak bisa menikmati hidup kecuali bekerja keras untuk
makan sehari-hari. Aku tidak tahu setelah aku mati akan ke mana aku pergi. Sungguh sulit
rasanya menjadi orang yang berharga dan mulia."
Sang muslim menoleh dan melihat wajah temannya itu tampak bersungguh-sungguh.
"Namun kemudian, Islam datang dan mengajarkan bahwa kemuliaan bukan terletak pada
tumpukan emas dan perak kita, akan tetapi pada sebanyak apa kebaikan yang telah kita
buat. Islam tidak melarang perdagangan dan orang menjadi kaya, tetapi Islam mengajarkan
bahwa nilai cinta kasih, persaudaraan, tolong-menolong, dan kebersamaan berada jauh di
atas nilai setumpuk harta.
Tahukah engkau, setelah datangnya Islam, aku merasa menjadi yang lebih berarti daripada
sebelumnya."
Sang teman mengangguk-angguk.
"Lebih dari itu," lanjut si Muslim,
"Islam mengenalkan aku kepada siapa sebenarnya Pencipta alam yang patut disembah:
bukan berhala yang tidak bisa apa-apa, melainkan Allah.
Melalui Rasulullah, Allah menurunkan perkataan-Nya buat kita. Coba dengarkan beberapa
ayat berikut ini. Engkau akan tahu bahwa tidak seorang penyair pun yang mampu
menandingi keindahan bahasanya apalagi kebenaran isinya."
Kemudian, beberapa ayat Al Qur'an mengalun dari mulut si Muslim dan langsung
menembus hati temannya yang kini kian larut dan kian dekat pada kebenaran.
Kesaksian Musuh
Bahkan para musuh Rasulullah pun tidak dapat mengingkari kejujuran Rasulullah.
Tirmidzi meriwayatkan dari Ali bin Abu Thalib bahwa Abu Jahal pernah berkata kepada
Rasulullah,
"Sesungguhnya kami tidak mendustakanmu, tapi kami mendustakan apa yang engkau
bawa."
Utusan Quraisy
Apa yang terjadi dengan Muslim yang berhijrah ke Habasyah.
"Kita tidak bisa membiarkan mereka berlindung di Habasyah!" Seru seseorang pembesar
Quraisy.
"Dengan perlindungan yang diberikan Raja Najasyi, aku khawatir mereka akan bertambah
kuat dan membahayakan kita!"
"Kirim utusan kepada Najasyi!" Sambut pembesar yang lain,
"bujuk dia, katakan apa saja agar dia memulangkan para pengikut Muhammad itu!"
Amr bin Ash dan Abdullah bin Abi Rabi'ah diutus menemui Raja Habasyah, Najasyi. Tiba di
Habasyah, mereka mempersembahkan hadiah-hadiah berharga untuk raja dan para
pembesarnya.
"Paduka Raja," kata mereka, "kaum Muslim yang datang ke negeri Paduka ini adalah budakbudak
kami yang tidak punya malu.Mereka meninggalkan agama bangsanya dan tidak pula menganut agama Paduka. Mereka membawa agama yang
mereka ciptakan sendiri yang tidak kami kenal dan tidak juga paduka kenal. Kami diutus kepada Paduka oleh pemimpin-
pemimpin masyarakat mereka, oleh orangtua-orangtua mereka, paman mereka, dan keluarga mereka sendiri, agar Paduka sudi mengembalikan orang-orang itu kepada kami. Kami lebih mengetahui betapa orang-orang itu mencemarkan dan memaki-maki tuhantuhan
kami.
Sebenarnya, kedua utusan tersebut telah menyogok para pembesar istana untuk membantu meyakinkan raja. Namun, Najasyi adalah raja yang bijaksana. Dia sama sekali tidak terpengaruh hadiah-hadiah yang dibawa kedua utusan Quraisyi. Dia tidak mau mengusir
kaum Muslimin kembali sebelum ia mendengar sendiri apa alasan mereka pergi meninggalkan Mekah.
"Bawa para pengungsi itu ke hadapanku!" perintah Najasyi.
Seluruh kaum Muslimin menghadap, Raja bertanya, Agama apa ini yang sampai membuat Tuan-Tuan meninggalkan masyarakat Tuan sendiri, tetapi tidak juga Tuan-Tuan menganut agamaku atau agama lain?"
Bagian 42
Jawaban Kaum Muslimin
Saat itu, yang menjadi juru bicara kaum Muslimin adalah sepupu Rasulullah yang amat
tampan, Ja'far bin Abu Thalib.
"Paduka Raja," Ucap Ja'far penuh hormat,
"ketika itu, kami masyarakat yang bodoh, kami menyembah berhala, bangkai pun kami
makan, segala kejahatan kami lakukan, memutuskan hubungan dengan kerabat, dengan
tetangga pun kami tidak baik, yang kuat menindas yang lemah.
Demikian keadaan kami sampai Tuhan mengutus seorang utusan-Nya dari kalangan kami
yang sudah kami kenal asal-usulnya. Dia jujur, dapat dipercaya, dan bersih pula.
Dia mengajak kami menyembah Allah Yang Mahatunggal, meninggalkan batu-batu dan
patung-patung yang selama ini kami dan nenek moyang kami menyembah.
Dia menganjurkan kami untuk tidak berdusta, untuk berperilaku jujur, mengadakan
hubungan baik dengan keluarga dan tetangga, menyudahi pertumpahan darah, serta
menghentikan perbuatan terlarang lainnya.
Dia melarang kami melakukan segala kejahatan dan menggunakan kata-kata dusta,
melarang memakan harta anak yatim, dan melarang mencemarkan perempuan-perempuan
bersih.
Dia minta kami menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya. Selanjutnya, disuruhnya
kami melakukan shalat, zakat, dan shaum (lalu Ja'far menyebut beberapa ketentuan Islam).
Kami pun membenarkannya. Kami turut segala yang diperintahkan Allah. Lalu, yang kami
sembah hanya Allah Yang Mahatunggal, tidak menyekutukan-Nya dengan apa dan siapa pun
juga.
Segala yang diharamkan kami jauhi dan yang dihalalkan kami lakukan. Oleh karena itulah,
masyarakat kami memusuhi kami, menyiksa kami, dan menghasut kami, dan supaya kami
meninggalkan agama kami dan kembali menyembah berhala supaya kami membenarkan
segala keburukan yang pernah kami lakukan dulu.
Oleh karena mereka memaksa kami, menganiaya kami, menekan kami, dan menghalang halangi kami dari agama kami, maka kami pun keluar, pergi ke negeri Tuan ini. Tuan jugalah
yang menjadi pilihan kami. Senang sekali kami berada di dekat Tuan, dengan harapan, di sini
tidak akan ada penganiayaan."
Najasyi mendengarkan penuh dengan kesungguhan, lalu katanya, "Adakah ajaran Tuhan
yang dibawanya itu yang dapat Tuan-tuan bacakan kepada kami?"
Surat Maryam
"Ya," jawab Ja'far.
Lalu, ia membaca surat Maryam, ayat 29-33:
maka Maryam menunjuk kepada anaknya. Mereka berkata: Bagaimana kami akan berbicara
dengan anak kecil yang masih di dalam ayunan?
Surah Maryam (19:29)
Berkata Isa: Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia
menjadikan aku seorang nabi,
Surah Maryam (19:30)
dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia
memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup;
Surah Maryam (19:31)
dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.
Surah Maryam (19:32)
Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku
meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.
Surah Maryam (19:33)
Ayat-ayat Al-Qur'an itu membenarkan kitab Injil. Semua pemuka istana dibuat terkejut.
Mereka berkata,
"Itu kata-kata yang keluar dari sumber yang mengeluarkan kata-kata Isa Al Masih."
Penuh haru, Najasyi membenarkan para pembesar istananya,
"Kata- kata ini dan yang dibawa oleh Musa, keluar dari sumber cahaya yang sama."
Najasyi berpaling kepada kedua utusan Quraisy,
"Pergilah. Kami takkan menyerahkan mereka kepada Tuan-Tuan!"
Kaum Muslimin saling berpandangan penuh syukur. Sementara itu, Amr bin Ash dan
Abdullah bin Rabi'ah berjalan keluar istana dengan wajah murung.
"Tidak bisa begini," keluh Abdullah.
"Tidak bisa kita jauh-jauh datang kesini untuk kemudian pulang dengan tangan hampa dan
terhina."
Amr bin Ash, yang terkenal lihai dalam bersiasat, merenung sejenak.
"Rasanya, aku masih punya siasat lain," katanya. "Namun, biar kita kembali esok hari.
Biarkan para pengikut Muhammad itu merasa senang. Besok, akan kita kejutkan mereka
dengan pertanyaan yang akan kita ajukan kepada Najasyi."
Bersambung