KISAH NABI MUHAMMAD #14
Bagian 35
Darul Arqam
Waktu terus berjalan. Kegigihan dakwah Rasulullah ﷺ mulai berbuah, sedikit demi sedikit,
para pemeluk Islam mulai bertambah. Rumah Rasulullah yang kecil itu mulai terasa sempit.
"Ya Rasulullah, alangkah baiknya jika kita memindahkan tempat pertemuan ke rumahku,"
usul Arqam. "Rumahku cukup luas untuk menampung jumlah kita yang sudah puluhan
orang. Lagi pula, letaknya ada di puncak bukit. Orang-orang jahat tidak mudah mencapai
tempat itu untuk mengganggu kita."
Rasulullah pun setuju. Oleh karena itu, pertemuan setiap malam pun pindah ke rumah
Arqam. Sebagian pemeluk Islam waktu itu adalah orang-orang lemah: para budak, buruh,
orang miskin, perempuan-perempuan fakir, serta orang tertindas lain. Sisanya adalah
golongan orang terpelajar dan pedagang kaya.
Sebenarnya, kebanyakan pedagang mulanya agak ragu.
"Bagaimana jika nanti ajaran baru ini menutup Mekah dari rombongan saudagar dari
tempat-tempat lain? Kalau demikian yang terjadi, kita akan bangkrut." Ujar seorang
pedagang.
Namun, keraguan itu ditepis Rasulullah. Islam tidak akan menutup Mekah. Islam juga tidak
akan mengubah musim ziarah ketika justru banyak pedagang mancanegara berdatangan ke
Mekah. Islam tidak melarang semua itu.
Hal yang dilarang adalah:
1. Menyembah berhala
2. Menyerahkan persembahan dan korban kepada bangsawan Quraisy
3. Bertelanjang ketika thawaf di Ka'bah
4. Menyelenggarakan pelacuran
5. Mengeluarkan kata-kata kotor dan tindakan buruk lain saat melaksanakan ziarah
*Rencana Para Pemuka Quraisy*
Setelah mendengar penjelasan Rasulullah, para pedagang pun merasa lega. Kebanyakan
mereka bukan pedagang budak dan tidak menarik untung dari korban yang dipersembahkan
untuk bangsawan-bangsawan Quraisy. Iman mereka pun semakin kuat.
Melihat Islam semakin dicintai para pengikutnya, para pembesar Quraisy pun menyusun
rencana lain...
"Apa yang harus kita lakukan?" teriak seorang pemuka Quraisy.
"Abu Bakar dan teman-temannya terus membebaskan budak-budak kita! Tidak ada jalan
lain, bunuh budak-budak itu agar yang lain ketakutan!"
"Tidak," geleng Abu Jahal lemah. "Sumayyah telah kubunuh, tapi itu tidak membuat yang
lain takut. Cari saja cara yang lain!"
Seorang pemuka Quraisy berdiri cepat,
"Pukuli Muhammad sampai remuk! Dengan demikian, wibawanya akan hancur dan
pengikutnya pun bubar ketakutan!"
"Namun, keluarga Muhammad dari Bani Hasyim akan membelanya!" lengking yang lain.
"Siapa? Abu Thalib sudah terlalu tua! Yang harus kita takuti dari Bani Hasyim adalah
Hamzah! Namun, engkau lihat sendiri, Hamzah sibuk berfoya-foya sendiri! Ia tidak peduli
pada nasib keponakannya itu! Pilihlah dua orang yang paling ditakuti di Mekah untuk
melaksanakan tugas ini!"
Sejenak, orang-orang terdiam sambil memandang berkeliling. Kemudian, seorang dari
mereka menunjukkan jarinya kepada pemuda bertubuh tinggi besar,
"Engkau, Umar bin Khattab! Engkau dan Abu Jahal! Tidak ada orang lain yang berani
melawan kalau kalian memukuli Muhammad!"
Orang-orang berseru "setuju."
"Sabar," tiba-tiba seseorang berseru,
"langkah awal bukanlah serangan fisik! Hancurkan dulu wibawanya! Ku usulkan agar kita
suruh para budak melempari Muhammad dan meneriakinya sebagai pembohong, orang
gila, dan tukang sihir!"
Usul itu disetujui. Mulai hari itu, setiap Rasulullah melewati jalan-jalan di Mekah, para
budak, para wanita yang nasibnya justru sedang diperjuangkan Rasulullah, meneriaki beliau,
"Pembohong besar! Orang gila! Tukang sihir!"
Suara mereka keras dan tajam layaknya orang sedang mengusir kucing yang masuk dapur.
Kemudian, apa yang terjadi jika Abu Jahal atau Umar mulai memukuli Rasulullah
Kuda Jantan
Saat itu merupakan masa yang berat bagi Rasulullah. Beliau pergi ke sebuah tempat yang
teduh, berbaring di atas batu, dan berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh. Tidak
ada yang lebih menyakitkan dibanding cacian dan celaan dari orang-orang yang justru
sedang diperjuangkan Rasulullah mati-matian.
Sementara itu, di depan Ka'bah, Abu Jahal berkoar di depan teman temannya,
"Aku bersumpah untuk menghantam kepala Muhammad dengan sebuah batu ketika dia
sedang sujud kepada Tuhannya!"
Beberapa orang bersorak memberi semangat, sedangkan yang lain saling pandang dengan
terkejut. Itu adalah sebuah tindakan kejam yang dapat menimbulkan kematian. Jika
Muhammad meninggal, Bani Hasyim pasti akan menuntut balas dan Mekah akan terpecah
oleh perang saudara. Namun, Abu Jahal telah mengucapkan sumpah yang tidak dapat
ditarik lagi tanpa mencoreng mukanya sendiri. Oleh karena itu, mereka memilih untuk
mengamati apa yang terjadi dengan dada berdebar-debar.
Kesempatan yang ditunggu Abu Jahal pun tiba. Saat itu, Rasulullah sedang shalat di depan
Ka'bah. Ketika beliau sujud, Abu Jahal dengan cepat melangkah mendekat. Kedua tanganya
yang menggenggam batu terangkat tinggi-tinggi, matanya menyala buas.
Namun, ketika batu akan dihujamkan sekuat tenaga, mendadak Abu Jahal berbalik pergi.
Batu di tangannya lepas dan wajahnya pucat ketakutan.
"Ada apa?" semua teman- temannya bertanya kebingungan.
Dengan napas tersendat-sendat, Abu Jahal berkata,
"Demi Tuhan, di depanku tadi berdiri seekor kuda jantan. Belum pernah aku menyaksikan
seekor kuda jantan serupa itu. Kepala, tengkuk, dan giginya sungguh mengerikan. Aku yakin
dia akan menelanku seandainya batu tadi kuhantamkan!"
Abu Jahal pergi cepat-cepat untuk menenangkan diri.
Orang-orang memandang Rasulullah dengan heran dan takjub. Sementara itu, Rasulullah
tetap melanjutkan shalat dengan khusyuk. Wajah beliau begitu teduh dan tenteram.
Bagian 36
Singa Padang Pasir
Orang-orang terus menertawakan Rasulullah setiap kali lewat. "Pembohong besar! Orang
gila! Tukang sihir!"
Abu Jahal terus menyemangati orang-orang yang mengejek sambil kerap kali melontarkan
caci maki juga.
Rasulullah mendadak berhenti melangkah. Beliau berpaling dengan tenang menghadap Abu
Jahal, dengan sorot matanya tajam. Abu Jahal berhenti dan terdiam. Dengan wajah sayu
penuh belas kasihan, Rasulullah memandang orang-orang kecil yang mengejeknya. Seketika,
sorak-sorai pun mereda. Semua orang yang berada di sekitar tempat itu terpesona melihat
keadaan Rasulullah. Baru kali ini mereka seolah disadarkan, betapa menyakitkannya ejekan
mereka itu diterima Rasulullah.
Sorot mata Rasulullah seolah berkata, "Mengapa kalian mengejekku? Bukankah aku sedang
berjuang menyelamatkan kalian dari kekejaman bangsa Quraisy dengan membawa Islam
yang mulia? Seandainya kalian tahu, ejekan Abu Jahal itu tidak begitu menyakitkan
dibanding kata-kata kalian, sebab kepada kalianlah Allah meyuruhku menebar kasih
sayang."
Tanpa sepatah kata pun, Rasulullah berlalu. Orang-orang bubar dengan membawa perasaan
masing-masing. Tatapan Rasulullah tadi sangat berkesan di hati seorang budak perempuan.
Ketika budak itu berjalan pulang, ia melihat Hamzah bin Abdul Muthalib datang.
Hamzah adalah paman Nabi, usia mereka hampir sebaya. Dari kecil, Rasulullah dan Hamzah
dibesarkan bersama, bermain bersama, dan menjadi sahabat karib. Karena itulah Hamzah
begitu menyayangi Rasulullah.
Hamzah berjalan gagah dan bangga memasuki Mekah. Ia betul-betul laki-laki perkasa
dengan perawakan tinggi dan kekar. Dengan wajah angkuh, Hamzah melangkah sambil
menyandang busurnya. Ia habis berburu.
Orang-orang yang melihatnya pun berbisik kagum. Namun, budak perempuan tadi merasa
ada yang janggal, mengapa orang segagah ini tidak membela Muhammad, keponakannya
sendiri?
Mengapa ia bisa setenang itu?
Tahukah ia bahwa Muhammad keponakannya, dicaci maki orang?
Muhammad dihina pemimpin kabilah lain yang menjadi saingan Bani Hasyim!
Pantaskah ia disebut sebagai pemuda perkasa yang pantang menyerah pada lawan,
sedangkan ia tidak berbuat apa pun ketika seorang keluarga Bani Hasyim dicaci maki orang?
Dengan dada hampir meluap, budak perempuan itu menegur Hamzah, "Tuan, tidak tahukah
Anda apa yang menimpa kemenakanmu itu?"
Hamzah berhenti dan budak perempuan itu menceritakan apa yang dilihatnya. Dalam
sekejap saja, wajah Hamzah memerah. Tanpa berkata apa pun, ia berbalik menuju Ka'bah
dengan langkah bergegas. Ia mencari Abu Jahal.
Kebimbangan Hamzah
Di depan Ka'bah, Abu Jahal bercerita kepada beberapa temannya, "Puas rasanya melihat
Muhammad dicaci begitu banyak orang", ujar Abu Jahal, "Kalau kuberi semangat sedikit lagi,
bukan tidak mungkin mereka akan memukulinya."
Teman-temannya terlihat ikut bersemangat. Beberapa orang mulai ikut bicara, tetapi
mendadak semuanya terdiam dan memandang ke satu arah. Abu Jahal ikut menoleh dan
seketika kerongkongannya tercekat. Hamzah bin Abdul Muthalib, sang pahlawan Bani
Hasyim, menjulang di belakangnya dengan mata menyala tanpa ampun.
"Beraninya engkau mencaci maki Muhammad, padahal aku telah memeluk agamanya? Coba
lakukan penghinaanmu kepadaku jika engkau benar-benar jantan!"
Setelah berkata begitu, Hamzah melayangkan busurnya. Bunyinya mendecit, cepat , dan
keras sehingga kepala Abu Jahal pun terluka.
Beberapa teman Abu Jahal serempak berdiri. Tampaknya, perkelahian tidak terhindarkan
lagi. Ketika Abu Jahal melihat ini, ia mengangkat tangan untuk mencegah teman temannya.
Abu Jahal yakin, dalam keadaan seperti itu, Hamzah tidak akan ragu-ragu membunuh orang.
Dengan napas tersengal, Abu Jahal memegangi kepalanya. Ia berkata sambil menahan
marah, "Kita tinggalkan saja dia! Aku memang telah mencaci maki kemenakannya."
Mereka pun pergi dengan geram dan murung. Namun, hati Hamzah belum lagi lega. Ia
pulang dengan bimbang, "Mengapa begitu mudah kutinggalkan agama nenek moyangku?"
Setelah melewati malam yang gelisah, Hamzah akhirnya berdoa, "Ya Tuhan, jika Muhammad
benar, teguhkanlah hatiku. Jika Muhammad salah, jauhkanlah aku darinya!"
Hamzah menemui Rasulullah dengan sedih dan menceritakan semua kegelisahan hatinya.
Rasulullah lalu membacakan beberapa ayat Al Qur'an.
Perlahan, hati Hamzah dipenuhi rasa tenang, haru, dan kagum. Dengan bulat hati, ia pun
berkata,
"Aku menyaksikan bahwa engkau itu sungguh benar, maka itu tampakkanlah agamamu, hai
anak saudaraku!"
Bukan main bersyukurnya Rasulullah. Kini, Islam telah memiliki benteng yang kuat dalam
menghadapi kekerasan Quraisy. Hamzah memeluk Islam pada akhir tahun ke enam
kenabian (nubuwwah).
Orang-orang Quraisy tidak putus asa, Mereka mempunyai cara lain untuk menekan
perjuangan Rasulullah.
Singa Allah dan Singa Rasul-Nya
Kemudian seluruh kegagahan Hamzah dibaktikannya untuk membela Allah dan agama-Nya,
sehingga Rasulullah memberi Hamzah julukan istimewa, Singa Allah dan Singa Rasulullah.
Hamzah adalah komandan Sariyah yang pertama.
Sariyah adalah pasukan Muslim yang berangkat tanpa disertai Rasulullah.
Bersambung