Logo
DKM Hidayatullah Patria Jaya
"Masjid: Tempat Meraih Kemenangan Dunia Akhirat."
image

KISAH RASULULLAH ﷺ


Bagian 41


ﺪﻤ

ﺤﻣ لآ ﻋ و ﺪﻤﺤﻣ ﻋ ﻞﺻ ﻢﻬﻠﻟا


 

Berdakwah Terang-Terangan


Keesokan harinya, Umar mengingat-ingat siapa yang paling keras memusuhi Rasulullah.

Jawabannya pun langsung ditemukan, "Abu Jahal!" Tanpa membuang waktu, Umar pergi

mengetuk pintu rumah Abu Jahal. Abu Jahal keluar dan menyambut Umar,


"Selamat datang, wahai kemenakanku! Kabar apakah gerangan yang engkau bawa?"

 

"Aku datang untuk memberitahukan kepadamu bahwa aku telah memercayai ajaran-ajaran 

Muhammad!"


Wajah Abu Jahal pucat. Sambil membanting pintu, ia berseru lantang, 



"Mudah-mudahan tuhan mengutukmu. Alangkah buruknya kabar yang engkau bawa!"


Tidak berhenti sampai disitu, di sepanjang jalan, Umar memberi tahu setiap orang bahwa ia

telah memeluk Islam.


Setelah itu, Umar pergi ke Ka'bah dan mengumumkan keislamannya. Rasa takut bercampur

benci semakin membengkak di hati orang-orang Quraisy yang masih kafir.


Setelah masuk Islam, Umar bertanya,


"Wahai Rasulullah, bukankah kita berada di atas kebenaran mati maupun hidup?"


Ketika Rasulullah membenarkannya dengan tegas, Umar meminta agar Rasulullah dan kaum

Muslimin keluar secara terang-terangan. Rasulullah menyetujui hal itu. Beliau dan umatnya

pun keluar ke jalan-jalan Kota Mekah dalam dua barisan menuju Masjidil Haram. Barisan

sebelah kanan Rasulullah dipimpin oleh Hamzah dan barisan di sebelah kiri dipimpin oleh

Umar bin Khattab.


Sejak itulah Umar digelari Al Faruq (sang pembeda kebenaran dan kebathilan).


Islam Mengajarkan Kebaikan


Islam kemudian menjadi bahan diskusi hangat di Kota Mekah. Mereka yang penasaran terus

bertanya kepada temannya yang Muslim. Sementara itu, mereka yang benci tidak hentihentinya

menjelekkan gama ni.


"Apa yang diajarkan agama baru ini? Katakan kepadaku, Sobat. Biar aku paham mengapa

kamu begitu mudah meninggalkan agama nenek moyang kita," kata seseorang kepada

sahabatnya.


"Engkau tahu bahwa hidupku sangat sulit," jawab teman Muslimnya,


"setiap kali kulihat orang-orang kaya mengendarai kuda-kuda istimewa, mengenakan

pakaian mewah, dan memasuki rumah megah, aku jadi bertanya, untuk apa sebenarnya 

Tuhan menciptakan aku ini? Aku tidak bisa menikmati hidup kecuali bekerja keras untuk

makan sehari-hari. Aku tidak tahu setelah aku mati akan ke mana aku pergi. Sungguh sulit

rasanya menjadi orang yang berharga dan mulia."


Sang muslim menoleh dan melihat wajah temannya itu tampak bersungguh-sungguh.


"Namun kemudian, Islam datang dan mengajarkan bahwa kemuliaan bukan terletak pada

tumpukan emas dan perak kita, akan tetapi pada sebanyak apa kebaikan yang telah kita 

buat. Islam tidak melarang perdagangan dan orang menjadi kaya, tetapi Islam mengajarkan 

bahwa nilai cinta kasih, persaudaraan, tolong-menolong, dan kebersamaan berada jauh di

atas nilai setumpuk harta. 

Tahukah engkau, setelah datangnya Islam, aku merasa menjadi yang lebih berarti daripada

sebelumnya."


Sang teman mengangguk-angguk.


"Lebih dari itu," lanjut si Muslim,

"Islam mengenalkan aku kepada siapa sebenarnya Pencipta alam yang patut disembah:

bukan berhala yang tidak bisa apa-apa, melainkan Allah.

Melalui Rasulullah, Allah menurunkan perkataan-Nya buat kita. Coba dengarkan beberapa

ayat berikut ini. Engkau akan tahu bahwa tidak seorang penyair pun yang mampu

menandingi keindahan bahasanya apalagi kebenaran isinya."


Kemudian, beberapa ayat Al Qur'an mengalun dari mulut si Muslim dan langsung

menembus hati temannya yang kini kian larut dan kian dekat pada kebenaran.

Kesaksian Musuh


Bahkan para musuh Rasulullah pun tidak dapat mengingkari kejujuran Rasulullah.

Tirmidzi meriwayatkan dari Ali bin Abu Thalib bahwa Abu Jahal pernah berkata kepada

Rasulullah,

"Sesungguhnya kami tidak mendustakanmu, tapi kami mendustakan apa yang engkau

bawa."

Utusan Quraisy


Apa yang terjadi dengan Muslim yang berhijrah ke Habasyah.


"Kita tidak bisa membiarkan mereka berlindung di Habasyah!" Seru seseorang pembesar

Quraisy.

"Dengan perlindungan yang diberikan Raja Najasyi, aku khawatir mereka akan bertambah

kuat dan membahayakan kita!"


"Kirim utusan kepada Najasyi!" Sambut pembesar yang lain,

"bujuk dia, katakan apa saja agar dia memulangkan para pengikut Muhammad itu!"

 

Amr bin Ash dan Abdullah bin Abi Rabi'ah diutus menemui Raja Habasyah, Najasyi. Tiba di

Habasyah, mereka mempersembahkan hadiah-hadiah berharga untuk raja dan para

pembesarnya.

"Paduka Raja," kata mereka, "kaum Muslim yang datang ke negeri Paduka ini adalah budakbudak

kami yang tidak punya malu.Mereka meninggalkan agama bangsanya dan tidak pula menganut agama Paduka. Mereka membawa agama yang

mereka ciptakan sendiri yang tidak kami kenal dan tidak juga paduka kenal. Kami diutus kepada Paduka oleh pemimpin-

pemimpin masyarakat mereka, oleh orangtua-orangtua mereka, paman mereka, dan  keluarga mereka sendiri, agar Paduka sudi mengembalikan orang-orang itu kepada kami. Kami lebih mengetahui betapa orang-orang itu mencemarkan dan memaki-maki tuhantuhan

kami.


Sebenarnya, kedua utusan tersebut telah menyogok para pembesar istana untuk membantu meyakinkan raja. Namun, Najasyi adalah raja yang bijaksana. Dia sama sekali tidak terpengaruh hadiah-hadiah yang dibawa kedua utusan Quraisyi. Dia tidak mau mengusir

kaum Muslimin kembali sebelum ia mendengar sendiri apa alasan mereka pergi meninggalkan Mekah.


"Bawa para pengungsi itu ke hadapanku!" perintah Najasyi.


Seluruh kaum Muslimin menghadap, Raja bertanya, Agama apa ini yang sampai membuat Tuan-Tuan meninggalkan masyarakat Tuan sendiri, tetapi tidak juga Tuan-Tuan menganut agamaku atau agama lain?"



Bagian 42

Jawaban Kaum Muslimin


Saat itu, yang menjadi juru bicara kaum Muslimin adalah sepupu Rasulullah yang amat

tampan, Ja'far bin Abu Thalib.


"Paduka Raja," Ucap Ja'far penuh hormat,

"ketika itu, kami masyarakat yang bodoh, kami menyembah berhala, bangkai pun kami

makan, segala kejahatan kami lakukan, memutuskan hubungan dengan kerabat, dengan

tetangga pun kami tidak baik, yang kuat menindas yang lemah.

Demikian keadaan kami sampai Tuhan mengutus seorang utusan-Nya dari kalangan kami

yang sudah kami kenal asal-usulnya. Dia jujur, dapat dipercaya, dan bersih pula.

Dia mengajak kami menyembah Allah Yang Mahatunggal, meninggalkan batu-batu dan

patung-patung yang selama ini kami dan nenek moyang kami menyembah.

Dia menganjurkan kami untuk tidak berdusta, untuk berperilaku jujur, mengadakan 

hubungan baik dengan keluarga dan tetangga, menyudahi pertumpahan darah, serta

menghentikan perbuatan terlarang lainnya.

Dia melarang kami melakukan segala kejahatan dan menggunakan kata-kata dusta,

melarang memakan harta anak yatim, dan melarang mencemarkan perempuan-perempuan

bersih.

Dia minta kami menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya. Selanjutnya, disuruhnya

kami melakukan shalat, zakat, dan shaum (lalu Ja'far menyebut beberapa ketentuan Islam).

Kami pun membenarkannya. Kami turut segala yang diperintahkan Allah. Lalu, yang kami 

sembah hanya Allah Yang Mahatunggal, tidak menyekutukan-Nya dengan apa dan siapa pun 

juga.

Segala yang diharamkan kami jauhi dan yang dihalalkan kami lakukan. Oleh karena itulah,

masyarakat kami memusuhi kami, menyiksa kami, dan menghasut kami, dan supaya kami 


meninggalkan agama kami dan kembali menyembah berhala supaya kami membenarkan

segala keburukan yang pernah kami lakukan dulu.

Oleh karena mereka memaksa kami, menganiaya kami, menekan kami, dan menghalang halangi  kami dari agama kami, maka kami pun keluar, pergi ke negeri Tuan ini. Tuan jugalah

yang menjadi pilihan kami. Senang sekali kami berada di dekat Tuan, dengan harapan, di sini

tidak akan ada penganiayaan."

Najasyi mendengarkan penuh dengan kesungguhan, lalu katanya, "Adakah ajaran Tuhan

yang dibawanya itu yang dapat Tuan-tuan bacakan kepada kami?"


Surat Maryam


"Ya," jawab Ja'far.

Lalu, ia membaca surat Maryam, ayat 29-33:


maka Maryam menunjuk kepada anaknya. Mereka berkata: Bagaimana kami akan berbicara

dengan anak kecil yang masih di dalam ayunan?

Surah Maryam (19:29)

 

Berkata Isa: Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia

menjadikan aku seorang nabi,

Surah Maryam (19:30)

 dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia

memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup;

Surah Maryam (19:31)

 

dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.

Surah Maryam (19:32)


Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku

meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.

Surah Maryam (19:33) 

 

Ayat-ayat Al-Qur'an itu membenarkan kitab Injil. Semua pemuka istana dibuat terkejut.

Mereka berkata,

 

"Itu kata-kata yang keluar dari sumber yang mengeluarkan kata-kata Isa Al Masih."


Penuh haru, Najasyi membenarkan para pembesar istananya,


"Kata- kata ini dan yang dibawa oleh Musa, keluar dari sumber cahaya yang sama."


Najasyi berpaling kepada kedua utusan Quraisy,


"Pergilah. Kami takkan menyerahkan mereka kepada Tuan-Tuan!"


Kaum Muslimin saling berpandangan penuh syukur. Sementara itu, Amr bin Ash dan

Abdullah bin Rabi'ah berjalan keluar istana dengan wajah murung.


"Tidak bisa begini," keluh Abdullah.

"Tidak bisa kita jauh-jauh datang kesini untuk kemudian pulang dengan tangan hampa dan

terhina."


Amr bin Ash, yang terkenal lihai dalam bersiasat, merenung sejenak.


"Rasanya, aku masih punya siasat lain," katanya. "Namun, biar kita kembali esok hari.

Biarkan para pengikut Muhammad itu merasa senang. Besok, akan kita kejutkan mereka

dengan pertanyaan yang akan kita ajukan kepada Najasyi."


Bersambung