KISAH NABI MUHAMMAD #9
Bagian 22
Perasaan Khadijah
Setelah beberapa bulan, kafilah Mekah pun datang kembali. Di tempat perhentian Marr Al
Zahran, sehari perjalanan dari Mekah, para agen biasanya mendahului datang ke Mekah
untuk memberi laporan perdagangan. Muhammad pun demikian. Ia lebih dulu tiba di
Mekah. Namun, sebelum bertemu Khadijah, ia berthåwaf dulu tujuh keliling mengelilingi
Ka'bah.
Dari atas balkonnya yang megah, Khadijah bergegas datang menyambut dan Muhammad
pun melaporkan hasil penjualan, barang yang dibeli, serta berbagai pengalaman kecil dalam
perjalanan. Saat itu, Khadijah sudah sangat terkesan dengan hasil yang diperoleh
Muhammad, tetapi itu belum seberapa. Setelah Muhammad pulang, Maisaråh
menceritakan sendiri kesan-kesannya terhadap Muhammad.
"Sungguh, belum pernah aku melihat pemuda yang demikian sempurna memandang masa
depan. Keputusan-keputusannya selalu tepat dan perkiraannya tidak pernah salah. Ia juga
sangat jujur dan sopan," demikian sebagian kisah Maisaråh.
Khadijah betul-betul sangat terkesan dengan agen barunya itu. Waraqah bin Naufal pun
datang dan mendengar sendiri kisah Maisarah tentang Muhammad. Ada hal yang aneh pada
diri Maisarah. Biasanya, ia sangat menekankan laporannya pada masalah-masalah bisnis.
Akan tetapi, kini persoalan dagang seolah-olah menjadi hal kecil. Yang dibicarakan Maisarah
kali ini hanya tentang Muhammad, Muhammad, dan Muhammad. Padahal, keuntungan
yang mereka dapat kali ini benar-benar luar biasa. Jika dikatakan bahwa Khadijah memiliki
"Sentuhan Emas", tepatlah apabila Muhammad disebut memiliki "Sentuhan penuh berkah".
Ketika Waraqah telah mendengar semua itu, ia tenggelam dalam pemikiran yang sungguhsungguh.
"Mendengar darimu dan dari Maisarah mengenai Muhammad dan juga dari apa yang
kulihat sendiri, aku berpendapat bahwa ia memiliki semua sifat dan kemampuan sebagai
seorang utusan Allah. Mungkin dialah yang ditakdirkan untuk menjadi salah seorang di
antara para rasul pada masa yang akan datang."
Pernikahan Agung
Khadijah memiliki teman seorang wanita bangsawan bernama Nafisah binti Munyah.
Nafisah tahu setelah suami kedua Khadijah meninggal, banyak bangsawan Quraisy yang
melamarnya, namun Khadijah menolak. Nafisah tahu bahwa Khadijah takut semua lamaran
itu hanya bertujuan mengincar hartanya. Lebih dari itu, Nafisah juga tahu bahwa yang
diinginkan Khadijah adalah seorang laki-laki berakhlak agung. Nafisah juga tahu bahwa ada
satu laki-laki yang seperti itu di Mekah, ia adalah Muhammad.
Karena itulah, begitu Khadijah membuka diri kepadanya tentang Muhammad, Nafisah tidak
terkejut lagi. Khadijah meminta Nafisah mencari jalan untuk mengetahui bagaimana
pandangan Muhammad tentang dirinya. Maka, ketika Muhammad dalam perjalanan pulang
dari Ka'bah, Nafisah menghentikannya. Nafisah pun bertanya,
"Wahai Muhammad, Anda telah menjadi seorang pemuda. Banyak lelaki yang lebih muda
dari Anda telah menikah dan beberapa di antaranya bahkan telah mempunyai anak.
Mengapa Anda tidak menikah?"
"Aku belum mampu menikah, ya Nafisah. Aku belum mempunyai kekayaan yang cukup
untuk menikah."
"Apa jawaban Anda jika ada seorang wanita yang cantik, kaya, dan terhormat mau menikah
dengan Anda walaupun Anda belum mampu?"
Muhammad balik bertanya dengan sedikit terperangah,
"Siapakah wanita itu?"
Nafisah tersenyum, "Wanita itu adalah Khadijah putri Khuwailid."
Alis Muhammad tambah terangkat,
"Khadijah? Bagaimana mungkin Khadijah mau menikah denganku? Bukankah Anda tahu
bahwa banyak bangsawan kaya raya dan kepala-kepala suku di Arab ini yang telah
melamarnya dan ia telah menolak mereka semua?"
"Jika Anda mau menikahinya, katakan saja dan serahkan semuanya kepadaku. Aku akan
mengurus semuanya."
Ketika itu Abu Thalib menyetujuinya, Muhammad pun mengiyakan Nafisah. Maka,
pernikahan pun dilangsungkan.
Sebagai pengantin, Muhammad datang didampingi paman-pamannya yang ikut berbahagia.
Perawakan Muhammad
Jarang ada pernikahan dilangsungkan demikian agung. Dalam acara itu, semua pemimpin
Quraisy dan pembesar Mekah diundang. Mempelai laki-laki menunggang kuda yang gagah
diiringi para pemuda Bani Hasyim yang menghunus pedang. Sementara itu, kaum wanita
Bani Hasyim berjalan lebih dulu dan telah diterima di rumah mempelai wanita.
Rumah Khadijah yang megah saat itu telah diterangi cahaya lilin dalam lampion-lampion
yang digantung dengan rantai-rantai emas. Setiap lampion terdiri atas 7 batang lilin.
Semua pembantu Khadijah diberi seragam khusus untuk menyambut para tamu yang
datang menjelang sore hari. Kamar pengantin benar-benar istimewa. Kain sutera dan brokat
digantung begitu serasi. Lantainya tertutup karpet putih dan diharumi dupa dari guci perak.
Khadijah sendiri begitu anggun hingga tampak bercahaya seperti matahari terbit. Ia
mengenakan pakaian pengantin yang sangat indah dan jarang ada duanya saat itu. Abu
Thalib adalah wakil mempelai laki-laki dalam memberi sambutan, sedangkan Waraqah bin
Naufal adalah wakil pengantin wanita.
Tidak ada laki-laki segagah Muhammad. Paras wajahnya tampan dan indah. Perawakannya
sedang, tidak terlampau tinggi, juga tidak pendek. Rambutnya hitam sekali dan
bergelombang. Dahinya lebar dan rata di atas sepasang alis yang lengkung, lebat dan
bertaut. Sepasang matanya lebar dan hitam, di tepi putih matanya agak kemerahan, tampak
lebih menarik dan kuat. Pandangannya tajam dengan bulu mata yang hitam
pekat. Hidungnya halus dengan barisan gigi yang bercelah-celah.
Cambangnya lebar, berleher jenjang, dan indah. Dadanya lebar dengan kedua bahu yang
bidang. Warna kulitnya terang dan jernih dengan kedua telapak tangan dan kaki yang tebal.
Jika berjalan, badannya agak condong ke depan, melangkah cepat-cepat, dan pasti. Air
mukanya membayangkan renungan dan penuh pikiran, pandangan matanya menunjukkan
kewibawaan, membuat orang patuh kepadanya.
Bagian 23
Sifat Muhammad
Muhammad telah mendapat karunia Allah dengan pernikahan ini. Dari seorang pemuda
tidak kaya, Allah telah mengangkatnya menjadi laki-laki berkedudukan tinggi dengan harta
yang mencukupi.
Seluruh penduduk Mekah memandang pernikahan ini dengan gembira dan penuh rasa
hormat. Semua undangan yang hadir berharap bahwa dari pasangan yang sangat ideal ini
kelak lahir keturunan yang akan mengharumkan nama Quraisy.
Para sesepuh dari kedua keluarga tahu bahwa Khadijah akan mendukung suaminya dengan
kasih sayang dan harta berlimpah. Sebaliknya, mereka juga berharap bahwa Muhammad
yang bijak dan cerdas akan membimbing istrinya menuju kebahagiaan hidup.
Kehidupan berlanjut dan keikutsertaan suami istri itu dalam pergaulan yang baik dengan
masyarakat membuat orang semakin menghormati mereka. Walau telah mendapat
kehormatan demikian itu, Muhammad tetaplah seorang yang rendah hati. Itu adalah
sifatnya yang menonjol. Jika ada yang mengajaknya berbicara, tidak peduli siapa pun itu, ia
akan mendengarkan dengan penuh perhatian tanpa menoleh kepada orang lain. Tidak saja
mendengarkan dengan hati-hati, Muhammad bahkan memutar badannya untuk menghadap
orang yang mengajaknya berbicara.
Semua orang tahu bahwa bicara Muhammad sedikit. Ia justru lebih banyak mendengarkan
pembicaraan orang lain. Selain bicara, Muhammad bukanlah orang yang tidak bisa diajak
bergurau. Ia sering juga membuat humor dan mengajak orang lain tertawa, tetapi apa yang
ia katakan dalam bergurau sekali pun adalah sesuatu yang benar.
Orang menyukai Muhammad yang apabila tertawa, tidak pernah sampai terlihat
gerahamnya. Apabila marah, tidak pernah sampai tampak kemarahannya. Orang tahu ia
marah hanya dari keringat yang tiba-tiba muncul di keningnya. Muhammad selalu menahan
marah dan tidak menampakkannya keluar.
Orang-orang menyayangi Muhammad karena ia lapang dada, berkemauan baik, dan
menghargai orang lain. Ia bijaksana, murah hati, dan sangat mudah bergaul dengan siapa
saja. Namun, dibalik semua kelembutan itu, ia mempunyai tujuan yang pasti, berkemauan
keras, tegas, dan tidak pernah ragu-ragu dalam tujuannya. Sifat-sifat demikian berpadu
dalam dirinya sehingga menimbulkan rasa hormat yang dalam bagi orang-orang yang
bergaul dengan Muhammad.
Mahar Pernikahan
"Saksikanlah para hadirin," kata Waraqah bin Naufal dengan suara agak keras. "Saksikanlah
bahwa aku menikahkan Khadijah dengan Muhammad, dengan mas kawin senilai 12 ekor
unta betina."
Kambing Sedekah
Setelah upacara resmi pernikahan selesai, Muhammad memerintahkan agar seekor kambing
disembelih di depan pintu rumah Khadijah dan membagikan dagingnya kepada fakir miskin.
Itu belum termasuk para undangan yang menghadiri jamuan pada malam harinya.
Jadi, selain diundang jamuan makan, fakir miskin pun dapat membawa pulang ke rumah
beberapa kantung daging.
Baqum Si Pedagang Romawi
Muhammad bukankah orang yang suka berpangku tangan, tetapi aktif bergaul dalam
masyarakat. Suatu hari terjadilah sebuah peristiwa yang membuat nama Muhammad
menjadi semakin harum. Peristiwa itu didahului oleh banjir besar yang melanda Mekah.
Bukit-bukit di sekitar Mekah tanpa ampun menumpahkan air hujan yang jarang turun itu ke
kota yang tepat berada di bawah. Banjir itu menyebabkan dinding Ka'bah yang memang
sudah lapuk jadi retak dan terancam runtuh.
Sebenarnya, sebelum banjir tiba, sudah ada gagasan untuk memperbaiki Ka'bah, tetapi
orang-orang takut apabila Tuhan Ka'bah marah. Setelah banjir, tidak bisa dielakkan lagi
bahwa dinding Ka'bah harus diperbaiki dan ditinggikan.
Sudah menjadi takdir Allah bahwa waktu itu juga tersiar berita ada sebuah kapal Romawi
terdampar di laut Merah, dekat dengan pelabuhan Syu'aibah. Kapten kapal Romawi itu
adalah seorang Nasrani yang berasal dari Mesir. Baqum, namanya.
Orang-orang Mekah mengutus Walid bin Mughirah dan serombongan orang untuk membeli
kapal itu, membongkar kayu kayunya, dan mengangkutnya untuk membangun kembali
Ka'bah. Baqum pun akhirnya dikontrak sebagai ahli kayu.
Pada mulanya, tidak seorang pun berani membongkar dinding Ka'bah walau sedikit, karena
takut dikutuk Tuhan. Mungkin mereka masih ingat dengan jelas apa yang menimpa Abrahah
dan pasukan gajahnya saat ingin menghancurkan Ka'bah.
Akan tetapi, akhirnya, Walid bin Mughirah memberanikan diri merombak sudut bangunan
bagian selatan. Setelah itu, ia menunggu sampai besok. Ketika pagi tiba dan ia tidak juga
dikutuk, mereka pun mulai melakukan pembenahan Ka'bah.
Bersambung