KISAH NABI MUHAMMAD #10
Bagian 24
Membangun Ka'bah
Dalam pengerjaan Ka'bah orang-orang Quraisy dibagi menjadi empat bagian. Setiap kabilah
masing-masing mendapat pekerjaan satu sudut yang harus dirombak dan dibangun kembali.
Pemugaran Ka'bah dimulai dengan memindahkan patung Hubal dan patung kecil lainnya.
Setelah itu, pekerjaan dilanjutkan dengan membersihkan pelataran dan membongkar
dinding serta fondasi. Muhammad ikut terlibat dalam pekerjaan yang berlangsung berharihari
itu.
Ada sebuah batu fondasi berwarna hijau yang tidak bisa dibongkar dengan cara apa pun.
Karena itu, batu itu mereka biarkan. Selanjutnya, didatangkanlah batu-batu granit biru dari
bukit sekitarnya. Sebuah bahan pencampur semen bernama bitumen yang didatangkan dari
Syria pun mulai digunakan.
Pemugaran Ka'bah ini sebenarnya lebih menyerupai perbaikan hasil karya Nabi Ibrahim dan
Nabi Ismail.
Pondasi Ka'bah ditinggikan sampai empat hasta ditambah satu jengkal atau sekitar dua
meter. Dalamnya diuruk tanah menjadi lantai yang sulit dicapai air apabila banjir datang
kembali. Bersamaan dengan itu, pintu di sisi timur laut pun diangkat setinggi pondasi.
Dinding dinaikkan sampai 18 hasta. Saat itulah Ka'bah mulai diberi atap bekas kapal yang
kandas itu. Sebuah tangga untuk naik turun juga disiapkan. Kini Ka'bah bebas dari banjir.
Isinya terlindungi dari hujan, panas dan tangan jahil pencuri.
Pembangunan berjalan lancar sesuai dengan rencana sampai dinding tembok mencapai
tinggi satu setengah meter dan tiba saatnya batu hitam, Hajar Aswad, ditempatkan kembali
ke tempatnya semula di sudut timur.
Karena ini merupakan upacara suci penuh kehormatan, berebut lah setiap kabilah untuk
melaksanakannya. Kabilah Abdu Dar merasa lebih berhak daripada Kabilah lain sehingga
kedua kelompok saling beradu mulut sampai suasana menjadi semakin panas.
Di tengah keadaan itu, muncul Abu Umayyah bin Al Mughirah. Ia adalah orangtua yang
dihormati dan dipatuhi. Ia pun mengajukan sebuah usul yang disetujui oleh semua pihak,
"Serahkanlah putusan ini di tangan orang yang pertama kali memasuki pintu Shafa."
HAJAR ASWAD
Ternyata yang datang pertama kali dari pintu Shafa adalah Muhammad. Orang-orang pun
bersorak lega.
"Ini dia Al Amin" seru mereka.
"Dia adalah orang yang bisa dipercaya. Kami yakin dia bisa memecahkan persoalan ini. Kami
akan menerima putusannya."
Orang-orang Quraisy pun menceritakan persoalan yang mereka alami. Muhammad yang
saat itu belum berumur 30 tahun, memandang mereka dengan matanya yang teduh dan
bijaksana. Muhammad melihat berkobarnya api permusuhan pada mata setiap orang dari
masing-masing kabilah Quraisy. Keadaan ini benar-benar genting. Kalau salah mengambil
keputusan, akan terjadi pertumpahan darah di antara kabilah-kabilah itu.
Muhammad berpikir sejenak, lalu dia berkata,
"tolong bawakan sehelai kain."
Kain pun segera diberikan. Muhammad mengambil dan menghamparkan kain itu. Dia lalu
mendekati Hajar Aswad. Diangkatnya batu hitam itu dan diletakkan di tengah-tengah.
"Hendaknya, setiap ketua kabilah memegang ujung kain ini," kata beliau lagi.
Kemudian, para ketua kabilah memegang ujung kain dan bersama-sama mengangkat Hajar
Aswad. Di tempat Hajar Aswad semula berada. Muhammad mengangkat dan
meletakkannya kembali.
Semua pihak merasa amat puas dengan keputusan Muhammad yang adil itu. Demikianlah,
pada waktu muda. Rasulullah telah menjadi orang yang cerdas dan bijaksana.
Putra Putri Muhammad
Khadijah adalah wanita teladan yang terbaik. Beliau wanita yang penuh kasih, setia, dan
menyerahkan seluruh hidupnya untuk suami tercinta. Khadijah juga wanita yang subur.
Setelah lima belas tahun berumah tangga, Khadijah melahirkan enam orang anak. Mereka
adalah:
Ruqayyah, Zainab, Ummi Kultsum, Fatimah, Qasim dan Abdullah.
Namun, Qasim dan Abdullah wafat ketika masih bayi, sedangkan keempat anak perempuan
yang lain tetap hidup hingga dewasa. Kita dapat membayangkan betapa sedihnya
Muhammad dan Khadijah kehilangan kedua putra mereka.
Ketika pulang ke rumah dan duduk di samping Khadijah, Muhammad sering melihat
kesedihan di wajah istrinya itu. Saat itu, mempunyai anak laki-laki bagi masyarakat jahiliah
adalah hal yang amat penting dan dianggap sebagai sebuah kebanggaan. Sebaliknya,
mempunyai anak perempuan adalah hal yang amat memalukan, bahkan banyak orang yang
memilih mengubur bayi perempuannya hidup-hidup dari pada membesarkannya.
Tentu saja Muhammad dan Khadijah tidak merasa malu memiliki anak-anak perempuan.
Mereka menyayangi semua anak mereka tanpa pilih kasih. Apalagi putri bungsu mereka,
Fatimah, yang saat itu masih berusia lima tahun, anak cantik yang sedang lucu-lucunya.
Hanya saja kehilangan dua anak laki-laki yang masih bayi merupakan derita yang berat bagi
orangtua mana pun.
Kekayaan Terbesar
Rasulullah pernah berkata bahwa kekayaan terbesar adalah istri yang salehah. Khadijah
adalah kekayaan terbesar Rasulullah pada saat-saat paling sulit dalam hidup beliau.
Bagian 25
Rumah Tangga Muhammad
Muhammad selalu membuat suasana rumahnya menjadi hidup dengan canda dan
keramahan. Beliau suka berkelakar kepada siapa pun. Bukan hanya kepada istri dan putriputrinya,
beliau juga amat ramah kepada pembantunya.
Sejak muda, Rasulullah amat gemar memakai parfum. Bau wewangian itu akan membuat
orang-orang di sekitar beliau merasa senang. Rasulullah tidak menyukai baju berwarna
merah. Beliau lebih suka baju berwarna lurik atau putih. Rasulullah juga gemar memakai
surban dengan salah satu ujungnya menggelantung antara pundak.
Beliau tidak pernah menggunakan baju yang seluruhnya terbuat dari sutera.
Kemudian datanglah satu orang yang amat Rasulullah sayangi. Begitu sayangnya sampai
beliau mengangkatnya sebagai anak.
Zaid bin Haritsah
Suatu hari, keponakan Khadijah yang bernama Hakim bin Hizam membawa seorang budak
laki-laki bernama Zaid bin Haritsah. Zaid dibawa ke rumah Khadijah dalam keadaan
mengenaskan. Lehernya dibelenggu sehingga ia terpaksa merangkak seperti seekor kuda.
Bunda Khadijah membeli Zaid dan memperlakukannya dengan baik.
Muhammad amat menyukai Zaid. Apalagi ketika Zaid bercerita bahwa ia dijadikan budak
dengan cara diculik.
Lima belas tahun yang lalu, Zaid kecil sedang berjalan pulang bersama ibunya ketika datang
para perampok gurun. Zaid disergap dan dibawa lari. Sejak itulah ia hidup sebagai seorang
budak yang diperjualbelikan ke sana kemari. Nasiblah yang membawanya bertemu dengan
Rasulullah, orang yang amat Zaid cintai.
Melihat Muhammad amat menyayangi Zaid, Khadijah memberikan Zaid kepada suaminya
itu. Khadijah yang bijaksana mengerti bahwa suaminya menganggap Zaid seolah sebagai
pengganti Qasim dan Abdullah yang telah tiada. Muhammad segera memerdekakan Zaid.
Namun, secara tidak terduga, datanglah Haritsah, ayah Zaid.
Haritsah telah bertahun-tahun mencari Zaid sejak anaknya itu menghilang. Haritsah amat
menyayangi dan merindukan Zaid sehingga ia membuat puisi kesedihan tentang anaknya
itu. Zaid pun amat menyayangi ayahnya.
"Silakan membawa Zaid pulang," kata Muhammad kepada Haritsah. "Tetapi, seandainya
Zaid memilih tetap bersama saya, saya tidak akan menolaknya."
Ternyata, Zaid lebih memilih tinggal bersama Muhammad. Muhammad amat bahagia
sehingga mengangkat Zaid sebagai putra beliau. Sejak saat itu, Zaid sering dipanggil Zaid bin
Muhammad.
Di kemudian hari, Allah melarang anak angkat mewarisi harta ayah angkatnya yang telah
wafat. Harta seorang ayah tetaplah menjadi hak anak kandung, bukan anak angkat. Maha
adil Allah Yang Agung.
Gua Hira
"Berhala berhala yang bernama Hubal, Lata dan Uzza itu tidak pernah menciptakan seekor
lalat sekali pun, bagaimana mungkin mereka akan mendatangkan kebaikan bagi manusia?"
demikian pikir Muhammad.
"Siapakah yang berada di balik semua ini? Siapa yang berada di balik luasnya langit dan
tebaran bintang? Siapa yang berada di balik padang pasir yang panas terbakar kilauan
matahari? Siapa pencipta langit yang jernih dan indah, langit yang bermandi cahaya bulan
dan bintang yang begitu lembut, begitu sejuk? Siapa pembuat ombak yang berdebur dan
penggali laut yang begitu dalam? Siapa yang berada di balik semua keindahan ini?"
Demikianlah Muhammad tidak mencari kebenaran dalam kisah-kisah lama atau tulisan para
pendeta. Ia mencari kebenaran lewat alam. Ia mengasingkan dirinya dari keramaian dan
pergi ke Gua Hira.
"Betapa sia-sianya hidup manusia, waktu terus berlalu, sementara jiwa-jiwa rusak karena
dikuasai khayal tentang berhala-berhala yang mampu melakukan ini dan itu. Betapa siasianya
sianya hidup manusia karena tertipu dengan segala macam kemewahan yang tiada
berguna.'"
Beliau mengasingkan diri seperti itu beberapa hari setiap bulan dan sepanjang bulan
Ramadhan. Semakin lama, jiwanya semakin matang dan semakin terisi penuh. Sampai suatu
ketika, saat usia Muhammad menginjak 40 tahun, datanglah seseorang yang bukan dari
dunia ini menemui beliau di Gua Hira. Muhammad yang pemberani dan tenang itu amat
terkejut melihatnya.
Bagian 26
Diangkat Menjadi Utusan Allah
Makhluk yang datang itu adalah Malaikat Jibril. Ia datang membangunkan Muhammad yang
sedang tidur karena kelelahan. Jibril berkata kepada Muhammad, "Iqra (Bacalah)!"
Dengan hati yang masih rasa terkejut, Muhammad menjawab, "Apa yang harus saya baca."
Kemudian Malaikat Jibril mendekap sehingga Muhammad merasa lemas. Jibril melepaskan
dekapannya, lalu berkata lagi, "Bacalah!"
Kejadian itu berulang sampai tiga kali. Kemudian, setelah Muhammad berkata, "Apa yang
harus saya baca?" barulah Jibril membacakan Surat Al 'Alaq ayat pertama hingga ayat
kelima:
ﻖﻠﺧ يﺬﻟا ﻚر ﻢﺳﺎ أﺮﻗا
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan,
Surah Al-'Alaq (96:1)
ﻖﻠﻋ ﻦﻣ نﺎﺴ
ﻹا ﻖﻠﺧ
Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
Surah Al-'Alaq (96:2)
مﺮ
ﻷا ﻚرو أﺮﻗا
Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah,
Surah Al-'Alaq (96:3)
ﻢﻠﻘﻟﺎ ﻢﻠﻋ يﺬﻟا
Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam,
Surah Al-'Alaq (96:4)
ﻢﻠﻌ ﻢﻟ ﺎﻣ نﺎﺴ
ﻹا ﻢﻠﻋ
Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
Surah Al-'Alaq (96:5)
Setelah mengucapkan ayat-ayat itu, Malaikat Jibril pun pergi meninggalkan Muhammad
yang hatinya terhujam oleh firman Allah tadi.
Muhammad mendadak tersentak sadar. Beliau terbangun dari ketakutan sambil bertanya tanya ya dalam hati, "Siapa gerangan yang kulihat tadi? Apakah aku telah diganggu jin?"
Beliau menoleh ke kiri dan ke kanan, tetapi tidak ada siapa pun. Muhammad diam sebentar
dengan tubuh gemetar. Beliau lalu lari ke luar gua, menyusuri celah-celah gunung sambil
mengulang pertanyaan dalam hati, "Siapa gerangan yang menyuruhku membaca tadi?"
Mendadak, Muhammad mendengar namanya dipanggil. Panggilan tersebut terasa dahsyat
sekali. Beliau memandang ke cakrawala dan melihat malaikat dalam bentuk manusia.
Muhammad tertegun ketakutan dan terpaku di tempatnya. Ia memalingkan wajah, tetapi di
seluruh cakrawala, ke mana pun beliau memandang rupa malaikat yang indah itu tidak juga
berlalu.
Ketulusan Khadijah
Di rumah, Khadijah tiba-tiba merasa khawatir dengan nasib suaminya. Beliau
mengutus orang untuk mencari suaminya itu, tetapi tidak berhasil menemukannya.
Sementara itu, setelah rupa malaikat menghilang, Muhammad berjalan pulang dengan hati
yang sudah di penuhi wahyu Allah. Dengan jantung yang terus berdenyut keras dan hati
berdebar ketakutan, beliau pulang ke rumah.
"Selimuti aku," pinta Muhammad kepada Khadijah.
Khadijah segera menyelimuti suaminya yang menggigil kedinginan seperti terkena demam.
Setelah rasa takutnya mereda, beliau memandang Khadijah dengan tatapan mata meminta
kekuatan dan perlindungan.
"Khadijah, kenapa aku?" kata Muhammad.
Kemudian, Muhammad menceritakan semua yang telah terjadi. Beliau juga berkata bahwa
ia takut semua itu bukan datang dari Allah, melainkan gangguan jin.
"Wahai putra pamanku," jawab Khadijah penuh sayang, "bergembiralah dan tabahkan
hatimu. Demi Dia yang memegang hidup Khadijah, aku berharap kiranya engkau akan
menjadi nabi atas umat ini. Sama sekali Allah takkan mencemoohkanmu sebab engkaulah
yang mempererat tali kekeluargaan dan jujur dalam berkata-kata. Engkau selalu mau
memikul beban orang lain dan menghormati tamu serta menolong mereka yang dalam
kesulitan atas jalan yang benar."
Kata-kata Khadijah itu menuangkan rasa damai dan tenteram ke dalam hati suaminya yang
sedang gelisah. Khadijah benar-benar yakin bahwa suaminya itu bukan diganggu jin. Beliau
malah memandang suaminya itu dengan penuh rasa hormat.
Muhammad pun segera tenang kembali. Beliau memandang Khadijah dengan penuh kasih
dan rasa terimakasih.
Tiba tiba, sekujur tubuhnya terasa amat letih dan beliau pun tertidur lelap.
Sejak saat itu, berakhirlah kehidupan tentang seorang Muhammad. Mulai saat itu,
kehidupan penuh perjuangan keras dan pahit akan dilaluinya sebagai seorang *Rasulullah,
utusan Allah*.
Kabar dari Waraqah bin Naufal
Khadijah menatap suaminya yang tertidur pulas itu. Dilihatnya kembali suaminya yang
tertidur dengan nyenyak dan tenang sekali. Khadijah membayangkan apa yang baru saja
dituturkan suaminya. Firman Allah dan Malaikat yang indah. Luar biasa!
"Semoga kekasihku ini memang akan menjadi seorang nabi untuk menuntun umat ini keluar
dari kegelapan," demikian pikir Khadijah.
Saat berpikir demikian, senyumnya mengembang. Namun, senyum itu segera menghilang,
berganti rasa takut memenuhi hati tatkala dibayangkan nasib yang bakal menimpa
suaminya itu apabila orang-orang ramai menentangnya.
Demikianlah, pikiran bahagia dan sedih terus berganti-ganti dalam benak Khadijah.
Akhirnya, beliau memutuskan untuk menceritakan hal ini kepada seseorang bijak yang
dipercayanya.
Khadijah pun pergi menemui pamannya, Waraqah bin Naufal, seorang pendeta Nasrani
yang jujur, dan menceritakan semua yang didengarnya dari Muhammad.
Waraqah bertafakur sejenak, lalu berkata, "Mahasuci Ia, Mahasuci. Demi Dia yang
memegang hidup Waraqah. Khadijah, percayalah, suamimu telah menerima 'namus besar'
1) seperti yang pernah diterima Musa. Sungguh, dia adalah nabi umat ini. Katakan
kepadanya supaya tetap tabah."
Khadijah pulang. Dilihatnya suaminya masih tertidur. Dipandanginya suaminya itu dengan
rasa kasih dan penuh ikhlas, bercampur harap dan cemas. Tiba-tiba, tubuh suaminya
menggigil, napasnya terlihat sesak dengan keringat memenuhi wajah.
___________________
1) Namus Besar
Namus besar yang dimaksud Waraqah bin Naufal berasal dari bahasa Yunani, noms, artinya
kitab undang-undang atau kitab suci yang diwahyukan. Namus bukan istilah dalam Al
Qur'an.
Bersambung